
"Ibu" Lou mengetuk beberapa kali.
Pintu besar itu terbuka, Ibu keluar dari sana. Seperti biasa, Wanita itu tersenyum hangat menyambut kedatangan Lou.
"Aku mau nginap beberapa hari disini, boleh nggak Bu?" tanya Lou sekenanya.
Wanita itu tersenyum hangat "Jangan nginap, Lou mau tinggal sama Ibu juga boleh" jawabnya.
Itulah Ibu, wanita yang Lou kenal sebagai Ibu dari almarhum sahabatnya, Ethan. Wanita yang selalu memperlakukan Lou dan Alaska dengan begitu baiknya. Memberi kasih sayang yang tidak pernah benar-benar Lou dan Alaska dapat dari Ibu kandung mereka.
"Maaf ya kalau rumahnya berantakan, Ibu habis pulang dari luar kota" katanya sambil menyiapkan tempat untuk Lou.
Lou meletakkan tasnya, membantu Ibu memasang bed cover untuknya. Lou mendudukan dirinya diatas tempat tidur setelah selesai memasang bed cover.
"Kayaknya Ibu baru pulang banget ya?."
Wanita itu ikut mendudukan dirinya di sebelah Lou "Banyak urusan di toko, makannya hampir nggak pernah dirumah." jealasnya.
Ibu itu pemilik toko kue dan juga butik, wanita itu sangat sibuk bahkan sulit untuk ditemui.
"Semalam Alaska telpon Ibu, katanya kamu mau nginap. Ibu cepat-cepat pulang dari Bandung" ah, rasanya sangat terharu pada Ibu yang rela pulang demi dirinya.
Lou memajukan tubuhnya memeluk Ibu "Nggak usah segitunya, Aku bisa pergi ke apartemen Aska. Lain kali jangan paksain Bu, pulang malam itu bahaya" katanya.
Ibu mengelus bahu Lou lembut "Ibu emang mau pulang, lagian diantar sama sopir" jelasnya. Ia merenggangkan sedikit pelukannya pada Lou "Berangkat sekolahnya kapan? Nanti telat loh."
Ah benar juga, Lou harusnya sekolah. Lou mengangkat sedikit tangannya, melihat jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 6:20. Ia harus segera berangkat, karena jarak menuju sekolah cukup jauh bila berjalan kaki.
"Yaudah aku berangkat kalau gitu" Lou meraih tangan Ibu untu bersalaman "Lou jalan dulu." pamitnya.
"Tunggu, biar ibu anter kamu."
"Lou pesan taksi aja didepan, Ibu baru pulang harus istirahat." segera Lou pergi secepatnya.
Baru saja Lou membuka pintu, ia dikagetkan dengan seorang gadis yang berdiri di depan pagar rumah Ibu. Sea, gadis dengan jacket jeans itu melambaikan tangan kearahnya.
Lou mendekat kearah Sea, menatap lamat gadis itu "Disuruh Aska?" tanyanya.
Sea mengerutkan keningnya "Aska? Siapa?" tanyanya tak paham.
Lou lupa bahwasanya hanya dia yang memanggil Alaska dengan sebutan itu.
"Alaska" ralatnya.
"Anggap aja sebagai bentuk terimakasih gue sama pacar lo, karena kemaren dia bawa teman-teman gue pulang dengan selamat" ungkap Sea dengan senyum tulus.
Lou menghela nafas kasar "He's not my boyfriend, He's my friend" bantahnya.
"Yeah, friend" Sea mengangguk membenarkan.
"Masuk mobil deh, kita berangkat."
Tanpa banyak bicara Lou segela masuk mengikuti Sea. Mereka melaju cukup kencang menuju sekolah. Mereka rupanya satu sekolah, dilihat dari seragam yang Sea kenakan di balik jacket jeans miliknya.
"Gue nggak perna lihat lo disekolah" Ungkap Lou.
Sea menoleh sejenak "Really? Kayaknya gue emang nggak pernah muncul ditempat ramai. Gue cuman dikelas atau nggak Rooftop MIPA" jelasnya.
"Bukannya nggak boleh naik kesana?." Karena Alaska pernah berkata bahwa siswa dilarang kesana.
"Nggak ada larangan kaya gitu, Alaska punya kuncinya. Tapi kalau buat lo, mending nggak usah kesana kecuali di ajak Alaska."
"Kenapa? bukannya lo bisa kesana."
"Gue udah biasa karena teman-teman gue juga disana. Kalau lo mending nggak usah, tempat disana nggak bakal cocok buat lo. Banyak yang ngerokok."
Seperti itu rupanya, Lou memang tidak terbiasa dengan asap rokok. Alaska juga tidak pernah merokok.
Mereka sampai di sekolah, saat mobil sudah terparkir dengan benar keduanya keluar. Sea dan Lou sontak menjadi perhatian pagi ini.
Koridor nampak ramai, sorak sorai lelaki disana membuat Lou tidak nyaman. Jika saja ada Alaska, lelaki disana pasti akan diam membatu.
"Lo terlalu mencolok Se, mending lo jalan duluan" Lou berucap dengan pelan.
"Lo yang duluan, tugas gue jagain lo. Jalan duluan kalau lo nggak enak jadi pusat perhatian" katanya.
Lou mempercepat langkahnya hingga sampai ke kelasnya. Baru saja memasuki kelas, Lou sudah disambut dengan beberapa orang perempuan tak dikenal yang mengerubuni meja miliknya.
Sebisa mungkin Lou melangkah dengan tenang, kedua tangannya terkepal erat. Saat matanya bertemu salah satu dari mereka barulah Lou tersadar, mereka yang menatapnya saat dikantin.
"Ini kenapa ya?." tanyanya.
"Louqina Marcella, right?."
"Kalian mau apa?" Lou bertanya dengan dingin.
Keadaan kelas belum ramai sekarang, hanya ada beberapa orang saja disana. Dan sepertinya Lou tidak akan terbantu dengan beberapa orang disana.
Seseorang dari mereka maju mendekat kearah Lou, Mengulur sebelah tangannya untuk berjabat tangan "Gue Dayana" katanya.
Lou mengapaikan tangan perempuan itu, menatap secara bergantian keempat orang itu "Apa tujuan kalian cari gue?" tanyanya.
Dayana menarik sudut bibirnya membentuk seringai "Gue nggak nyangka, perempuan yang dijaga Alaska ternyata kayak lo" ujarnya remeh.
"Kayak gue?" Lou melipat tangannya di depan dada "Gue kayak apa?."
Lou membentuk sebuah seringai saat tak ada satupun yang menjawab. Ia mendekatkan dirinya pada Dayana "Jangan macam-macam sama gue, lo bisa aja mati di tangan gue" bisiknya penuh ancaman.
"Lo!"
Sebuah tamparan menyapa wajahnya, Lou memalingkan wajahnya cukup lama. Saat derap langkah itu mendekat, ia mengelus pipinya.
"Kenapa lo tampar gue?" tanyanya.
"Lo tampar dia?."
Lou menoleh, mendapati Sea yang berdiri tak jauh darinya. Ditatapnya wajah Dayana yang sedikit memucat.
"Anji*g lo!" Sea mendorong kencang tubuh Dayana, hingga gadis itu terjatuh.
"Berani banget lo tampar dia" Sea nampak akan melakukan aksinya lagi.
Lou menyeringai penuh kemenangan "*****" ucapnya tanpa suara.
...
Hari ini sekolah pulang lebih awal karena rapat guru. Lou pergi lebih dahulu sebelum Sea mencarinya. Tujuan utamanya saat ini adalah belakang sekolah.
Dari kejauhan Lou dapat melihat seorang lelaki yang berdiri disana. Ia melangkah dengan cepat kearah sana. Lou memukul kencang bahu lelaki itu.
"Anji*g!."
Lou menatap dengan tajam "Dimana dia?."
Lelaki itu memberikan secarik kertas pada Lou, tapi sebelum benar-benar diserahkan ia berucap "Yakin lo nggak takut? gimana kalau dia nggak ada disana?."
"Sampai dia nggak ada disana, gue bunuh lo" nada penuh ancaman itu keluar begitu saja dari Lou.
Lelaki itu menyerahkan secarik kertas itu pada Lou, juga menunjukkan layar ponselnya "Ini buktinya. Lo tinggal bayar gue."
"Loker nomor 112." Lou segera melangkah pergi, tapi langkahnya tiba-tiba tertahan saat lelaki itu kembali berucap.
"Ini udah tiga tahun sejak hati itu, Apa lo yakin kali ini lo masih beruntung kayak dulu?."
Lou melanjutkan langkahnya dengan sudut bibir tertarik membentuk sebuah seringai. Ia akan beruntung lagi untuk kali ini.
...