Endless

Endless
Chapter 168



"Aku ingin mengatakan sesuatu, dan ini adalah permintaan permataku padamu Dayla. Kau juga tahu selama kau menajadi ibuku tidak sekalipun aku meminta apapun padamu, kali ini biarkan aku meminta."


Dayla melebarkan matanya. "Apa yang kau katakan, tidak perlu memintapun aku pasti akan memberikannya Sayang."


Andrea melengkungkan senyum. "Baiklah, kalau begitu aku akan kemgatakannya. Dua bulan lagi kami akan melangsungkan pernikahan, benar bukan? Selam itu, apa aku bisa membawa Marisa bersamaku ke Verona?"


"Andrea apa yang kau katakan?"


Andrea berdecak pelan dengan mata yang melotot ke arah Marisa. Memberi tahu leeat matanya agar wanita itu diam dan mendengarkannya.


"Apa maksudmu?" Bibir Marisa berucap tanpa suara.


Sama seperti Marisa, Malvin yang berdiri di atas lantai dua pun merasa bingung dengan apa yang sedang di lakukan kekasihnya, entah apa maksud dari semua ini. "Apa dia sedang berusaha untuk tidak memisahkan mereka?"


•••


"Dayla." Marisa bermanja di depan ibu sambungnya. "Kau tahu bukan, aku sendirian di Verona, dan hanya ada Garila yang selalu menamaniku. Wanita tua itu juga sering meninggalkanku ketika sedang bekerja, aku selalu kesepian spepanjang hari, jika ad Marisa tentu saja itu akan lebih baik. Dia bisa menemaniku melakukan segalanya." Andrea menelan ludah dengan sangat susah saat tatapan Dayla sedikit menginterogasinya.


Dari jarak jauh Malvin menepuk jidatnya karena sudah paham dengan Andrea inginkan. Pria bermanik hitam itu menggelengkan kepala dan melangkah kembali masuk ke kamarnya.


••••


"Aku sudah bicara dengan Ayah sejak kemarin, Ayah mengatakan jika akan menahan Lexi agar tetap tinggal di sini, dia akan melanjutkan sekolahnya di Puelba," sambung Andrea berusaha meyakinkan Dayla.


"Sudahlah Dayla, kau sudah cukup lama menjauhkan anak-anakmu dari keluargaku. Kali ini biarkan mereka tinggal disini, biarkan Lexi kenemani hari tua kalian," ujar Andrea dengab tatapan memohon.


"Tapi ...."


"Atau, apa kau tidak percaya kepada Ayahku? Kau tidak percaya jika dia bisa menjaga mereka dan menafkahi mereka. Bukankah kita adalah keluarga."


Dahi Dayla tamoak berkerut, iya semakin tidak mengerti dengab perunahan Andrea pagi ini, baru saja dia membela Marisa mati-matian dan sekarang sedang berusaha untuk meyakinkannya agar bisa mengijinkan hal yang baginya itu sulit. "Yah kau benar, kita adalah keluarga, tetapi aku takut anak-anak akan mempersulit Lazaro."


Andrea menggeleng pelan. "Lexi adalah anak baik, mana mungkin dia merepotkan, lagi pula aku tidak memiliki saudara laiki-laki. Apa kau juga liat, ayah tidak pernah merokok lagi, dia sibuk bermain dan memilih mainan baru bersama Lexi apa kau ingin melihat dia murung dan kembali merorok lagi, tidak bukan."


"A-aku tidak memperhatikan sampai ke situ." Dayla terlihat ragu-ragu dalam menjawab semua pertanyaan Andrea, baginya ini seperti terlihat aneh. Tiba-tiba suadana menegangkan tadi kenapa berubah menjadi serba salah.


"Dengar, Lexi adalah anakmu, adik Marisa, kami sudah menjadi kekuarga, artinya mereka juga adalah anak Ayahku dan juga saudaraku. Marisa juga adalah sahabatku sebelum dia menjadi saudaraku, tidak akan susah bagi kami membuat ikatan yang baru, percayalah semua akan baik-baik saja."


Dayla tersenyum bahagia, begitu baiknya hati Andrea menerima saudara tiri dan juga ibu tiri tanpa syarat apapaun. Dia tahu Andrea memang anak yang baik sejak dulu. Namun, butuh hati yang lapang untuk menerima kenyataan jika ayahnya memiliki keluarga yang lain. Akan tetapi, tetap saja ini terlihat aneh baginya.


"Maaf Sayang, tapi kita sudah keluar jauh dari pembahasan utama. Bukankah kita sedang membahasa tentang Marisa dan kesalahannya itu?"


Andrea tidak menjawab, ia menegang di tempat karena sepertinya rencananya untuk mengalihkan amarah Dayla kepada Marisa sudah du sadari oleh Dayla. Marisa menarik tangan Andrea, lalu berbisik pelan di telinganya. "Ssstt, sudahlah. Hentikan sandiwara mu. Kau sudah ketahuan."