Endless

Endless
Chapter 143



Tidak ada yang bisa menggambarkan betapa sangat bahagianya perasaan Andrea dan Malvin saat ini, bahkan wanita berdarah Meksiko itu terus saja tersenyum sepanjang makan malam tadi. Saat sepasang kekasih yang sebentar kagi memiliki anak itu memasuki kamar, pun Andrea tidak henti-hentinya tersenyum.


"Sayang, tenggorokanmu akan kering jika kau tersenyum seperti itu sepanjang hari."


Andrea sedikit mengerucutkan bibirnya. Pria bermata hitam itu memang sekalu mengacau di saat dia sedang mengekspresikan perasaannya. "Dasar pengganggu, ini adalah ekpresi kebahagiaan. Aku tidak peduli jika tenggorokan ku kering atau sakit."


"Baiklah, terserah kau saja," ucapnya dengan tertawa." Malvin hanya mengiyakan semua tingkah manja Andrea, tentu saja alasannya karena ia tidak ingin melihat Andrea tertekan ataupun bersedih. Lebih baik dia terlihat sedikit aneh seperti ini.


"Sayang!"


"Hmm ...." jawab Andrea bergumam kecil. ia menengadah menatap kekasihnya yang sedang bertanya.


"Bagaimana pendapatmu tentang Marisa?"


"Marisa?" Dahi Andrea sedikit bergelombamg tanda bahwa dia sedang berfikir. "Dia adalah wanita yang sangat baik, sopan dan juga periang. Meski kadang dia terlihat arogan. Namun, hatinya memiliki sejuta kebaikan. Aku sangat menyukai lukisannya."


"Kau pernah melihat hasil lukisannya?"


"Tentu saja. Aku orang pertama yang dia perlihatkan setelah dia selesai melukis sesuatu. Kami sudah berteman sejak kecil, aku bahkan tahu apa yang dia sukai dan tidak."


"Lalu bagimana dengan Demetrio?"


Wanita itu seketika melepaskan pelukan dan duduk dengan tegak. "Aku tidak menyukainya. Dia menyebalkan Sama seperti Zigo." Andrea melotot ke arah Malvin. "Aku heran padamu, kenapa kau bisa begitu akrab dengan dua pria yang menyebalkan seperti mereka."


Malvin terkekeh, ia mencubit pipi Andrea yang sudah mulai berisi itu."Bukan itu yang aku maksud Sayang."


"Lalu?"


"Maksudku, apa menurutmu Marisa akan menyukainya?"


Andrea terkejut mendengar ucapan Malvin, ia mengerjabkan matanya beberapa kali. "Maksudmu kau ingin menjodohkan saudara perempuanku dengan sahabatmu itu?"


Malvin mengangguk pelan.


"Tapi .... Marisa tidak menyukai pria kaku. Di bandingkan dengan Demetrio, dia lebih cocok dengan Zigo."


"Dasar payah! Aku hanya menerangkan kriteria pria yang di sukai Marisa. Dan .... Memangnya kau dan saudaramu itu apa bedanya. Kau malah pernah menindasku sebelum mencintaiku. Kau lebih kejam darinya Tuan Malvin Alexander."


"Oh Tidak! Jangan lagi. Aku lelah menenangkan kemarahan wanita ini."


Sementara itu, di kamar Marisa.


"Siapa?"


Tidak ada jawaban hanya terdengar ketukan yang semakin keras. "Oh God! siapa yang mengetuk dengan tidak begitu sopan." Marisa beringsut membuka pintu karena ketukan di pintu kamarnya semakin membuatnya terganggu.


"Kau!" ucapnya tidakk percaya.


Marisa membulatkan mata, kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan memastikan apakah ada orang yang melihat mereka atau tidak.. "Sedang apa kau di kamarku? apa dengan mencium tadi belum cukup hinga kau harus meniduriku?"


Demetrio menyeringai, ia menarap Marisa dari ujung kepala hingga kaki kemudian berdecak. "Di mana kamarku?"


Marisa kembali membulatkan netranya menatap tajam ke arah Demetrio. "Tentu saja di kamar tamu, untuk apa kau datang dan bertanya padaku," ujarnya mendengus kesal. "Pergilah! Menjauh dsri kamarku."


"Hei!" Demetrio menahan pintu saat Marisa dengan kuat membantingnya.


"Apalagi?" Marisa menatap sengit ke arah Demetrio.


Demetrio membuang napas berat. Sebenarnya dia sangat enggan untuk menangakan ini karena akan terlihat sangat memalukan. Apalagi dia harus bertanya kepada wanita yang baru saja mengumandangkan genderang perang dengannya "Aku tidak tahu di mana letak kamar tamu, ini bukan rumaku."


Marisa tertawa pelan. Sungguh bodoh dia berfikir jika Demetrio datang untuk merayunya. Meski ragu, dan sedikit kesal, Marisa juga harus sopan karena Demetrio adalah tamu di Mansionnya. Dia ssharusnya melayani pria dingin itu dengan baik agar tidak mempermalukan Andrea. "Minggir! Aku akan mengantarmu."


Demetrio memutar kedua bola matanya malas. "Wanita yang kasar."


💜💜💜💜


Selamat malam Selasa. Jangan lupa Like dan Votenya nya. Terus kasih dukungan kalian di sini yah. Salam cinta dari autor. 💜