
Setelah selesai dengan mandi, Andrea bergegas menyelesaikan misinya. Malvin mengirimkan pesan untuknya agar menemui Marisa untuk memastikan bagaimana perasaannya terhadap Demetrio. Sesuai dugaannya Marisa memang terlihat masih ragu, dia menganggap bahwa Demetrio mungkin hanya kasihan padanya. Namun, sebenarnya jauh di lubuk hatinya dia juga menyukai pria itu. Entah kenapa, rasa suka itu tiba-tiba muncul begitu saja. Seakan ada magnet yang membuatnya tidak ingin melewatkan rasa yang meskipun dia tahu hanya sekadar karena iba padanya.
Marisa memang pernah menjalin hubungan asmara. Namun, itu tidak lama. Setelah tahu jika Marisa hanyalah orang dari kalangan biasa, kekasihnya pergi dan meninggalkannya tanpa penjelasan. Pria itu menghianatinya dengan mengencani sahabat karibanya sendiri. Itulah sebabnya dia selalu ragu-ragu jika di dekati oleh pria kaya. Bernaung di bawah keluarga Andrea yang kaya raya tidak membuatnya lantas menjadi seseorang yang berkelas. Marisa juga tidak suka mengandalkan keluarganya dalam urusan apapun, dia selalu bekerja keras dan berusaha berdiri di atas kakinya sendiri.
"Aku bingung harus bagaimana Andrea, Demetrio tiba-tiba saja mengatakan jika dia ingin aku menjadi kekasihnya. Bukankah ini terlalu cepat"
"Lalu, jawaban apa yang kau berikan padanya?"
"Aku menerimanya, bahkan mengatakan hal-hal aneh saat dia menghampiriku di kamar tadi," ujar Marisa tertunduk Malu.
"Hei!" Andrea menangkup wajah saudara tiri yang sudah di anggap seperti saudara kandungnya itu. "Kenapa kau malu, tidak ada yang salah jika kau menerimanya Marisa. Bukankah itu jawaban yang benar, sesuai dengan hatimu bukan. Kau juga menginginkannya."
Andrea menyibak horden di kamar Marisa yang yang sung terhubung dengan taman yang sama dengan Keberadaan Demetrio dan Malvin. "Lihatlah," ujar Andrea mengajak Marisa untuk ikut melihat. "Pria itu tampak gelisah karena kau yang terus mengurung diri. Dia menyalahkan dirinya karena takut pengakuannya mengganggumu."
Andrea tahu Marisa hanya bingung dengan oerasannya yang tiba-tiba. Untuk itu Andrea menyarankan kepada Marisa agar berfikir kembali, Demetrio memang adalah pria dingin yang kaku. Namun, sebenarnya dia adalah pria yang baik, bahkan hubungannya dengan Malvin terjalin karena adanya bantuan Demetrio. Meskipun sedikit tidak menyukai pria itu karena selalu saja menjengkelkan. Namun, Andrea yakin Demetrio, adalah pria yang tepat untuk saudaranya
"Kita sudah bertemu, dia mendatangi ku tadi pagi. Dan aku sudah mengatakan jika aku serius dengannya."
Andrea berbalik seketika menyipitkan matanya. "Lalu kenapa kau masih mengurung dirimu di sini?"
"Aku malu," ujar Marisa dengan pelan.
Andrea membulatkan mata tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Wanita arogan yang selalu saja mengeluarkan kata-kata kasar juga bertingkah tegar kini merasa malu karena seorang pria. Bahkan pria itu adalah orang yang selalu dia ajak bertengkar.
"Malu?" Andrea terkekeh dengan keras. "Apa kau benar-benar Marisa, wanita arogan yang suka marah-marah itu?"
Andrea tahu jika Marisa baru pertama kali merasakan jatuh cinta meski sudah beribu pria yang menggodanya bahkan ada yang hampir membuat Marisa celaka saking terobsesinya kepada wanita pelukis itu. Namun, di antara seribu pria-pria itu hanya Demetrio yang mampu membuat Marisa bertekuk lutut.
Entah pesona apa yang di miliki pria dingin itu hingga Marisa bisa luluh. Mungkin, karena Demetrio memiliki hati yang tulus bukan karena obsesi napsunya kepada tubuh Marisa yang bah seorang model. Apalagi mendengar dari cerita Marisa bahwa Demetrio hampir membunuh seorang pria karena melecehkannya di bar kemarin malam membuat Andrea semakin yakin bahwa Demetrio bisa melindungi Marisa dari bahaya apapun. Sama Seperti Malvin, kedua orang itu ternyata memiliki kepribadian yang hampir mirip. Keras di luar. Namun, memiliki hati yang baik dan juga tulus.
"Kau tahu, dulu saat Malvin mengatakan ingin aku bersamanya, aku sempat ragu. Bahkan melakukan kesalahan dengan meninggalkannya. Dan itu membuat ku sangat tersiksa, aku sangat menyesal telah meragukannya Marisa." Andrea mendekap kedua tangan Marisa dan menggengamnya lembut. "Jangan lakukan kesalahan yang sama sepertiku, kau harus yakin dengan perasaanmu sebelum Demetrio kembali ke Verona Marisa. Dan malam ini kau harus memastikan apakah kau menerimanya atau tidak."
"Kapan kalian akan kembali ke Verona."
"Besok pagi."
"What! Secepat itu?"
"Maka dari itu, putuskan dengan cepat. Pastikan pilihanmu tidak mengecewakan orang yang mencintaimu Marisa. Lebih baik memilih di cintai dari pada mencintai. Karena tidak selamanya penantian akan berbuah manis."
"Aku tidak lagi menanti pria berengsek itu Andrea, dia sudah ku lupakan setelah menghianatiku."
"Kalau begitu terimalah Demetrio, dia pria yang baik. Percayalah padaku."
"Kau yakin!"
"Aku yakin."