
Tok ... tok ... tok ....
"Signore, apa kau di dalam?"
Andrea berteriak, memastikan jika pria bermata hitam itu ada di dalam kamarnya.
"Masuklah!"
Wanita berambut panjang itu mendorong pintu yang tutupnya tidak di rapatkan. Dia tahu, Malvin sengaja membiarkan seperti itu agar dia tidak susah membuka pintu dengan nampan yang dia bawah. Dalam diam, Andrea tersenyum di dalm hatinya saat Malvin memperhatikan dan baik pada dirinya. Dan itu membuat Andrea merasa terharu.
"Signore?" Andrea kembali memanggil saat matanya tidak menemukan sosok Malvin di dalam kamar.
Malvin keluar dari Walk in kloset dengan hanya menggenakan celana sport hitam pendek tanpa baju.Tatapan Malvin terpaku pada wanita yang ada di depannya, lalu terfokus pada kaki Andrea yang sedikit tergores.
Andrea terhentak kaget, Malvin berdiri tepat di hadapannya. Apalagi tatapan dinginnya itu, membuat Andrea merasakan hawa tidak baik seketika. "Garilla berpesan agar kau memakan Pancake ini sebelum yang lain Signore."
"Apa kau tidak bisa menjaga dirimu dengan baik."
"Maksudmu?" Andrea bertanya dengan wajah tidak mengerti.
Tanpa basa basi Malvin menggendong tubuh Andrea dan mendudukannya pada sofa yang terdapat di kamar besar yang di dominasi warna hitam itu. Wanita itu mendesah pelan saat Malvin mendudukinya dengan kasar.
"Signore?"
"Hmmm."
"Apa kau baik-baik saja?"
"Tidak!" Malvin menahan tangan Andrea yang hendak menyentuhnya. "Aku akan memberikan sedikit salap agar tidak infeksi, sepertinya ini terkena semak-semak."
"Semak-semak itu lagi."
"Grazie," ucapnya saat Malvin selesai mengolesi obat.
Andrea hendak keluar karena merasa aneh dengan sikap Malvin. Namun, saat hendak melangkah, kening Andrea berkerut akibat Malvin yang menahan lengannya. Raut wajah penuh tanya Andrea membuat Malvin melanjutkan. "Apa artinya dua gelas dengan 3 menu itu, apa ada yang ingin ikut makan bersamaku?"
"Aku tidak tahu, Signore. Garilla hanya --- Aaaw." Andrea menjerit kaget saat Malvin menariknya dan memaksa dia untuk duduk.
"Temani aku makan, bukankah itu tujuanmu dengan membawa dua gelas air ini."
Tentu saja itu membuat Andrea terkejut. "Denganku?"
"Memangnya siapa lagi yang berani mempermainkan ku selain kamu."
Kalimat itu membuat Andrea tidak dapat berkata-kata selain diam dan kaku. "Aku benar-benar minta maaf jika membuatmu tidak nyaman." Andrea berdiri, lalu sedikit membungkuk memberi hormat kepada majikannya. Dia ingin segera pergi karena kesal. Akan tetapi, lagi-lagi Malvin mecekalnya. Andrea tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya, berbeda dengan pria bermanik hitam yang menatapnya dengan tajam.
"Kau ingin pergi?"
"Signore, itu sakit" ucapnya dengan napas yang memburu.
Kini, wanita bermata abu-abu itu kembali mendengar suara keras terdengar dari piring yang berhamburan. Malvin menedang meja yang di atasnya terdapat makanan yang baru saja Andrea bawah untuknya.
Prang ... prang ... prang ....
"Aaaaa ...." Perempuan bermbut panjang itu menepi lebih jauh untuk menghindar. Andrea terduduk, tubuhnya bergetar hebat. Dia hampir tidak bisa bernapas, Malvin membuatnya benar-benar sangat terkejut.
Malvin mendekat, menatap lekat wajah Andrea yang sedang ketakutan. Air matanya jatuh perlahan, ini adalah air mata ke tiga kalinya yang dia keluargan karena wanita.
Andrea menatap pria yang melakukannya, pemilik manik hitam yang hanya menggunakan celana sport pendek itu kini terlihat berantakan dengan raut wajah sendu. Dia membuat ruangan di penuhi oleh serpihan kaca dari piring dan gelas juga makanan.
Dengan bibir yang bergetar, Andrea memberanikan diri untuk bertanya. "Ada apa denganmu?"
"Maafkan aku, Andrea." Nada suara Malvin begitu berat.
Andrea menggeleng. "Katakan, apa yang terjadi." Wanita itu mulai menangis dengan keras, takut hal yang lebih buruk akan terjadi padanya. Dia tidak tahu dan tidak mengerti apa yang terjadi pada pria itu sehingga dia melakukan ini.
Demetrio, bahkan tidak berani masuk saat mendengar keributan itu. Dia berdiri diam di depan pintu berjaga agar tidak ada seorang pun yang mendengar.
"Pergilah! Aku membebaskanmu."