
"Jadi apa rencana kalian selanjutnya," tanya Selena ia menjauhkan pundaknya dari sandaran Zigo dan beralih duduk di samping Malvin.
Sudah satu minggu berlalu saat rencana awal mereka gagal karena Daniel tidak muncul, akhirnya mereka harus membuat rencana baru lagi. Dan masih dengan Selena tentu saja. Selama satu minggu itu pun juga Malvin merasa tidak nyaman, Selena terus menempel padanya dan di tambah lagi Andrea yang semakin uring-uringan mempermasalahkan segala hal. Andrea semakin sensitif jika nama Selena di sebutkan. Marisa dan Demetrio sampai harus terus bertengkar karena pria dingin itu tidak mau mengatakan apapun kepada kekasihnya.
"Bagaimana kalau kau yang menghubungi Daniel, katakan padanya jika kau ingin menemuinya, setelah dia datang selanjutnya adalah urusan kita."
Malvin menggeleng kepada Zigo. "Itu terlalu sederhana, dia akan menyadarinya."
"Bagaimana kalau kita buat mereka untuk bertemu dengan tidak sengaja, itu akan lebih terlihat natural. Selena sendiri yang akan membawanya masuk ke dalam jebakan yang kita buat. Bagaimana menurutmu Selena," ucap Demetrio. "Kita harus segera menyelesaikan ini, 2 minggu lagi Malvin, waktu kita semakin sempit," tambah Demetrio.
Pria itu berharap rencana mereka kali ini akan berhasil dan Selena, juga segera meninggalkan Malvin. Andrea sudah semakin curiga karena mereka berempat terus bersama di setiap waktu. Selena bahkan menyita semua waktu Malvin dengan alasan membahas rencana mereka, dan Andrea sama sekali tidak memiliki waktu berdua dengan pria bermata kelam itu. Demetrio juga bahkan sempat curiga wanita rubah itu sengaja membuat rencana mereka gagal agar bisa terus berada di dekat Malvin.
"Aku setuju, lebih baik jika Selena bergerak sendiri, jika kau sudah berhasil membawa Daniel masuk ke dalam jebakan. Maka, sekanjutnya aku yakin kita bisa menngkapnya," kata Malvin dengan penuh keyakinan.
Dia harus segera menyelesaikan masalahnya bersama Daniel, dan tidak harus berurusan dengan pemerinta. Jika yang ia butuhkan adalah senjata, maka Malvin akan memberikannya dengan syarat dia harus menjauh dan tidak lagi berurusan dengan Dio dela morte. Pria itu sudah banyak merugikannya karena membawa banyak barang miliknya, dia bahkan mengancam jika Malvin masih terus mempermasalahkannya maka dia akan melaporkan mereka kepada pemerintah. Maka jalan satu-satunya adalah menangkapnya lalu memberi pelajaran agar dia jera dan kapok untuk berurusan dengan Malvin.
"Baiklah. Kapan kita akan melakukan rencana ini?" tanya Selena.
Selena membulatkan mata. "Secepat itu? Bukankah kita harus mengatur terlebih dahulu bagaimana aku harus bertindak." Dia harus mencari alasan untuk mengulur waktu. Malvin harus jatuh ke pelukannya sebelum rencana mereka berhasil. Dengan begitu, dia bisa bersama Malvin setelah menyingkirkan Daniel.
Demetrio berdecak dengan tatapan tidak suka. "Kau hanya perlu mengikuti apa yang kita katakan, tidak susah untuk berakting. Bukankah kau seorang aktris, jelas itu adalah hal yang mudah."
Selena menggerutu kesal menatap Demetrio." Dasar menyebalkan," batin wanita dengan gaun merah selutut yang terkihat pres di badannya dengan belahan dada yang cukup untuk memperlihatkan setengah dari bagian dadanya.
"Lebih baik lebih cepat, aku tidak ingin Andrea terus meras curiga karena terus bersamamu wanita lain di setiap waktu. Dia sedang hamil, aku tidak ingin membuat dia berfikir macam-macam dengan kondisinya seperti itu," ujar Malvin dengan datar. Pria itu sudah sangat muak dengan tingkah Selena yang seperti tidak tahu batasan. Seperti sekarang ini, tangannya terus meraba bagian sensitif Malvin hingga rasanya ia ingin mematahkan tangan wanita itu.
Kedua pria yang berada di sisi Malvin hampir saja tergelak karena melihat reaksi Selena saat Malvin kembali mengatakan tetang Andrea, wanita rubah itu terlihat begitu kesal dan langsung menegakan tubuhnya. Tangan yang sedari tadi meraba tubuh Malvin ia tarik karena merasa begitu tersindir dengan kata-kata pria itu.
"Wanita mu sangat kampungan. Seharusnya ia bersyukur karena masih di beri kesempatan untuk menikmati tubuh pria tampan sepertimu. Aku sangat heran padamu Tuan Alexander, bahkan banyak wanita yang sangat mengiginkanmu. Namun, kenapa kau memilih wanita yang tidak pengertian seperti Andrea."
Setelah mengatakan semua itu, Selena menyodorkan segelas minuman yang baru saja di sajika seorang pelayan. Wanita itu menyunggingkan senyum di sudut bibirnya saat Malvin menghabiskan semua isi gelasnya.