
"Aku akan menghabiskan sisa hidupku bersamamu, dan anak-anak kita nanti," ujar Andrea tersenyum penuh bahagia.
Hidup tidak pernah memberikan kita pilihan, tetapi kita sendirilah yang membuat pilihan itu. Tergantung jalan mana yang akan kita tempuh. Karena dalam menjalani kehidupan akan ada pengorbanan dan juga keberuntungan. Apalagi ini tentang cinta, menyatukan dua orang yang berbeda tidaklah semudah mengatakan I LOVE YOU.
Malvin memberikan ciuman hangat pada kening Andrea. Sungguh kebahagiaan kuar bia dapatkan setelah mengorbankan begitu banyak hal. "Aku mencintai kalian, kau dan anak-anak kita nanti adalah kehidupanku."
"Kami juga mencintaimu."
Keduanya larut dalam suka duka, bahkan malam mendukung dengan menyeruakan hawa dingin membuat pelukan keduanya semakin erat. Malvin menarik kepalanya untuk turun kebawah, kemudian tanpa berkata apapun pria bermata kelam itu mencium bibir wanitanya dengan lembut. Andrea tidak menolak, bahkan wanita bermata abu-abu itu membalas membuat ciuman yang tadinya cukup santai menjadi sangat panas. Bahkan Malvin sangat tidak berkutik karena Andrea yang begitu bergelora.
Tatapan mata Andrea begitu dalam masuk kedalam manik mata Malvin yang terkejut. Malvib Yang awalnya hanya sekedar mencium Andrea kini pelan-pelan menjadi lebih menginginkan lagi. Lidah Andrea yang begitu lincah masuk ke dalam mulutnya, sangat menantang ardelanin Malvin untuk beraksi. Malvin menutup bola matanya yang sudah di penuhi oleh hawa nafsu, menikmati belaian yang di berikan Andrea. Bibir wanita itu sangat manis, seakan ingin terus dan terus merasakannya beribu-ribu kali.
Ciuman itu baru di kendalikan oleh Malvin saat Andrea mulai terlena dengan cumbuan yang di berikan oleh sang kekasih. Bibir wanita bermata abu-abu itu seakan memiliki kekuatan hingga mampu mengendalikan pikiran dan tubuh Malvin untuk terus merasakannya. Tanpa sadar tangan keduanya saling melepaskan pakaian dan mulai membagi kehangatan tubuh. Takut jika Andrea akan masuk angin, apalagi kondisi tubuhnya yang sedang hamil membuat Malvin dengan cepat menarik selimut tebal dan menutupi tubuh keduanya.
"Apa boleh aku melakukannya," tanya Malvin ragu-ragu. Ia takut jika melanjutkannya Andrea akan menolak dan hasrat yang sudah di ujung tanduk ini akan menyiksa dirinya dan dia juga tidak menyukai jika harus melakukan pelepasan sendiri di kamar mandi.
"Lakukanlah, aku tidak apa-apa." Suara serak yang lemah karena menahan gairah itu masih terdengar lembut.
Malam yang sangat membahagiakan untuk Malvin, seolah mendapatkan jakpot ratusan miliar wajah berseri untuk langsung melakukan aksinya. Ia menatap Andrea yang sedang mengigit bibirnya mengagumi kecantikan wanita yang sedang mengandung buah cintanya. Wanita luar buasa yang mengubah hidupnya yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya kelak.
"Malvin ...," desahnya pelan.
Malvin menyingkirkan sejumput rambut yang menutupi ujung bibir Andrea. Mengelus kembuat di sana hingga wanita di hadapnya memberi kecupan pada jemari yang menyentuh ujung bibirnya tadi. "Lakukanlah dengan pelan."
Malvin kendekatkan wajahnya pada telinga Andrea menciumnya lalu berbisik pelan di sana. "Katakan jika kau merasa tidak nyaman, aku akan berhenti melakukannya."
Mata Andrea, menatap menggoda dengan bibir yang masih di gigit, Sementara ujung jemarinya bermain di dada pria yang kini sudah merangkak di atas tubuhnya. Malvin mengeram pelan, menyembunyikan jika ia sangat amat bergairah dengan sentuhan Andrea "Andrea ...."
Saat ini, Andrea menginginkan Malvin sebesar Malvin menginginkannya. Andrea benar-benar sudah di tutupi gairah hingga terus saja menggoda Malvin agar segera melakukan penyatuan. Andrea mendekatkan wajahnya pada Malvin, mengecup sudut bibir pria itu berulang kali dengan sangat lembut.
"Sayang, aku sangat menginginkan dirimu sekarang."
•
•
Nyetrika dulu yah, lanjut nanti 😆😆😆😑