Endless

Endless
Endless Extra bab



"Hai Paris."


"Hai, Andrea. Bagaimana kabarmu, apa kandunganmu baik-baik saja?" Paris sedikit lebih bertanya karena tahu kondisi Andrea sebelumnya.


"Tentu saja, kau tidak perlu sekhawatir itu Paris. Kau terlihat seperti seorang ibu mertua yang menanyakan kabar menantunya," ketus Andrea.


Paris terkekeh, dokter cantik itu merasa lucu dengan ucapan Andrea. "Aku hanya ingin kau dan bayi mu sehat sampai lahiran nanti. Lihatlah, baby boy ku menendang karena pasangan cantiknya ada di sini." Paris mengelus perutnya yang sama buncitnya dengan Andrea.


"Kau benar!" Mata Andrea tiba-tiba melebar. Ia baru saja memikirkan ide lucu untuk kedua calon bayi itu. "Bagaimana kalau kita jodohkan saja bayi kita, pasti akan seru. Aku putuskan kau adalah calon besanku," ujar Andrea dengan wajah sumringah.


"Jangan aneh-aneh Nona An. Aku dan Malvin afalah saudarah sedarah. Mana mungkin anak kita di jodohkan. Mereka akan menjadi adik dan kaka. itu yang semestinya." Zigo melirik istrinya yang menggeleng agar mulut suaminya bisa sedikit selow. Dengan Isyarat, Zigo mengunci bibirnya memberitahu kepada Paris jika ia tidak akan mengatakan apa-apa lagi.


"Di mana suami mu, kenapa dia tidak mengantarmu? tanya Zigo saat tidak mendapati sosok pria yang selalu terlihat bersama Andrea.


"Dia sedang ke kamar mandi, sebentar lagi akan di sini."


Sedetik setelahnya Malvin melangkah mendekati tiga orang yang sedang membicarakannya. Dengan gaya khasnya yang dingin, dia mendekati kekasih hatinya dengan merangkulkan tangan pada lengannya. "Apa sudah?" tanya Malvin mengelus lembut pada bahu Andrea.


"Belum Sayang. Setelah ini Paris akan masuk baru kemudian aku. Banyak Pasien yang ingin memeriksa kandungan hari ini, kita harus sedikit menunggu," jawab Andrea dengan pelan.


"Apa?" Malvin berseru keras. "Bagaiman bisa kau menunggu, apa mereka tidak tahu siapa aku?"


"Hei ... hei ... hei. Mr Mafia!" Andrea menahan lengan suaminya yang hendak menemui doktek kandungannya. "Aku tidak suka mengandalkan jabatan untuk urusan pribadiku. Bukan hanya aku yang membutuhkan pemeriksaan tapi banyak wanita-wanita yang lain. Dan sebagai warga negara Italia yang taat aturan, kita harus menunggu giliran Sayang. Jangan selalu mengandalkan kekuasaanmu itu untuk menindas orang lain, mereka juga butuh keadailan."


Zigo hampir saja tergelak mendengar Andrea yang menasihati Malvin. Mengingat bagaimana jahatnya pria dingin itu, dia adalah pimpinan Klan Mafia Dio dela morte. Bisa-bisanya dia di taklukan oleh seorang wanita keras kepala seperti Andrea. Cinta membuat semua orang menjadi lunak termasuk dirinya.


"Baby bag--"


"Jika kau berfikir bisa menerobos antrian, maka lebih baik pergilah. Jangan membuat keributan di sini." Kedua wanita itu mengangkat dagu tegak menatap dua pria di hadapan mereka.


Zigo yang bingung dengan sikap istrinya memiringkan sedikit kepalanya. "Baby, bukankah seharusnya kau bertanya dulu apa yang ingin aku katakan?"


Paris melirik ke arah suaminya. "Memangnya apalagi yang ingin kau katakan, bukankah kau ingin aku segera menerobos antrian? Karena aku adalah seorang dokter jadi sangat mudah jika melakukan itu, itu kan yang ingin kau katakan suamiku?"


"Oh God! Aku hanya ingin meminta mu duduk, perutmu besar, jika terus berdiri akan membuat kakimu lelah." Zigo membuang napas kasar. "Ini akibatnya jika kau terlalu sering bergaul dengan Andrea, pikiranmu sama persis dengannya."


"What?" Malvin mencengkeram leher baju saudaranya. "Jadi kau pikir istriku adalah wanita pembuat onar, istrimu yang mengatakan itu, kenapa kau malah menuduh istriku."


"Sayang, ini di rumah sakit. Hentikan! Apa yang sedang kalian lakukan." Andrea menarik tangan suaminya agar menjauh dari leher Zigo. "Hentikan, kalian terlihat sangat kekanak-kanakan."


"Suamimu, bukan aku."


"Kau ...."


"Malvin." Andrea berdiri di tengah kedua pria itu, berusaha melerai. "Semua orang sedang menatap kalian saat ini, apa kalian tidak malu. Pria dewasa yang katanya adalah klan Mafia, kenapa kalian berkelahi seperti anak kecil."


"Aku membelamu Sayang."


"Dan aku menjaga istriku."


"Hentikan! Hentikan! Hentikan!" Andrea begitu kesal. Namun, dengan begitu dia tidak berteriak malah berbisik. Padahal, seharusnya, kalimat itu cocok jika di gunakan dengan nada tinggi.


"Semoga Tuhan menganugerahi anak-anak yang tidak keras kepala seperti kalian." Andrea mendesah dengan napas terengah-engah. Kini tiba gilirannya dengan Paris, kedua wanita itu memang selalu melakukan pemeriksaan berbarengan. Tanpa berkata lagi, Paris dan Andrea melangkah masuk meninggalkan dua pria yang tertunduk menyadari perbuatan mereka.