
Wanita berkulit hitam itu terus saja berfikir, mencari cela dari semua tingkah laku Sella dan Arsula untuk menemukan di mana mereka meninggalkan Andrea.
"Apa mereka membawanya ke suatu tempat? Tetapi jika benar, harusnya kedua iblis itu tidak berada di Mansion saat ini."
Wanita itu terus mendesah, berjalan bolak balil seperti mesin pelicin pakian. Tiba-tiba saja, seolah mendapatkan penglihatan. Garilla terhentak kaget dan langsung berjalan keluar. "Gudang penyimpanan itu! Mereka pasti menyembunyikannya di sana."
Garilla bergegas menuju ruang paling ujung utara Mansion, di sana ada gudang penyimpanan yang kosong. Sudah lama mereka tidak menggunakannya. Terakhir, dia melihat beberapa pelayaan dan Sella baru saja membereskannya.
Perempuan berkulit hitam itu berjalan dengan langkah panjang, saat melewati lorong panjang yang gelap, jantungnya sedikit berdetak kencang. Dia baru sadar kalau bagian utara Mansion ternyata sangat gelap dan menyeramkan.
Garilla tiba di ruangan penyimpanan, dia melihat ada bekas tanda kaki di bagian bawah pintu. Itu dikarena ruangan itu sedikit berai, hingga membuat siapa saja yang masuk dan keluar memiliki jejak kaki. Dan beruntung, pintunya tidak di kunci.
Ketika pintu terbuka, hawa dingin menelusuk masuk ke dalam tubuh di ikuti bau yang begitu menyengat. Garilla, wanita yang sudah berumur itu sedikit menggigil saat memasuki ruangan yang Begitu lembab dan gelap. "Andrea ... Andrea .... Kau di mana?" Suara bisik Garila menggema karena rungan yang hanya terisi setengah dari seharusnya.
Untuk lebih mempermudah, Garilla menyalakan senter pada ponselnya. Saat lampu ponsel mulai mengeluarkan sinar, mata Garilla membulat saat menangkap sosok yang terkapar dengan tubuh yang berlumuran darah, tentu saja dengan bau busuk yang menyengat. Seketika itu membuat dia panik.
"Andrea!" Garilla memberikan sinar ponselnya dia arahkan ke wajah wanita yang tidak dalam keadaan sadar itu.
"Andrea! Oh mio Dio, cosa sta succedendo qui? (Oh Tuhan, apa yang terjadi di sini.)"
Kelegaan tidak bisa dideskripsikan ketika melihat Andrea bergerak. "Sayang, Apa yang terjadi?"
Fokus Garilla pada perut Andrea yang terus mengeluarkan darah. Andrea terlihat sangat menyedihkan dengan banyak luka di tubuhnya, wajah cantiknya pun terlihat buruk karena sayatan. Bajunya basah bau busuk memenuhi penciuman Garilla, membuat wanita tua itu ikut merasa gemetaran.
"Andrea ...."
Perempuan itu Tidak bisa berkata apa-apa lagi, gemetar, dengan sisa tenaganya dia gunakan untuk bernapas.
"Andrea, sadarlah!" Garilla menepuk pelan pada kedua pipi wanita bermata biru itu.
Perempuan yang memiliki manik abu-abu itu menggeleng dengan sangat pelan. Dia terlalu lemah untuk sekedar membuka mulut.
"Apa yang sudah mereka lakukan padamu, luka di perutmu juga cukup dalam Andrea, kita harus segera keluar untuk mengobatinya."
Perlahan, manik abu-abu itu membuka mata, dia tersenyum kecil. "Te-terima kasih Garilla, kau sudah menemukanku."
Tatapan Andrea begitu dalam, hingga membuat Garilla meneteskan air mata. "Apa kau bisa berdiri? kita harus meninggalkan tempat ini sebelum mereka datang."
Andrea menggeleng pelan. "Terlalu sakit Garilla ...."
Kalimat itu membuat Garilla terdiam, dia mengusap kedua pipi Andrea. "Aku akan membantu berdiri."
"Maaf, aku selalu membuatmu ikut terlibat."
"Kita adalah teman, sudah seharusnya saling membantu."
"Terimah kasih Garilla, semoga Tuhan selalu menjaga mu dan semua keturunanmu."
Dengan tertatih-tatih Andrea di bantu Garilla untuk keluar dari gudang penyimpanan menuju kamarnya. Tubuh Andrea bergetar menahan rasa sakit. Banyak lebam yang memenuhi tubuhnya, sayatan dan juga goresan. Arsula dan Sella sungguh menyiksanya tanpa ada rasa belas kasihan.
Garilla mencoba menahan tubuh Andrea yang terus bergetar, dia bekerja kerasa untuk membawa perempuan itu sampai di kamarnya.
Wanita berkulit hitam itu bahkan terlihat siaga karena tidak ingin Arsula dan Sella kembali dan menemukan mereka.
Keadaan Andrea juga semakin parah, wajahnya semakin pucat dengan darah yang tak henti-hentinya keluar. Di dalam langkah kakinya dia berdoa memohon agar Malvin segera tiba dan melihat keadaan Andrea.
Garilla sangat takut jikalau Andrea tidak bisa tertolong, dia akan kehilangan nyawa di usia yang sangat mudah. "Bertahanlah Andrea, kau harus tetap kuat untuk membalas mereka yang melakukan ini."