Endless

Endless
Chapter 119



"Cepatlah sehat, kita harus segera ke Puelba. Aku tidak sabar untuk segera menikahimu." Kebahagiaan sedang menyelimuti perasaannya saat ini, dia tak henti-hentinya tersenyum dan terus mengelus di perut Andrea bingga membuat wanita bermata abu-abu itu merasa tidak nyaman.


"Sayang, hentikan! Aku merasa geli."


Malvin terkekeh. "Maaf, aku hanya terlalu bahagia."


"Apa kau samgat bahagia?"


"Tentu saja, aku akan menjadi seorang Ayah."


"Apa yang kau pilih, baby Girls atau baby boy?"


Malvin mengecup lembut pada kening Andrea. "Perempuan atau laki-laki tidak ada bedanya untuk ku Sayang. Yang terpenting adalah kalian dalam keadaan baik-baik saja."


Andrea menatap Malvin, dia mengubah posisiya menjadi duduk. "Perut ku akan semakin membesar, tentu saja wajahku akan semakin berubah, apa kau akan meninggalkanku ketika wajahku berubah menjadi jelek?"


Malvin menggelengkan kepalanya, dia menabrakan kepala dengan rambut hitam tebal miliknya pada dahi Andrea. "Dasar wanita gila! Mana mungkin aku meninggalkanmu sementara kau sedamg mengandung anak ku. Itu mustahil, aku malah berencana untuk terus menempel padamu."


"Oh tidak! Jangan melakukannya," ucapnya dengan tertawa terbahak.


Saat keduanya sedang saling menggoda, mereka berbalik saat mendengar seseorang mengetuk pintu, terlalu bahagia hingga keduanya lupa jika pintu kamar tidak tertutup. Garilla datang dengan nampan berisikan lemon tea, wajah wanita tua itu sedikit masam karena orang yang memesan minuman sudah tidak ada.


"Oh Tuhan! Apa Dokter Kriss sudah selesai?" pekiknya saat matanya tidak melihat sosok dokter tampan itu di sekitarnya.


Malvin beringsut beridiri dari tempat tidur. "Ya ampun Garilla! Yang benar saja, bagaimana bisa minuman ini baru tiba. Kau membuat aku malu karena tidak bisa memberikan pelayanan yang baik kepada dokter pribadiku."


"Maafkan aku Signore, aku pikir Dokter Kriss akan sedikit lama jadi aku melayani Agrio dan Demetrio yang ingin sarapan terlebih dahulu."


"What?"


"Maafkan aku Signore."


"Malvin hentikan!" peki Andrea dengan tertawa, fia dangat kasihan melihat ekspresi Garilla yang takut dengan kemqrahan kekasihnya. "Sudahla, berikan minuman itu padaku, itu artinya Dokter Kriss belum beruntung mendapatkan minuman dari koki terbaik di Mansion ini."


Andrea membeliak. "Sayang ...." Wajah wanita itu sedikit cemberut. "Kau terlalu berlebihan. I'm fine now."


"No! Kau harus menurutiku, aku tidak ingin apapun terjadi kepada kalian."


Andrea kembali memutar kedua bola matanya, kesal dengan tingkah Malvin yang tiba-tiba menjadi sangat posesif. "Baiklah," ucapnya tersenyum miring. Ia menoleh pada Garilla yang berdiri kaku dengan wajah yang Andrea tahu jika wanita itu kaget dengan ucaoan krkasihnya.


"Sorry, can you give that to me here Garilla? (Maaf, bisa kau berikan itu padaku di sini Garilla?)


"You will get it, Signora. (Kau akan mendapatkannya, Nona.)" Wanita tua itu tergagap karena rasa penasarannya, ia mendekat lalu memberikan segelas Lemon tea yang dia siapkan untuk Dokter Kriss tadi.


"Grazie Garilla."


Wanita itu menghabiskan segelas lemon tea dengan posisi yang sama sekali tidak bergeser dari tempat tidurnya sesuai permintaan kekasihnya. "Kau puas?"


Malvin tertawa pelan. "Ini demi kau dan calon bayi kita Sayang. Aku harus tetap memastikan jika kalian baik-baik saja. Dan---" Malvin menjedah ucapannya menengadah menatap Garilla yang masih setia berdiri dengan diam di tempatnya. "Apa ada yang ingin kau katakan Garilla?"


"Tidak ada Signore."


"Kalau begitu pergilah! Aku akan memanggilmu jika Andrea membutuhkan sesuatu."


"Oh Tuhan Sayang, hentikan! Lihat wajahnya, dia ketakutan. Jika kau terus seperti ini aku akan mogok makan dan anak kita akan kelaparan," ucapnya dengan wajah geram.


Malvin menatap Garilla dengan tatapan meminta penjelasan, dia bingung, kenapa dirinya yang di salahkan. Bukankah ini adalah kamarnya, dan Garilla adalah pelayannya. Dia bahkan sering melakukan hal semacam ini kepada wanita tua itu.


Garilla mengedikkan bahunya, dia juga tidak mengerti kenapa Andrea tiba-tiba jadi dramatis.


Malvin kembali mengingat penjelasan panjang Kriss tentang mood wanita hamil. Mereka sering mengalami mood yang berbeda-beda. Dan sebagai kekasih dan calon Ayah yang baik, dia harus ekstra sabar untuk memaklumi sikap Andrea yang mungkin saja akan berubah sesuai dengan suasana hatinya.


"Baiklah," desah Malvin mengalah.