
"Sella?"
Andrea seketika lemas saat melihat wanita itu berdiri di hadapannya. Wajah pucatnya memperlihatkan bahwa dia sedang sakit. Namun, tetap saja. Andrea tidak bisa memungkiri jika wanita di depannya ini adalah seseorang yang jahat. Berniat memutar balik, Sella ternyata lebih dulu menahannya.
"Andrea tunggu!
"Jangan mendekat!" Andrea lebih memilih mengambil jarak di banding harus berhadapan. Trauma akan penyiksaan masih membekas jelas di ingatannya. "Apa yang kau inginkan Sella. Aku pikir Signore sudah mengabisi mu."
Sella tahu, Andrea sedang merasa ketakutan. Tangan wanita itu mengepal dan tidak berhenti bergerak. Maka dari itu dia berdiam di tempat. "Signora. Ya, pangilan itu lebih pantas untukmu."
"Apa maksudmu! Kau ingin membandingkanku lagi dengan majikanmu itu? Dia sudah mati, tidak ada yang bisa kau banggakan lagi di depanku," ucapnya dengan napas yang memburu.
"Signora, tenanglah. Aku tidak akan menyakitimu atau membandingkan mu dengan Nona Arsula."
"Kau pikir aku percaya. Menjauhlah sebelum aku berteriak."
"No! Tenanglah. Aku bersumpah tidak akan menyakitimu. Aku bukanlah Sella yang sebelumnya sering menyakitimu. Aku sudah berubah, Signora. Percayalah padaku."
Andrea menelan ludah kasar, mata abu-abunya menyipit untuk mencari kebenaran atas perkataan lawannya. "Apa yang membuatmu berubah, karena ketiadaan majikanmu kau menjadi baik, begitukah?"
"Bukan karena itu Signora. Aku tahu, kesalahanku cukup besar. Aku menyakitimu tanpa alasan. Dan itu ku lakukan hanya karena aku seorang pelayan yang harus mengikuti perintah majikanku. Sungguh, kali ini aku tidak akan melakukan apapun padamu. Aku hanya ingin meminta maaf.
"Meminta maaf?"
"Yah!"
Andrea menatap lekat mata Sella, wanita itu terlihat aneh. Namun, sepertinya dia memang tidak akan melakukan hal-hal yang aneh. Merasa Sella berkata jujur, tubuh Andrea seketika rileks. Fokus matanya kini beraih pada kaki Sella yang bergantung dengan tongkat penyangga yang melekat pada bahu kirinya.
Sella yang merasa sedikit risih dengan tatapan itu kemudian menunduk. Malu karena datang dengan keadaan seperti ini untuk meminta maaf. "Aku tidak bisa berjalan seperti orang normal lagi Signora, satu kakiku di amputasi karena luka yang membusuk."
"Sì, dia menembak ku saat tahu aku adalah orang yang membebaskan Nona Arsula, dan menolong Marco saat di Peulba."
"Apa?" Manik abu itu memperlihatkan emosi. Mata Andrea berkaca mengingat kembali kejadian waktu itu. "Lalu kenapa kau tidak di bunuh, kau melakukan kejahatan Sella. Kau bersekongkol dengan para penjahat itu bahkan kau menyelamatkan mereka dari maut. Seharusnya kematian adalah hukumanmu."
"Aku tahu! Aku tahu Signora, itu adalah kesalahan terbesarku. Tapi aku melakukannya karena terpaksa."
"Karena uang?"
"No! Signore. Tetapi demi Kedua orang tuaku."
Kalimat yang membuat Andrea membulatkan kedua bola matanya. Dia tertawa hambar. "Kau pikir kalimat itu bisa membuatku mempercayaimu?" Namun saat ingin melanjutkan Sella mendahuluinya, membuat wanita berdarah Meksiko itu kembali terdiam.
"Anak buah Marco menangkap kedua orang tuaku," ucapnya dengan cepat.
"Apa itu benar?"
"Kau ingin mendengar ceritaku Signora?"
Andrea berfikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk, dia berjalan mengikuti Sella yang menuntun untuk bisa duduk di kursi yang ada di taman.
Sella mengambil napas sejanak sebelum mulai bercerita. "Apapun yang kau pikirkan tentangku saat mendengar ceritaku nanti, aku tidak akan membela diri karena aku tahu itu adalah kesalahan ku. Aku meminta maaf atas segala kesalahan yang sudah ku lakukan padamu Signora.
"Akan aku pikirkan apakah aku memafkanmu atau tidak setelah ceritamu selesai."
Dan Sella tersenyum mendengar kalimat itu. Maaf dari orang yang pernah dia sakiti adalah kata terindah yang tidak boleh dia lewatkan.