Endless

Endless
Endless Three



Dua hari yang lalu Lou masih terbaring di rumah sakit, hari ini perdana Lou kembali ke sekolah. Selama tidak sekolah Lou berada di rumah Ibu, ia tidak pulang sama sekali karena kedua orangtuanya berada di luar kota. Lou tidak gila untuk pulang kerumah saat hanya ada Helen dan Gravin saja dirumah, ia bisa mati jika disana.


Alaska menjemput Lou tadi pagi, lelaki itu juga mengambil seragam sekolah dan keperluan lainnya dirumah. Karena hanya Alaska yang bisa berbuat sesukanya pada Helen, lelaki itu bahkan tak segan menyuruh Helen. Entah mengapa Helen sangat tunduk pada lelaki itu, tapi apa peduli Lou.


Mereka datang bersama yang tentunya bukan hal baru lagi.


"Datang juga lo, uang kas bayar. Udah satu bulan lo nunggak" Bendahara kelas mereka sudah menghampiri bahkan sebelum Lou sempat duduk di kursinya.


"Perasaan gue udah bayar tiga minggu belakang, harusnya gue bayar buat satu minggu belakang sama minggu ini" Protes Lou tak terima.


Bendahara itu melempar buku catatannya di atas meja Lou "Nggak ada tuh di catatan gue" Sinisnya.


"Tapi gue udah bayar"


"Ya mana gue-"


"Sopan lo kayak gitu" Alaska geram, sejak tadi ia hanya diam menyaksikan tingkat gadis itu pada Lou.


"Gue cuman jalanin kewajiban gue" Ungkapnya terdengar menyebalkan.


Alaska menyaut buku itu, ditatapnya lama membuat satu kelas tegang "Kenapa lo cuman nagih dia, yang lain juga nunggak. Athar belum bayar dua bulan, kenapa lo nggak nagih dia aja" Telaknya.


Lou menghela nafas lelah, mengeluarkan uang berwarna hijau dari sakunya "Gue bayar minggu ini sama kemaren, untuk tiga minggu lagi gue nggak mau tanggung jawab. Gue udah bayar sebelumnya" Katanya menenangkan sedikit suasana tegang.


"Dia udah bayar, catat bego" Alaska siap melayangkan tangannya pada gadis di hadapannya saat ini.


"Gue nggak mau tahu lo harus-"


"Perlu banget gue pukul kepala lo biar ngerti bahasa manusia, dia udah bayar dan lo masih nagih. Gila lo" Geramnya.


"Ya tetap aja, gue punya catatan. Kalau nama dia nggak ada ya dia pasti belum-"


"Diam anjing!!" Alaska memukul meja dengan keras.


Lou meraih tangan lelaki itu "Udah" Katanya menenangkan. Tatapan Lou beralih pada bendahara kelasnya itu "Gue bayar sama lo waktu kita di toilet, nggak mungkin kan lo yang makan duit itu. Itu nggak seberapa buat lo" Telaknya membuat bendahara itu berlalu darinya.


"Nggak usah marah-marah gitu bisa nggak sih? Masih pagi loh"


Alaska menghela nafas kasar, kembali mendudukan dirinya di kursinya "Gue emosi, bisa-bisanya ada orang kayak dia. Muak tahu nggak" Katanya dengan sedikit emosi.


"Marah sama gue juga nggak?"


Tatapan Alaska kini lurus pada Lou "Nggak" Katanya.


Lou terkekeh pelan, ia menarik kursinya mendekat pada Alaska "Kata Ibu lo tuh terlalu galak tahu nggak".


"Ibu ngomong gitu?" Tanya Alaska setengah tak percaya, Lou itu suka berbohong padanya.


"Iya. Jangan galak-galak nanti nggak ada yang mau sama lo".


Alaska mendengus, sudah ia duga gadis itu berbohong " Kalau gue punya pacar nanti nggak ada yang jaga lo"katanya mengelus pelan rambut Lou.


Lou tersenyum kecil, mengambil tangan Alaska dari kepalanya "Pacaran sama gue aja gimana?".


Dan semua itu tak luput dari pandangan satu kelas, bagaimana Alaska tertawa dan tersenyum pada Lou. Tutur kata lembut tanpa kemarahan, hanya gadis itu yang bisa. Sekeras-kerasnya Alaska, lelaki itu tidak pernah meninggikan nda bicaranya pada Lou. Lelaki itu hanya bisa bersikap lembut dengan ucapan maupun tindakannya.


...


Siang ini, tepatnya istirahat kedua dimulai. Alaska sedang berada di kantin bersama teman-temannya, tanpa Lou tentunya. Gadis itu sedang pergi ke perpustakaan bersama teman sekelas mereka.


Alaska fokus dengan ponselnya, tidak menyadari kehadiran seorang gadis yang kini duduk di dekatnya. Siulan menggoda dari teman-temannya terdengar membuat ia mengangkat pandangan. Menemukan Anin di dekatnya.


"Halo Alaska" Gadis itu menyapanya.


Rasanya bukan rahasia umum lagi jika gadis itu terang-terangan menyukai Alaska. Tapi semua orang juga tahu siapa yang diinginkan Alaska.


"Ngapain lo disini?" Tanyanya.


"Terima aja nggak sih Ka, kalian juga pernah satu SD" Heka tertawa.


Alaska mendengus kesal, ia tidak membalas Anin karena matanya sekarang terpaku pada gadis yang baru saja memasuki kantin. Gadis itu melambaikan tangan kearahnya, membuat Alaska tersenyum dan melakukan hal yang sama.


Teman-teman Alaska tentu sadar dengan hal itu pun mengalihkan tatapan, menatap pada seorang gadis yang tengah berada di stand jus. Mereka semua mendengus kecil melihat perubahan Alaska.


Dari kejauhan Lou terkekeh kecil melihat Alaska yang didekati Anin. Gadis itu tidak ada lelahnya mendekati Alaska.


Lou mengambil jus jeruknya setalah membayar, melangkah menuju Alaska hingga berhenti di samping lelaki itu. Menyapa Anin yang membalas sapaannya.


"Harusnya lo nggak datang dulu Lou, padahal lagu seru-serunya" Celetuk Heka.


"Ulang kalau gitu" Lou hendak melangkah sebelum Alaska meraih lengannya, Lou terkekeh kecil "Bercanda, serius banget" Katanya.


"Udah makan?"


Lou mendengus "Nggak ingat gue makan sama lo" Katanya.


Cukup sudah, semua orang pura-pura tidak melihat saja. Anin sudah pergi setelah ia menyapa Lou tadi, siapa yang kuat melihat orang yang disukai dekat dengan gadis lain.


"Harusnya kalian berdua pacaran aja Lou" Celetuk Heka diikuti sorakan yang lain.


"Lo dukung semua aja Ka, tadi Anin sekarang Lou" Celetuk salah seorang disana.


Lou menggeleng pelan, ia meletakkan minumannya di atas meja dan menjatuhkan dirinya pada kurasi yang tadi diduduki Anin. Membuka ponselnya dan mengarahkan pada Alaska.


"Mampir rumah ibu ya, mau cookies" Pintanya pada Alaska.


Alaska mengangguk, tangannya diam-diam mengambil jus milik Lou yang ada diatas meja "Jeruk?" Tanyanya.


"Iya"


"Ganti mangga aja lain kali, terlalu asam" Katanya.


...


Tadi mereka kerumah Ibu tapi wanita itu sedang pergi keluar kota, jadi Lou hanya mengambil cookies disana. Tentunya sudah izin pada ibu terlebih dahulu.


Mereka terjebak di kamar Lou, setelah amukan Lou pada Helen dan Gravin. Gadis itu kesal karena ada yang memasuki kamarnya. Sekarang mereka menonton televisi yang sedang menayangkan film kesukaan Lou.


Tangled.


Siapa yang tidak tahu film satu itu. Lou suka Rapunzel meski ia tidak suka dengan Flynn rider yang memotong rambut Rapunzel diakhir film.


"Gue mau rambut panjang kayak dia" Ucapnya pada Alaska yang sejak tadi sibuk memilin rambutnya.


"Kenapa pengen rambut gitu, gue nggak suka warnanya".


Lou mengelus rambutnya " Rambut gue tipis. Papa sering tarik sampai rontok"ungkapnya.


Alaska menghentikan kegiatannya, ia menarik gadis itu kedalam dekapannya. Mengelus bahu gadis itu menenangkan. Tahu sekali jika hal ini akan terjadi.


Setiap menonton hal yang sama mereka pasti akan berakhir dengan hal yang sama. Lou sering mengadukan hal ini, tapi Alaska tidak bisa menghentikan semuanya. Mereka hanya dua orang remaja yang menjadi korban kejamnya dunia.


"Mau beli rambut Rapunzel nggak? Nanti gue beliin kalau mau" Alaska berucap serius membuat Lou tertawa dibuatnya.


Gadis itu menempelkan pipinya pada dada Alaska dengan pandangan keatas, meraba rahang lelaki itu dengan lembut "Kok bisa sih punya rahang gini?" Tanyanya.


Alaska mengambil tangan Lou, membawa tangan gadis itu untuk disatukan dengan tangannya "Kenapa tangan lo kecil?".


"Karena gue kecil".


Alaska menggeleng "Salah, supaya tangan lo pas buat gue genggam".


...