Endless

Endless
Happy Ending Malvin Andrea



Meninggalkan dua pasangan menyebalkan itu Malvin dan Andrea memilih untuk lebih dulu beristirahat. Perempuan itu kelelahan karena lama berdansa bergantian dengan 3 pria malam ini, Lazaro, lalu Malvin, kemudian ajudan sejatinya yang sudah membuat cinta ini berakhir bahagia Mr Cool, Demetrio Ruiz. Dan Louis Zigo, dia sama sekali tidak memiliki kesempatan untuk berdansa dengan Andrea karena sibuk menenangkan Paris yang terus merajuk karena tamu undangan wanita yang terus mengejarnya, bahkan pipi pria itu di penuhi bekas lipstik di mana-mana.


Malvin menggendong Istri tercintanya ala-ala bridal. Andrea yang malu menyembunyikan wajahnya di dada suaminya karena tidak berani untuk bertatap. Beberapa orang yang berada di lobi memperhatikan keduanya hingga membuat wanita itu sangat malu. Apalagi kolega Malvin dan ruang pergaulannya luas. Jelas saja semua orang akan mengenali mereka.


"Sayang, turunkan aku. Banyak orang di sini."


"Memangnya kenapa kalau banyak orang."


"Aku malu," bisik Andrea.


"Tidak perlu malu, kita sudah menikah. Kita adalah sepasang suami istri Andrea."


"Tetap saja, ini memalukan." Andrea sedikit merajuk agar Malvin mau menurunkannya. Namun, ternyata pria itu malah semakin memperkuat otot tangannya untuk membawa wanita itu ke kamar mereka.


"Diamlah Sayang. Orang akan mengira aku membawamu lari dari pernikahan jika kau terus memasang wajah cemberut seperti itu."


Andrea terkekeh, dia melingkarkan tangannya semakin kuat menyembunyikan kembali kepalanya pada ceruk leher suaminya. "Dasar Mafia gila!"


Saat kedaunya sampai di depan kamar, Andrea dan Malvin di buat kaget dengan kehadiran Zigo dan Demetrio.


"Sedang apa kalian di sini?" ujar Malvin yang masih terus menggendong Andrea.


"Apa kau tidak bisa berjalan Andrea? Kenapa dia--"


Zigo tidak melanjutkan kalimatnya karena di tatap dengan tajam oleh Malvin. Andrea yang melihat itu memutar kedua bola matanya malas. "Dasar Pria kaku, ini di sebut gendongan ala bridal. Semua pengantin melakukan ini, apa kau tidak melakukannya kepada istrimu?"


"Tidak." Jawaban Zigo ragu-ragu. Dia bahkan tidak tahu jika ada istilah dengan gendongan ala bridal. Dan ekspresinya membuat Malvin ingin sekali memakannya. Apalagi, gelengan kepala dari saudaranya itu seperti orang linglung yang sedang mengikuti instruksi majikannya.


"Kau seharusnya memperlajari itu sebelum mengucapkan janji pernikahan."


Zigo melambaikan tangan. "Itu tidak penting, yang paling di butuhkan saat sudah menikah adalah keahlian ranjangmu. Dan kau, sayang sekali akan menahannya selama beberapa bulan ke depan." Zigo bedecak dengan menggelengkan kepala. "Sayang sekali."


Mata Arumi membulat dengan tawa yang hampir pecah. Namun, dia menahannya untuk menghindari rasa kesal yang sedang di alami sang suami.


"Tutup mulutmu dan pergilah dari sini, sangat mengganggu. Seharusnya kalian sedang bersama istri kalian masing-masing."


"Mereka sedang bersiap, kami di sini hanya untuk memastikan kau tidak melakukan kesalahan," ujar Demetrio menepuk bahu Malvin pelan.


Malvin menurunkan Andrea dari gendongannya, menatap Agrio yang berdiri diam dengan 4 penjaga yang berada di belakangnya. "Pergi atau aku patahkan lehermu.".


"Maaf Signore, tapi ...."


"Aku majikanmu, kenapa kau menuruti kedua iblis ini. Pergi sekarang juga Agrio."


"Sayang!"


"Buka pintunya dan masuklah, aku harus mengurus bandit-bandit ini sebelum kita bercinta Sayang."


"Kenapa aku, bukankah ini idemu. Kau yang mengajak ku untuk mengganggunya," jawab Demerio yang kebingungan melihat pria dengan manik mata cokelat itu berlalu pergi membawa para pengawal menghindar dari amukan saudaranya.


*****


"Sayang!"


"Hmm?" gumam Andrea.


"Bagaimana kalau kita mandi."


"Aku tidak mau, aku ingin langsung tidur saja."


"Tapi Sayang, bukankah malam ini malam pertama kita."


Andrea terdiam, dia masih terlihat kesal dengan tingkah Zigo dan Demetrio yang seperti anak kecil.


"Kau harus membuka gaunmu sebelum tidur Sayang."


Andrea tetap terdiam, membuat Malvin terkekeh lalu memeluknya. Hal itu ia jadikan kesempatan untuk membuka resleting gaun pengantin istrinya di bagian belakang hingga terlihat jelas punggung mulus Andrea.


"Oh astaga, Sayang!" Andrea menjerit spontan saat tangan Randika mulai menjalar di sana.


"Buka gaunnya."


"No!"


"Ayo mandi bersama."


"Aku tidak mau."


Tanpa bicara Malvin menggendong Andrea ke kamar mandi, wajah wanita hamil itu bahkan memerah karena malu saat di turunkan di atas buthup yang masih belum terisi air. "Ayo aku akan membantumu untuk membuka gaun."


"Biar aku saja Sayang," ucap Andrea memeluk dirinya sendiri. Meski ini bukan yang pertama kalinya Malvin melihat tubuhnya, tetapi rasanya canggung saat status mereka sudah menjadi suami istri.


"Apa kau malu?"


Andrea terdiam, dia terlihat tegang. Entah mengapa dia takut jika Malvin akan melakukannya sekarang. Apalagi, ini di kamar mandi.


"Apa yang kau pikirkan?"


"Ti-tidak."


Malvin tertawa geli. "Sayang, kita tidak akan melakukannya, hanya akan mandi."