
Pagi yang sangat cerah, meski tak secerah wajah Andrea saat ini. Dia berjalan dengan sedikit tidak nyaman karena area intimnya terasa perih dan tidak nyaman. Ketika sedang meringis, Dia terhentak kaget ketika Garilla menahan lengannya saat hendak menaiki tangga terakhir menuju perpustakaan.
"Kau terlihat pucat Andrea?"
"Si." Andrea mengucapkannya dengan menunduk.
"Apa sesuatu telah terjadi?"
Wanita dengan baju pelayan itu menggeleng, dan tetap fokus pada sarapannya.
"Andrea!" Tangan Garilla menahan tubuh Andrea yang hendak pergi. "Wajahmu terlihat sangat pucat, apa dia menyiksamu lagi?"
Dia menggeleng kembali dengan pelan. "Aku hanya sedikit kurang sehat Garilla, istirahat sebentar juga akan sembuh," ucapnya memaksakan diri untuk tersenyum.
"Kalau begitu istirahtlah, biar aku yang melakukan tugasmu."
"Tugasmu bahkan lebih berat dari tugasku."
"Tapi, Andrea, kau terlihat sangat buruk."
"Jangan khawatir, aku akan melakukan tugasku dengan cepat lalu istirahat."
Wanita berusia 50 tahun itu membuang napas berat, menatap tepat pada manik perempuan yang sudah di anggap seperti adiknya sendiri. "Andrea, terkadang jika kita berusaha menyembunyikan sesuatu maka itu akan cepat terbongkar."
"Apa maksudmu?"
"Maksudku kau tidak boleh menyimpan apapun dariku."
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan."
"Dalam hidupku aku telah melewati banyak hal Andrea, kau tidak bisa membohongiku."
Kalimat itu membuat Andrea menegang, dia pikir tidak ada yang tahu tentang kejadian semalam.
Wanita itu menatap dengan penuh rasa kasihan. "Jika kau butuh bantuanku, aku berada di dapur."
Andrea meremas kuat jemarinya, dengan tubuh yang bergetar dia menatap Garilla dengan memaksakan senyum. "Sí"
Kedua pelayan itu pun berpisah, dan kembali melakukan tugas mereka masing-masing. Garilla juga tidak ingin memperburuk keadaan jika ada yang melihat atau mendengar percakapan mereka.
••••••
"Signore." Demetrio berdiri di depan pria yang sudah berjam-jam duduk terdiam. Tatapan matanya terpaku pada jam dinding yang terus berputar, entah apa yang tengah dia pikirkan.
"Apa kau ingin aku menyiapkan sarapan untuk mu Signore?"
Malvin melihat ke arah pria yang selalu setia berada di sampingnya itu. "Demetrio."
"Si Signore."
"Apa menurutmu aku terlalu lemah untuk mempercayai sesuatu?"
Demetrio, pria yang selalu setia menemani tuannya kemana pun itu, kini ikut membisu. Selama ini dia tahu Malvin melakukan segalanya untuk membalas dendam atas kematian adiknya, menjadi lelaki tegar dan tangguh, dia berkelana mengelilingi setiap sudut bumi untuk mencari orang-orang yang telah menyakiti Daisy. Dan setelah dia mendapatkan kesempatan untuk menyiksa mereka, dia malah di hadapkan dengan keraguan.
"Kau hanya perlu mengikuti hatimu Signore."
"Mengikuti hati?" Malvin tersenyum. Dia membayangkan Andrea dan semua ucapan wanita itu padanya. Entah apa benar wanita itu tidak tahu menahu dengan hubungan Daisy dan kekasihnya, atau dia juga ikut andil dalam penipuan itu.
Andrea bahkan masih perawan, dan Malvin adalah orang pertama yang menyentuhnya. Padahal, sebelum dia menidurinya, dia yakin bahwa wanita itu sudah melakukannya dengan kekasihnya yang tak lain adalah pria yang di cintai Daisy. Pria berengsek itu melarikan diri setelah mengambil semua harta milik adiknya, meninggalkan Daisy yang menderita dengan kekecewaan hingga akhirnya bunuh diri.
"Sh*it."
Malvin memejamkan mata begitu sinar matahari menembus kulit, memberi kehangatan yang hampir dia lupakan. Malvin mengepalkan tangannya erat membenci keadaan yang selalu membuatnya bimbang untuk memutuskan sesuatu. Rasa penasaran terus saja terngiang-ngiang di benaknya. Dia ingin mencari tahu kebenarannya. Namun, harus kemana dia mencari petunjuk.
Selam ini, dia hanya mendengar cerita dari sisi Arsula. Wanita yang menjadi kekasihnya itu memang sangat dekat dengan adiknya, tentu saja apa yang Daisy alami selalu di beritahukan kepada Arsula, termasuk soal mengalihkan harta miliknya dan hubungannya dengan Marco. Semua ini menjadi tanda tanya besar untuknya.