
"Oh iyaa," Andrea melepaskan pelukan Marisa dan menoleh pada dua pria yang sedari tadi menatap mereka. "Dia adalah kekasihku, Malvin Alexander. dan ini sahabatnya sekaligus pengawalanya. Demetrio Ruiz.
"Oh, ternyata dia adalah pengawalnya. Pantas saja senyumannya begitu dingin." Marisa bergumam di dalam hati, wanita yang berprofesi sebagai pelukis itu sedikit membungkuk dengan tersenyum. "Senang bertemu denganmu Signore." Ia menoleh ke samping di mana Demetrio duduk. "Dan juga denganmu Tuan Ruiz."
Lazaro yang sudah lebih dulu menyapada Malvin dan Demetrio memerintahkan Marisa, Lexi dan juga Andrea untuk duduk.
"Apa kabarmu baik-baik daja Tuan Lazaro? Aku dengar kau kurang begitu sehat belakangan ini." Malvin berusaha beradaptasi dengan keadaan.
"Ya." Lazaro memperbaiki duduknya agar lebih nyaman. Aura yang terpancar dari Malvin membuat dia sedikit merasa gugup. "Aku sudah cukup tua untuk tetap sehat Signore, orang yang sudah tua sepertiku tentu saja akan sakit-sakitan."
"Yah, kau benar," ujar Malvin sedikit tersenyum.
Andrea melirik pada Malvin yang sepertinya terlalu berusaha, dan tanggapan ayahnya yang seperti biasa. Ia takut jika tiba-tiba pria itu kesal dan melakukan sesuatu yang membuat keadaan memburuk. Untuk itu ia segera mengalihkan situasi. "Ayah .... Apa kabar? Kenapa tidak memberi kabar jika ayah sakit."
Lazaro menggelengkan kepala. "Ayah baik-baik saja Sayang." Ia menepuk tempar duduk di sampingnya agar Andrea mendekekat. "Bagaimana denganmu, apa cucuku juga baik-baik saja?"
"Ayah sudah tahu?"
Lazaro mengaggukan kepala. "Dayla sudah menceritakan semuanya padaku. Ayah sangat bahagia. Akhirnya aku bisa menjadi seorang kakek," ujarnya tertawa kecil.
Oh Tuhan, betapa legah perasaan malvin saat mendengar Lazaro mengatakan itu. Dia tidak mengira respon pria tua itu akan sangat baik. Mengingat sejak awal dia bertemu dengan Andrea sangat tidak baik. Jika tahu akan seperti ini dia tidak perlu berusaha baik dan ramah dari awal.
"Kapan kalian berecana akan menikah?" tanya Dayla.
"Anak nakal! Lazaro mencepit hidup Andrea dengan ibu jari dan telunjuknya. "Kau langsung menodongku dengan pertanyaan seperti itu. Ayah hanya ingin memastikan sesuatu padanya."
Andrea tersenyum pipinya sangat merona. Mata abu-abunya memperlihatkan kebahagiaan. Dia tahu meskipun Lazaro adalah ayah yang sangat keras. Namun, dia tidak akan mengabaikan perasaan putrinya.
****
"Apa kau benar-benar mencintai putriku, ataukah hanya obsesi saja Signore?"
Malvin terkekeh mendengar pertanyaan Lazaro. "Tentu saja Tuan Lazaro."
"Aku tidak sedang menjual anak ku padamu Signore, tapi sedang memberi tanggung jawab agar kau bisa menjaga dan mencintai anak ku seperti yang aku lakukan. Ya, mungkin pertemuan kalian terjadi dengan tidak sengaja, tapi aku harap kau tidak memperlakukan putriku seperti seorang tahanan yang kau ikat dengan pernikahan untuk terus melayanimu."
"Ayah!" Andrea berteriak karena tidak suka dengan apa yang di katakan Ayahnya. "Dia tidak seperti itu, Malvin ada pria yang baik. Dia bahkan memperlakukan para pelayan dengan sangat terhormat."
"Sayang! Tenanglah, aku tidak apa-apa."
Malvin panik saat kekasihnya tiba-tiba berdirih dan berteriak. Andrea memang sangat sensitif akhir-akhir ini. Dia selalu mendramatis keadaan dengan berlebihan, mungkin karena hormon kehamilan. Untuk itu, Malvin sangat menjaga agar kekasihnya tidak merasa sedih atau tertekan.
Berbeda dengan Lazaro, pria tua itu malah tersenyum melihat bagaimana Malvin menenangkan putrinya. Andrea memang terlihat sangat keras. Namun, faktanya dia adalah seorang gadis yang manja dan selalu membebani pikirannya dengan hal-hal sepeleh. Lazaro yakin, Malvin adalah jalan Tuhan agar aku bisa memberikan kebahagiaan kepada anaknya.