
"Kapan kalian akan ke puelba?"
"Besok pagi."
"Apa kau butuh bantuanku? Maksudku, untuk berbicara dengan Ayahnya."
"Demetrio bisa melakukannya."
"Baiklah," ujarnya tersenyum masam sedikit tidak rela jika hanya Demetrio yang dia bawah. Akhirnya dia kembali bertanya. "Tapi Apa aku boleh ikut?"
Demetrio menggelengkan kepalanya. "Apa kau berencana ingin menghancurkan pernikahan saudaramu? Kau itu pengganggu, mana tahu di sana kau mengatakan hal-hal aneh. Tidak aku tidak akan mengijinkanmu untuk ikut."
Zigo mencibir. Sorot matanya tiba-tiba berubah menjadi tajam. "Memangnya siapa kau! aku bertanya kepada Malvin bukan kepadamu."
Malvin menghentikan Zigo yang hendak berdiri menghampiri Demetrio. "Hentikan Zigo! Ini Mansionku , bersikap baiklah atau kau benar-benar tidak ku ijinkan untuk berada di sini."
Pria itu mengutuk ke arah Demetrio yang hanya tersenyum menatapnya. "Awas kau!" Zigo menghentakan kaki dan melangkah pergi dengan mulut yang tiada hentinya mengumpat.
"Apa kalian masih berseteru?" tanya Malvin melihat bagaimana sikap Zigo kepada sahabatnya. Ia tahu cerita sebenarnya tentang permusuhan Demetrio dan Zigo, hanya saja dia tidak tahu jika ini masih berlanjut.
Demetrio menggeleng, "Entahlah. aku sudah melupakannya. Kau tahu bukan, saudaramu itu sangat aneh, dia tidak akan melupakan dendamnya kepadaku."
****
Sementara itu. Andrea dan Garilla sedang merapikan perlengkapan yang akan di bawa ke Puelba. Andrea terlihat sangat bahagia, sedari tadi bibir tipisnya tidak berhenti menyunggingkan senyum. Tentu saja ini bukan karena dia yang akan segera di lamar. Namun, karena sudah cukup lama dia merindukan kota kelahiranya itu, tentu saja juga rindu untuk Ayah dan juga ibu sambungnya karena sudah 1 bulan ini dia berada di Verona.
"Berapa lama kalian akan di sana?"
"Mungkin sepekan. Tergantung bagaimana reaksi ayahku dan Dayla."
Garilla meraih tangan Andrea dan mengelus di sana. "Aku berharap bisa menemanimu di sana."
"Apa yang kau ceritakan?"
"Kau tahu Sayang, aku tidak bisa meninggalkan Mansion ataupun Italia. Banyak tugas yang harus aku tangani saat Demetrio tidak ada, dan anak-anak ku juga membutuhkanku di sini."
"Oh astaga! Kau benar, Dera dan Exel akan memarahi jika aku membawa ibunya yg berharga ini sepekan."
"Baiklah, Sayang. Semuanya sudah siap. Istirahatla lebih awal. Ingat kehamilanmu masih sangat mudah, kalian tidak boleh melakukannya Andrea. Katakan pada Signore untuk sedikit menahannya."
Andrea seketika menjadi canggung. "Ka-kami tidak melakukan apapun Garilla, kau tenang saja," ujarnya tersenyum tipis. Dia akan mendegarkan semua peringatan Garilla, wanita tua itu sudah memiliki 4 anak, tentu saja dia sangat berpengalam soal kehamilan. Dia juga berniat akan mengatakan itu kepada Malvin, agar tidak lagi mengulangi hal seperti tadi siang. Ketukan pintu menghentikan percakapan kedua wanita itu. Andrea menoleh ke arah sumber suara.
"Apa kalian sudah selesai?"
"Si," jawab Garilla sedikit membungkuk. "Aku akan kembali bekerja. Selamat istirahat, Signore, Signora."
Wanita itu pun keluar meninggalkan kedua majikannya. Waktu sudah mulai sore, mereka harus beristirahat menyiapkan kondisi untuk perjalanan besok yang memang cukup panjang.
"Kau lelah?" Malvin mengulurkan tangan meraih jemari kekasihnya membawa tubuh Andrea ke dalam pelukannya.
"Tidak."
Andrea menengadah, menatap lamat wajah tampan kekasihnya. "Jangan gugup jika berhadapan dengan Ayahku nanti. Kau harus menjadi pria kejam agar dia takut dan langsung menyutujui pernikahan kita."
Malvin membeliak. Ia mengecup sekilas bibir Andrea. "Kau seharusnya mengajari ku hal yang baik Sayang."
Andrea terkekeh, ia menatap gemas pada raut wajah kekasihnya. "Aku mencintaimu."
Malvin membalas tatapan kekasihnya, lembut dan menyorot langsung pada mata Andrea. Batinnya berulang kali Mengucap syukur atas apa yang Tuhan berikan padanya sekarang. Kebahagiaan yang tak terkira datang setelah patah hati yang hampir mengambil setengah jiwanya. Malvin kembali memeluk Andrea, memberikan kecupan berulang kali pada puncak kepalanya.
"Aku pun sangat dan sangat mencintaimu Andrea."