Endless

Endless
Chapter 18.



Rasa panas itu tidak hilang, malah semakin bertambah, membuat kepalanya semakin pusing dan mual secara bersamaan. Saat sibuk menyingkirkan rasa yang begitu aneh pada tubuhnya, Andrea menyadari bahwa tugasnya merapikan tumpukan buku itu belum selesai, dia harus segera pergi dan membereskannya jika ingin tetap hidup, tentu saja dia juga ingin membuktikan kepada pria itu kalau dia tidak bersalah.


Andrea kembali ke lantai dua dan melanjutkan pekerjaannya, dia melakukan semua itu dengan gerakan cepat agar segera kembali dan tidur. Andrea mencoba mengendalikan perasaan aneh yang di sebut mabuk. "Ada apa dengan ku, mataku hampir tidak bisa melihat jalan, apa ini yang di namakan mabuk? Arggh pria jahat itu, sampai kapan dia akan terus membuatku tersiksa seperti ini."


Matanya sudah cukup berat dan mual yang terus datang. Sesaat ketika semua itu hampir selesai. Seseorang tiba-tiba muncul di hadapannnya.


"Signore."


Malvin berjalan mendekatinya. Entah kenapa pria itu selalu datang tiba-tiba dan membuatnya menegang. Dan lagi, dia selalu melonggarkan dasi dan membuka kancing kemejanya saat hendak mendekati Andrea.


"Apa yang kau lakukan di ruang kerjaku?"


"Aku sedang melanjutkan pekerjaanku. Apa ada yang kau inginkan Signore."


"Tidak!" Namun, bukannya berhenti, Malvin malah semakin medekat, hingga tubuh keduanya beradu.


"Sì, Signire ada apa denganmu .... Aaaaaa." Andrea menjerit taktkala pria itu membawanya melewati pintu penghubung dan menidurkan tubuhnya di atas ranjang.


"Signore sadarlah!" Andrea mencoba melawan saat Malvin mulai menindihnya. Kini rasa mabuk itu semakin membuat tubuhnya ingin tertidur. Ada perasaan aneh saat malvin mulai berbesik padanya. Namun, perempuan dengan manik mata abu itu berusaha keras menepisnya. Dia tidak boleh terlena hanya karena dalam keadaan tidak berdaya seperti ini.


"Apa yang sedang kau lakukan padaku?" Andrea berteriak di sela-sela gerakan Malvin yang hendak mencium. "Menjauh dariku!"


Malvin semakin tidak terkontrol, ternyata gelas yang dia minum belum di tukar. Dan efek itu kini mulai bekerja membuat dia tidak bisa untuk menahan hasratnya.


"Aku tahu kau membutuhkan seseorang untuk meredahkan efek minuman tadi tapi ku mohon jangan aku." Wanita itu menggeleng keras dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Aku membutuhkanmu Andrea."


"Tidak! Tidak!" Andrea terus saja menolak, meski sebenarnya dia tidak bisa memungkirinya bahwa sentuhan yang di berikan Malvin membuatnya terlena.


Malvin terkekeh mendengar sebutan untuk kekasihnya. "Wanita itu memang gila, itulah sebabnya aku tidak ingin melakukannya dengan dia."


"Dasar pasangan gila!"


Malvin mengabaikan terikan Andrea, dia mengelus lembut pada pipi wanita itu dengan tatapan mata yang tidak berkedip. "Apa yang kau rasakan saat tidur bersama pria yang sudah memiliki kekasih. Apa ada kenikmatan tersendiri?"


Andrea menelan ludah kasar. "Aku tidak pernah melakukannya dengan pria manapun," ucapnya dengan penuh penekanan.


"Bukankah kau bersama pria bajingan itu? Marco. Kalian sudah melakukan-nya bukan."


Mata Andrea panas saat mendengar kalimat itu. "Aku tidak pernah melakukannya dengan bajingan seperti dia!" teriaknya penuh emosi.


Malvin berbisik tepat di telinganya. "Jangan membodohiku."


"Aku mengatakan kebenaran. Meskipun hidup bersama, aku tidak pernah mengijinkan dia meniduriku sebelum menikahiku. Dan keputusanku benar, pria itu menghianatiku."


"Kau ingin aku percaya."


"Kau harus percaya," ucapnya dengan napas menderu.


"Kita akan mencobanya."


"Mencoba?" Andrea mengulangi perkataan Malvin dengan dahi yang berkerut.


Pria itu mengangguk. "Aku ingin memastikan, apakah semua perkataamu benar atau tidak."


"Dengan cara apa aku harus membuktikannya?"