
Demetrio memasuki klub malam di mana biasanya Arsula sering menikmati malam panjang bersama pria-pria kaya. Dari jarak jauh, dia melihat wanita itu tengah mengesap minumannya dengan begitu santai.
Tanpa banyak bicara Demetrio memerintahkan anak buahnya untuk menangkap wanita itu. "Lakukan dengan bersih, jangan sampai dia tahu jika ini adalah perintah Signore."
"Sì, Tuan." Mereka menunduk sejenak lalu mengikuti apa yang di perintahkan oleh Demetrio.
Arsula yang sedang menuangkan minuman terhentak kaget saat dua pria bebadan kekar menghampirinya. Mata bulatnya hampir keluar saat tangan mulusnya di dekap, lalu di paksa untuk ikut.
"Hei! Siapa kalian. Lepaskan!"
"Maaf Nona, anda harus ikut bersama kami."
"What?" pekik Arsula dengan wajah kebingungan. Meski sedikit mabuk tapi wanita itu masih sadar dan meronta untuk tidak di bawah. Berulang kali Arsula memukul-mukul dan berteriak meminta tolong. Namun tidak ada yang memperdulikannya.
Karena ketika kegaduhan mulai terdengar, Demetrio dengan cepat mengumumkan jika wanita yang mengamuk itu adalah kekasih majikannya yang kabur dari rumah, jadi dia datang dengan anak buahnya untuk menjemputnyaý pulang. Lagi pula, ini klub milik Malvin. Jelas semua orang tau siapa Arsula.
"Apa yang kalian lakukan, lepaskan Aku!" Arsula meronta keras namun kedua pria berbadan besar itu tidak peduli.
"Apa kalian tidak tahu siapa kekasihku? Dia akan membunuh kalian jika tahu kalian memperlakukanku seperti ini!"
Dari tempat yang tidak terlihat Demetrio tersenyum mendengar itu. Dia memberi kode kepada salah satu pria yang membawa Arsula untuk menuju tempat di mana wanita itu akan di sekap. "Dia selalu memanfaatkan orang lain untuk kebebasannya. Dasar wanita licik."
"Diam! Atau aku akan menyumbat mulutmu dengan peluru ini."
Arsula menelan ludah kasar saat sejata dari salah satu pria yang membawanya terlihat. "Siapa kalian! Kenapa kalian membawaku?"
Kesal dengan ocehan Arsula yang semakin menjadi-jadi, pria yang duduk di sampingnya lalu menyumbat mulut dan juga menutup matanya. Wanita itu mencaci dalam batin dengan menggertakkan kedua kakinya tiada henti.
Mobil mereka melaju dengan kecepatan rata-rata, tentu saja Demetrio berada di belakang. Dia tidak boleh terlihat oleh Arsula sesuai perinta Malvin. 1 jam perjalanan akhirnya mereka tiba di area hutan. Tempat itu sepi tak berpenghuni. Namun, jika di lihat secara teliti, itu adalah bagian belakang Mansion. Demetrio dan anak buahnya sengaja melewati jalan yang belukar agar Arsula tidak sadar jika dirinya di bawah kembali ke Masion Malvin.
Wanita itu kaget saat penutup matanya terbuka, hutan yang begitu gelap dengan banyaknya pohon-pohon besar membuat bulu kuduknya berdiri. Matanya berpencar melihat sekeliling dengan ketakutan. "Dimana ini? ke mana kalian membawaku." Arsula membalikan badan bermaksud mencaci kedua pria yang membawanya, akan tetapi kedua pria itu sudah tidak ada. Kini, dia hanya sendirian dengan kaki Dan tangan yang terikat.
"Apa-apan ini, apa mereka hantu? Kemana kedua pria itu."
Arsula kembali melihat sekeliling dengan guratan wajah penuh kecemasan. Tubuh Arsula bergetar lemas seketika saat dedaunan lebat di dekatnya bergerak. Alih-alih memikirkan hantu karena keadaan yang dingin dan menyeramkan, dia malah berfikir bagaimana jika binatang buas datang dan menerkamnya.
Tanpa berfikir panjang, dia melompat seperti pocong karena kaki dan tangan yang terikat. Wanita itu menjerit dengan meneriaki nama kekasihnya.
"Malvin ...!!