
Sudah cukup lama ke empat orang itu membahas rencana untuk menjebak Daniel. Selena menggunakan kesempatan itu dengan terus bersandar di dekat Malvin, meski Zigo terus menggodanya. Namun, ia sama sekali tidak tertarik. Demetrio sampai harus berulang kali memisahkan keduanya.
Selena memaki, kesal dengan Zigo yang terus saja mengganggunya dan Demetrio yang seperti tidak paham dengan yang ia inginkan. Aplagi sikap Malvin yang dingin dan tidak peduli itu terlihat menjengkelkan. Membuat Selena semakin kesal, jika bukan karena ingin dekat dengan Malvin, ia tidak akan membantu mereka.
Malvin merogoh saku celananya karena merasakan getaran pada ponselnya. Bibirnya tersenyum tatkala melihat nama yang muncul pada layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, ia menekan salah satu tombol dan menerima panggilannya. "Ada apa? Kau merindukanku?"
Selena mengetatkan rahang dengan kepalan tangan saat Malvin mengatakan itu. Sudah berjam-jam dia menggodanya. Namun, tidak ada kata manis satu pun yang Malvin ucapkan padanya. Tetapi, sekarang ia mengatakannya dengan begitu manis bahkan sangat manis kepada kekasihnya.
"Cepatlah kembali. Kau tahu bukan aku tidak suka jika kau pulang dengan mabuk. Aku tidak menyukai bau alkohol menempel di tubuhmu." Andrea mengerucutkan bibirnya. Sejak hamil, ia memang tidak suka mencium bau alkohol, untuk itu Malvin sama sekali tidak pernah minum meski di paksa oleh Demetrio dan Zigo.
"Baiklah, aku kembali sekarang." Malvin memberikan kecupan pada ponselnya. "Aku mencintaimu."
"Wow ... wow ... wow. Apa itu? Ciuman lewat ponsel? Uhhh." Zigo merinding. "Apa kekasihmu, meminta untuk segera kembali?"
"Tutup mulutmu." Malvin membereskan barang-barangnya lalu beringsut. "Kalian lanjutkanlah, kita bertemu lagi nanti."
"Si, Sampai nanti."
Zigo dan Demetrio menyahut secara bersamaan. Namun, tidak dengan Selena. Wanita itu mengetatkan rahang menatap Demetrio dengan kesal. Dia berharap jika pria kaku itu bisa menahan Malvin untuk ikut bersenang-senang bersama mereka, nyata tidak. Mereka membiarkannya pergi begitu saja.
"Malvin!" Selena memekik saat pria bermanik hitam itu melangkah pergi. "Bukankah seharusnya kau melayani tamu yang kau undang? Tidak sopan bukan kau pergi begitu saja."
"Tapi--" Ucapan Selena terjedah karena Zigo menarik lengannya agar wanita itu jatuh pada pelukannya.
"Hei! Tenang saja manis. Kau tidak akan kesepian, aku dan Demetrio akan menemanimu sampai pagi."
"Lepaskan!" Selena menepis tangan Zigo, nada suara wanita itu terdengar sangat kesal.
"Astaga kau repot sekali Nona Selena, Malvin tidak akan melihatmu, kekasihnya jauh lebih menarik dari pada tubuh seksimu ini."
"Menyebalkan! Apa kau bisa diak Louis Zigo! Semakin kau bicara semakin membuat kepalaku sakit." Selena menyandarkan kepalanya dengan menutup kedua mata. Napas wanita itu memburu karena kesal, penolakan Malvin padanya benar-benar membuat dia murka. Apalagi Zigo terus mengganggunya membuat ia semakin tidak tahan dan ingin segera pergi dari sini.
"Kita lanjutkan saja besok, aku ingin pulang," ujar Selena dengan nada gusar.
"Hei! Kita baru saja akan memulai pesta, kenapa kau buru-buru."
"Aaaaaaa!! Menjauh dariku Zigo, kau membuatku semakin muak. Jika saja bukan karena Malvin aku tidak akan datang dan duduk di samping pria menyebalkan sepertimu." Selena menghentakkan kakinya keras lalu melangkah pergi dengan kemarahan.
Kepergian wanita itu di sambut gelak tawa dari Demetrio dan Zigo, akhirnya mereka berhasil membuat Selena kesal dan gagal dalam mendekati Malvin. Terlalu senang hingga keduanya tidak sadar saling tos di udara, saat sadar, Zigo langsung memasang wajah tajam ke arah Demetrio yang menatapnya dengan tersenyum tipis.