
Flas back.
Malvin mengertak, giginya beraduh hingga membuat rahannya mengetat. Dia tidak percaya bahwa Arsula akan melakukan hingga sejauh ini. Bahkan hari ini dia harus berulang kali memperingati kekasihnya agar tidak bertidak di luar batas.
Wanita berambut pirang itu, membuat Malvin benar-benar harus mengeluarkan seluruh emosinya. Agar wanita itu sadar dengan posisinya, Malvin harus menyeretnya keluar Mansion. Namun, baru saja dia mengusir wanita itu, kini dia sudah kembali dan berbuat onar lagi. Dia bahkan mengancam akan membunuh Andrea jika wanita itu terus mendekati Malvin, padahal kenyatannya adalah sebaliknya. Malvin yang sedang mendekati Andrea.
"Baby!"
"Hentikan ini semua Arsula, sudah cukup."
"Ada apa denganmu, kenapa kau terus menghalangiku untuk membunuh wanita sialan itu. Bukankah kau membawanya ke Verona untuk di bunuh? Lalu kenapa kau malah terlihat mengasihaninya."
Malvin menatap datar ke arah kekasihnya, membuat Arsula sedikit bergidik melihatnya. Ekspresinya tidak dapat di gambarkan, apalagi mata kelamnya terlihat begitu menyeramkan untuk seorang Arsula.
"Berhenti merengek dan pergilah. Aku butuh ketenangan."
Wanita itu tertawa hambar. "Kau yang membutuhkannya atau wanita p e la c u r itu?"
"Arsula ...!!"
"Apa! Kau kira dengan berteriak seperti itu aku akan takut? Tidak!" teriak Arsula tidak kalah keras.
"Apa kau sedang menguji kesabaranku Arsula?"
"Aku?" Wanita itu menggeleng dengan bibir yang bergetar, meski sedikit takut dengan tatapan Malvin yang begitu tajam. Dia tidak gentar dan tetap menyuarakan hasrat untuk menyingkirkan Andrea. Arsula menelan ludah kasar sebelum lanjut berkata.
"Mana mungkin aku berani Baby, aku hanya sedang bingung padamu. Apa tujuanmu menaru beberapa penjaga di sini? Apa kau ingin melindungi Andrea dariku?"
"Aku hanya ingin tidak lagi ada keributan hanya karena masalah sepeleh."
"Aku melakukannya untukmu!"
"Dan aku tidak suka dengan fakta itu. Kau selalu mengatakan hal yang sama, karena diriku, untuk diriku, hanya diriku, itu semua membuatku muak."
Malvin berlalu meninggalkan Arsula masuk ke dalam kamar dengan amarah, pria bermata hitam itu membuang napas legah saat melihat Andrea yang sedang tertidur pulas. Gila rasanya jika dia melihat luka-luka pada tubuh Andrea. Hanya kepalan tangannya yang bisa mengekspresikan kemarahannya terhadap wanita yang sudah 3 tahun ini menemaninya.
"Untuk apa kau masuk ke kamar pelayan ini."
"Berhenti berteriak Arsula, kau mengganggu ketenangan orang."
"Kau menyuruhku diam karena wanita itu?"
"Apa perlu aku memanggil orang untuk menyeretmu keluar?"
"What?" Mulut Arsula hampir tidak mampu berkata, sesaat mata keduanya beradu. Kini Andrea berada pada dekapan Malvin. Pria itu menggendong Andrea dan berlalu pergi tanpa memperdulikan keberadaannya.
"Kita bicara nanti saja."
"Aku tidak mau, aku ingin bicara sekarang."
"Aku akan membaringkan Andrea terdahulu, setelah itu kita akan bicara."
"S h i t." Arsula mengumpat tiada henti, saat malvin pergi dengan membawa Andrea.
Setelah beberapa menit, Malvin keluar dengan mengunci rapat pintu kamarnya. "Baiklah! Apa yang kau inginkan sekarang, bicaralah! Aku akan mendengarnya."
"Kenapa harus dia! Aku menyiksa banyak wanita untuk mendapatkanmu Malvin! Bukan hanya sekali tapi berulang kali, lalu kenapa harus wanita ini yang kau pedulikan."
"Berhenti mengatakan itu, tidak ada yang berubah di sini Arsula. Aku hanya tidak mau ada lagi korban di Mansionku karena kecemburuanmu yang tidak masuk akal itu."
"Apa kau menyukai Andrea? Kau menyukai wanita pembunuh ini?"
"Dia bukan pembunuh Arsula."
Wanita itu tertawa hambar. "Kau mulai membelokan kenyataan Malvin. Dan kau lupa dengan tujuanmu membawanya ke mari."
Pria bermata hitam itu terdiam, itu memang benar. Sekejap dia lupa dengan tujuannya membawa Andrea ke Verona. Wanita itu membuat dia bimbang dengan perasaannya sendiri.
"Kau membawa wanita lain ke ranjangmu sementara kekasihmu ada di hadapanmu. Apa itu masuk akal?"
"Dia butuh istirahat, jika dia kamarnya tidak menutup kemungkinan kau akan kembali menganggunya."
"Oh god Malvin, kau benar-benar membuatku muak."
"Aku lebih muak dengan tingkahmu. Sudah cukup lama aku membiarkanmu melakukan sesuka hatimu, dan membiarkanmu memperlakukanku seperti orang bodoh yang terus saja memaklumi kejahatanmu."
"What?"
"Yah, aku selalu saja memakluminya karena tidak ingin melukai hatimu. Membiarkanmu melampiaskan kemarahan dan kecumburuanmu dengan melakukan sesuka hatimu. Itu karena aku mencintaimu, aku tidak ingin menjatuhkan keyakinan orang-orang bahwa kau adalah pasanganku. Tapi lihat, apa yang kau berikan padaku. Kau membalasku dengan penghianatan."
"Jika begitu maka singkirkan dia, aku akan kembali seperti Arsula mu. Arsula yang pendiam seperti keinginanmu."
Malvin mengabaikan setiap protes Arsula terhadap Andrea, Dia tidak ingin membahas di kala dia pun bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Semua itu mengalir begitu saja dari mulutnya tanpa dia rencanakan. "Kembalilah Arsula, ini sudah cukup larut," ujarnya berlalu masuk untuk melihat keadaan Andrea
"Mau kemana kau?"
Malvin menghempas tangan Arsula yang mencekalnya tanpa jawaban, dan itu semakin membuat Kemarahan Arsula semakin menggila.
"Aaarggh ...! Lagi-lagi kau mengabaikanku Malvin. Aku tidak akan kemana pun sebelum wanita sialan itu mati!"