
Andrea dan Malvin berada di ballroom salah satu hotel milik keluarga Louis. Mereka menggunakan vasilitas yang di sediakan oleh Saudara seperguruannya yaitu Louis Zigo. Pria dengan jukulan predator itu memberikan hadia pernikahan dengan menyediakan segalanya di hotel mewah miliknya.
Cantiknya Andrea, sejenak membisukan dunia Malvin. Wanita itu muncul dengan langkah yang begitu anggun dengan gaun putih yang melekat pada tubuhnya yang mulai berisi. Meski gaun yang di gunakan Andrea terlihat polos. Namun, sangat elegan dan pas dengan pembawaannya. Makeup tiois yang terkesan alami membuat wanita itu terlihat sangat mempesona.
Andrea datang di temani dua wanita yang tidak kalah cantik dan mempesona. Siapa lagi kalau bukan Marisa dan Paris. Hal pertama yang di lakukan wanita itu adalah menatap manik hitam yang seperti kebingungan, lalu menggenggam jemarinya erat, agar pria yang sangat tampan bisa meredahkan ketegangannya.
"Apa kau gugup?" tanya Andrea.
Malvin tidak menjawab. Ia tersenyum menatap kekasihnya yang begitu cantik dengan gaun pilihannya. "Kau sangat cantik, itu yang membuatku gugup." Mata hitam Malvin berkilau oleh kebahagiaan. Akhirnya, tiba saat dimana dia akan memiliki Andrea. Dan sebentar lagi putrinya juga akan lahir, itu akan semakin melengkapkan kebahagiannya.
"Apa kau sedang merayuku Signore Malvin Alexander?"
Malvin terkekeh, pria bermata kelam itu memberikan ciuman singkat pada bibir ranum Andrea. "Aku mencintaimu."
Andrea berkerut dahi melihat raut wajah Malvin, pria itu terlihat seperti sedang gelisah. pria yang baru saja "Ada apa? Kau terlihat gelisah.
Malvin menggeleng, dia kembali meraih jemari kekasihnya, dan menciumnya berulang kali, hingga membuat Andrea yang awalnya muram menjadi tersenyum geli.
"Hentikan! Itu menggelikan."
"Bagaimana kalau kita berdansa?"
"Aah ...." Andrea memekik kaget saat Malvin meraih pinggangnya. Andrea lalu memeluk pria di hadapannya dengan erat. Bergerak pelan seirama mengikuti musik.
"Tetaplah bersamaku, aku membutuhkanmu untuk berada di sampingku dalam waktu yang cukup lama. Jangan pernah meninggalkanku Malvin."
"Ini adalah hari bahagia, kenapa kau malah memikirkan hal semacam itu?"
Andrea menengadah, menatap kekasihnya dengan intens. "Aku melihat kegelisahan di matamu. Itu cukup jelas. Katakan, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?"
Malvin tidak menjawab. Ia tersenyum menatap kekasihnya. Sudah katakan, itu karena kecantikanmu. Aku hanya sedikit gugup Sayang."
"Tentu saja," ujar Malvin sambil mengecup kembali bibir kekasihnya."
"Ku rasa ini adalah pernikahan luar biasa yang terjadi di Italia sepanjang masa ini," ucap Zigo melihat adegan yang cukup mencengangkan.
"Tentu saja. Siapa yang akan menggira jika seorang Mafia dingin dan kaku yang hidupnya hanya memburu musuh bisa jatuh cinta dan menjadi manusia lembek seperti dia ini." Demetrio meninju bahu sahabatnya dengan pelan.
"Hei!"Malvin menyela cepat. "Bukankah itu terdengar seperti dirimu kawan."
Dia mengakhiri dansanya bersama Andrea dan bergabung bersama Zigo dan yang lain.
Zigo langsung memecah suasana dengan tawanya menggodanya yang terdengar khas. "Dingin dan kaku, itu adalah daya tarik khas dari seorang Mafia. Jika kalian berdua memilikinya, lalu apa yang salah. Dasar aneh!"
Paris menghela napas dengan panjang lalu membuangnya kasar. "Ada apa dengan pria-pria ini, bahkan hari bahagia seperti ini masih saja bertengkar."
"Entahla, apa mungkin karena kita yang tidak menarik? Mereka selalu saja memperdebatkan hal-hal sepeleh," tambah Marisa mendengus dengan bibir yang di buat manyun.
"Hentikan!" teriak Andrea dengan sangat keras, ketiga pria yang sedang berdebat juga dua wanita yang baru saja mengeluh itu langsung terhentak kaget berbalik menatap Andrea. "Apa kalian tidak bisa mengatakan hal-hal baik, atau mungkin saling memuji penampilan kalian sekarang?" Mata nyalang Andrea sontak membuat Malvin menelan ludah dengan susah.
"Kau!" tunjuk Andrea pada kekasihnya. "Lihat, aku bahkan sangat cantik dengan gaun pilihanmu. Lalu, sedang apa kalian berdebat di situ. Harusnya kalian memuji kecantikanku bukan malah memperdebatkan siapa yang kaku dan dingin di sini!"
"Sayang .... Te-tenanglah! Jangan berteriak seperti itu, orang-orang sedang melihat ke arah kita."
Andrea berdecak dengan menaikan sudut bibirnya. "Benar, mereka sedang melihat ke arah kita. Maka seharusnya kalian tidak bertengkar, gandeng pasangan kalian masing-masing dan kunci rapat bibir kalian sampai acara di mulai."
"Oh God! Istrimu ternyata lebih seram dari pada yang aku kira," bisik Zigo yang berdiri di samping Malvin."
"Itu hanya hormon kehamilan, dia adalah wanita yang manis sebelumnya. Aku berharap putriku nanti akan secantik dan setegar ibunya," ujar Malvin dengan raut wajah penuh kekaguman.