
Ada satu fakta menarik tentang seorang Louqina Marcella. Gadis itu hanya punya satu mata yang berfungsi, lebih tepatnya mata kirinya. Mata kanannya tidak bisa melihat sejak lahir, bahkan kedua matanya memiliki warna yang berbeda. Mata kirinya berwarna coklat, sedangkan mata kanannya sedikit abu-abu seperti tertutup selaput.
Saat masih berada di bangku sekolah dasar, Lou menjadi anak yang dikucilkan oleh teman-temannya. Begitu disekolah maupun dirumah juga ia dikucilkan. Lou diejek habis-habisan karena matanya yang tidak normal.
Hingga suatu hari itu terjadi, hari dimana Lou dihina dan dimaki habis-habisan oleh anak-anak lain. Lou juga mendapatkan kekerasan fisik hari itu.
Tapi seseorang datang disana, berdiri seperti seorang pahlawan dengan wajah datarnya. Namanya Sky Alaska, lelaki yang masih berumur delapan tahun saat itu memukul habis anak-anak yang mengganggu Lou. Padahal hari itu Alaska masuk sekolah pertama kali setelah pindah, ia diskors selama dua hari karena hal itu.
Sejak saat itu tidak ada yang berani mengganggu Lou secara terang-terangan. Lou yang merasa dilindungi sangat bahagia saat Alaska kembali ke sekolah, ia mengikuti Alaska yang kebetulan satu kelas dengannya. Ke kantin, ruang guru, perpustakaan, bahkan Lou juga menunggu saat Alaska pergi ke toilet.
Alaska pada saat itu adalah sosok yang sangat kaku dan dingin. Lelaki itu punya banyak teman meski demikian, tingkahnya yang seperti itu malah membuat banyak anak perempuan yang ingin berteman dengannya.
Lou yang ingin berteman dengan Alaska hanya berani mendekati Lelaki itu tanpa bicara. Saat Alaska pulang ia nekat untuk mengikuti Alaska, karena anak lelaki itu berjalan kaki. Lou sangat penasaran dimana rumah Alaska makannya ia sampai nekat, tapi bukannya tahu rumah Alaska ia malah tersesat disana.
Lou kecil berjongkok di jalanan sambil menangis. Hingga saat ia mendengar langkah kaki kearahnya ia mendongak, menemukan Alaska yang menghela nafas kasar sambil menatapnya.
"Aku antar pulang" katanya meraih tangan Lou agar mereka segera berjalan.
Lou ikut saja saat Alaska menarik tangannya hingga mereka sampai depan gerbang rumahnya. Lou tidak pernah tahu bahwa lelaki itu selalu mengikutinya dari jauh saat pulang. Memastikan Lou tidak diganggu anak sekolah mereka saat dijalan.
"Aku pulang. Jangan pernah ikutin aku lagi" katanya.
Tapi Lou tidak gampang menyerah, setiap hari ia mendekati Alaska hingga lelaki itu menjadi temannya.
Saat menduduki bangku SMP Alaska sering bermain dengan teman-temannya yang lain. Lelaki itu hanya akan bermain dengan Lou saat hari sabtu dan minggu, jangan lupakan Alaska akan membawa Ethan untuk bermain bersama Lou.
Alaska bisa menyetir motor saat ia duduk di bangku kelas sembilan. Lelaki itu membawa Lou dan Ethan berbonceng tiga mengelilingi komplek setiap minggunya. Mereka bertiga sudah seperti tiga serangkai, membuat banyak Perempuan mendekat pada Lou hanya sekedar cari perhatian pada Alaska.
Lou bahkan mengalami bully lagi saat beberapa orang gadis tidak suka pada kedekatannya dengan Alaska si lelaki populer. Kasus bully itu bahkan berakhir dikantor polisi karena Lou mendapat banyak luka ditubuhnya. Tentunya Ibu yang membuat laporan itu.
Saat masuk SMA pertama kali, Ethan dibawa ke Singapura karena penyakit yang ia derita. Sedangkan Alaska berubah menjadi berandalan yang suka memukul orang-orang. Lelaki itu bahkan memukul orang-orang tanpa sebab.
Lou menatap tak suka pada Alaska yang berpenampilan jauh dari kata rapi, sangat berbeda dengan Alaska yang dulu "Aku nggak mau temanan sama kamu" ujarnya.
"Kenapa nggak mau, bukannya aku keren kalau kayak gini?" Alaska mengangkat alisnya heran, karena penampilannya banyak gadis-gadis yang menyukainya dan ia juga mendapat pujian dari beberapa kakak kelasnya.
"Kamu suka mukul orang, suka berantem, urakan. Aku takut kamu pukul aku" Lou mengutarakan ketakutannya.
Alaska menggapai tangan Lou tapi ditepis oleh gadis itu "Aku janji nggak akan pernah kasar sama kamu" katanya.
Lou menggeleng tak percaya "Bisa aja kamu pukul aku, aku takut sama kamu" ungkapnya.
"Jangn takut,aku nggak pukul kamu. aku janji" katanya.
Satu bulan mereka tak bertegur sapa sama sekali, karena Lou yang selalu menghindar. Alaska menjadi uring-uringan sendiri, ia bahkan menjadi lebih sensitif dari biasanya. Alaska berusaha untuk tidak membuat masalah dan mulai merubah penampilannya kembali..
Hari itu Alaska datang kerumah Lou untuk meminta maaf dan sekalian ingin mengajak Lou pergi. Tahu yang ia lihat saat itu benar-benar diluar dugaan Alaska, Lou dipukul oleh seorang lelaki lalu pintu ditutup rapat.
Mereka sama terkejut saat bertemu tatap satu sama lain. Alaska berjalan menghampiri Lou, membawa gadis itu menuju mobilnya. Alaska tahu alasannya, alasan mengapa Lou tidak suka melihat Alaska memukul orang-orang. Gadis itu mengalami hal mengerikan di rumahnya sendiri.
"Kamu bisa ngelawan" Alaska membuka pembicaraan.
"Mereka pukul aku tanpa aku bisa bicara buat jelasin semuanya" katanya.
"Baru sekali?"
Lou menggeleng "Dari aku kecil, mereka sering pukul aku karena aku salah" katanya.
Alaska tidak berani berucap lebih, ia hanya memutar-mutar setir tanpa tujuan. Setidaknya sudah setengah jam mereka mengelilingi jalan yang sama.
"Kita kerumah Ethan, dia baru pulang hari ini" putus Alaska.
Deringan ponsel Alaska membuat atensi keduanya teralih, apalagi saat nama kontak disana membuat Alaska menegang.
"Angkat Cel, Ibu telpon" katanya.
Cella, panggilan khusus dari Alaska untuk Lou.
Lou mengambil ponsel Alaska menggeser ikok hijau disana "Halo" sapanya.
"Lou, kalian cepat kesini. Ethan, E-ethan pergi" katanya.
Lou membulatkan matanya "Aska, Ethan pergi. Aska cepat kesana" katanya panik.
Alaska tidak berpikir jernih ia menginjak gasnya secara gila-gilaan. Tujuan mereka hanya sampai kesana secepat mungkin. Tangisan Lou di bangku penumpang membuat Alaska kalang kabut.
Jujur Alaska sedih karena harus kehilangan sahabatnya. Saat mereka sampai disana kondisi benar-benar kacau. Ibu yang meraung karena bukan hanya Ethan, tapi Ayah juga ikut pergi.
Kaki Alaska melemas, tapi tak separah Lou yang kini sudah jatuh bersimpuh. Gadis itu memeluk Ethan dengan erat, meraung sejadi-jadinya.
Kenangan itu tidak akan pernah terlupakan, saat itu adalah saat-saat paling hancur dalam hidup mereka. Kekerasan yang dialami Lou dan kepergian Ethan merupakan dua hal yang membuat Alaska tak bisa berfikir.
Mengapa mereka menjadi seperti ini, mengapa masa remaja mereka sangat tidak masuk akal. Bagaimana seterusnya jika saat ini saja mereka sudah mengalami hal semacam ini. Mungkinkah masih ada hari cerah di hari-hari berikutnya.
...