Endless

Endless
Chapter 193



Andrea sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Namun, wanita itu belum juga sadar. Selama menunggu kesadaran Andrea pulih, Malvin sama sekali tidak beranjak dari sisi kekasihnya. Ia terus menggenggam tangan pucat dan dingin itu dan terus mengecupnya berulang kali.


Demetrio yang baru saja kembali dari kantor polisi itu langsung menghampiri sahabatnya. Dia kembali setelah menemani Marisa untuk menandatangani surat kepolisian atas penangkapan Selena. Dengan pelan, dia menepuk pundak sahabatnya untuk memberi semangat.


"Dia mengatakan jika dia menyesal telah melakukannya. Saat aku dan Marisa datang, Selena sedang mengamuk, dia ingin membunuh diri. Dia mengambil senjata milik seorang petugas, beruntung, petugas yang lain segera menangani."


"Semua ini adalah salahku, aku penyebab orang lain untuk melakukan kejahatan."


"Malvin .... "Demetrio duduk di samping Malvin. "Kau tidak bersalah, jika saja Selena tahu apa yang harusnya ia lakukan, semua ini tidak akan terjadi. Berhenti menyalahkan dirimu atas semua yang terjadi. Ini sudah menjadi takdir, jika bukan Selena, mungkin ada orang lain yang akan menyakiti Andrea." Demetrio mengatakannya dengan sedikit canggung, takut jika Malvin salah mengartikan ucapannya.


"Demetrio benar, ini bukan salahmu. Sekarang masalah sudah di atasi, Selena juga sudah tertangkap. Kita tinggal menunggu, laporan dari anak buahku," tambah Zigo.


Malvin dan Demetrio mengerutkan kening mendongak seketika menatap Zigo yang berdiri di depan mereka.


"Apa maksudmu?" tanya Malvin.


"Aku mengirim beberapa anak buahku untuk melacak keberadaan Daniel, dan juga memerintahkan mereka untuk menyebar kabar tentang penangkapan Selena. Tenang saja, aku yakin dia akan segera muncul."


"Kau benar, kenapa kita tidak melakukan seperti ini dari awal. Jika Daniel tahu Selena dalam bahaya, dia akan muncul tanpa harus mengirim Selena padanya," tambah Demetrio.


Malvin sedikit berfikir, lalu kembali menoleh pada Zigo dengan tersenyum. "Kau hebat saudaraku," ucapnya memberi dua jempolnya kepada Zigo.


Zigo mendengus. "Aku memang selalu hebat, kau saja yang baru menyadarinya."


"Dasar sombong!"


"Apa! Kau iri kawan?"


"Aku? Huh!" Demetrio berdecak lalu berbalik pergi dari dua saudara aneh itu. Lebih baik dia menemani Marisa di luar dari pada mendengar ocehan dari dua pria aneh itu.


****


"Belum," jawab Demetrio.


Marisa menghebuskan napas panjang. "Bagaimana aku harus mengatakan ini kepada Mommy dan Ayahnya. Mereka memintaku untuk menjaganya tapi aku malah membiarkan dia terluka di depan mataku."


"Sayang ...." Demetrio meraih kedua tangan kekasihnya. "Ini bukan salahmu."


"Tapi aku kakaknya, aku seharusnya menjaga dia agar tidak seperti ini," ujar Marisa dengan tatapan sedih. Ia ingin marah kepada Malvin. Namun, pria itu juga terlihat sangat frustasi dengan keadaan Andrea. Bahkan jika dia harus melampiaskan kemarahan itu kepada Selena pun semua tetap sama, tidak akan berubah.


"Dengar, kau sudah cukup menjaganya dengan baik. Kau adalah kakak yang baik, tidak perlu terus menyalahkan dirimu. Andrea baik-baik daja begitupun dengan bayinya. Itu lebih baik dari apapun sekarang."


Marisa mengangguk pelan lalu memeluk erat Demetrio. "Terima kasih Demetrio, kau hal terbaik yang aku miliki saat ini."


Demetrio balas memeluk Marisa. "Memberikan kecupan pada puncak kepalanya. "Aku mencintaimu."


Ucapan itu seketika membuat Marisa mendongak menatap wajah Demetrio dengan serius. "Kau tidak akan melamarku di sini bukan?"


"What?"


"Kau tidak akan melamarku seperti yang di lakukan Zigo tadi kan?" Marisa mengakhiri pelukannya. "Jangan lakukan itu di depan banyak orang. Aku tidak ingin mereka melihat wajah ku yang bersemu saat kau mengatakan itu."


Demetrio tertawa geli. "Baiklah, jadi kau ingin aku melamarku dengan suasana seperti apa. Apa harus di atas ranjang ketika kita selesai melakukannya? Kau terlihat sangat seksi jika berada di atas ranjangku," bisik Demetrio pelan.


"Sssttt ...." Marisa menutup rapat mulut Demetrio matanya liar melihat ke segala arah. "Apa yang kau lakukan, jangan katakan apapun tentang itu, bagaimana jika ada yang mendengarnya."


Dan tiba-tiba saja Zigo berdehem. Pria itu berlalu sambil berkata ke arah Demetrio. "Ingat! Ini rumah sakit, bukan di atas ranjang."


"Kau!!"