Endless

Endless
Chapter 39



Malvin berteriak sambil mengacak rambutnya frustasi. Namun, tidak dengan Santos, dia bernapas legah meskipun keadaannya sekarat karena kakinya tidak bisa bergerak akibat tertembak Malvin, yang terpenting keberadaan majikannya aman. "Apa kau juga mencari seorang wanita Signore?"


Pria itu mengeram, dia mendekat semakin rapat. "Di mana bajingan itu."


"Aku tidak tahu"


"Maka kau akan mati!."


Santos tersenyum menyeringai, dia sedikit rileks ketika tahu Marco sudah melarikan diri. "Bukankah kau sudah mengurung wanita dari majikan kami?"


Malvin semakin terkekeh mendengar tiap kalimat yang Santos ucapkan. "Dia bukan wanita yang sebenarnya, dia hanya korban yang Marco siapakan untuk mengelabuiku?"


Wajah Santos berubah seketika. Pria yang sedang mengeram karena luka yang dia dapatkan dari senjata Malvin itu menatap dengan penuh keheranan, bagaimana Malvin bisa tahu jika Marco memiliki wanita lain.


"Apa kau masih tidak ingin mengatakan di mana majikanmu dengan wanita itu?" Malvin menyeret Senjata miliknya pada leher santos.


"A-Aku tidak tahu keberadaan Tuan Marco, tapi wanita itu .... Dia tidak sedang berada di Milan."


"Bagaimana kau tahu dia tidak di Milan?"


"Dia selalu berkunjung 2 atau 3 kali dalam seminggu. Tetapi, sudah sepekan ini dia sama sekali tidak datang."


"Kenapa?"


Pria itu sejenak melirik ke arah senjata yang di pegang oleh Malvin. Menyadari Hal itu, Malvin malah menyipit dan menekan ujung pistolnya tepat di bagian telinga kiri Santos.


"Katakan! Atau akan aku hancurkan bagian dalam kepalamu."


Malvin mundur dengan seketika, tubuhnya hampir limbung mendengar apa yang di katakan oleh anak buah Marco. Meski sudah lebih dulu menyadarinya. Namun, mendengar orang lain mengatakannya itu sangat menyakitkan. Pria bermata kelam itu tertawa hambar dengan mengepalkan kedua tangannya, rahang jenjang miliknya mengetat memperlihatkan urat-urat nadinya.


"Jadi benar itu kau. Aku bahkan memanjatkan doa di sepanjang perjalananku agar semua yang aku curigai meleset dari namamu. Dan ternyata tidak, Tuhan benar-benar mengasihiku kali ini."


"Katakan, dimana dia?" tanya Malvin sekali lagi sambil memainkan senjatanya. Manik sendunya memperlihatkan jelas apa yang dia rasakan. "Dimana pria bajingan itu."


"Aku tidak tahu Signore."


Malvin tertawa, dia menguatkan tangannya menahan keras pada leher Santos. Malvin mencekiknya untuk memberi ancaman. "Di mana Marco!"


Santos meronta, dia hampir kehilangan napas sesaat sebelum akhirnya Malvin melepaskan cengkeramannya. "Apa kau tetap ingin mati untuk majikanmu itu? Lihat, sebagian kawananmu sudah ku lupuhkan di sini."


Santos terdiam, dia menarik napasnya dalam. Dan itu semakin membuat Malvin geram lalu kembali meneriakinya. "Di mana Marco!"


"Dia melarikan diri sebelum kalian datang, aku tidak tahu kemana."


Jawaban itu tidak cukup untuk Malvin, dia menarik pelatuk senjatanya dan mengarahkannya kepada Santos.


Dor ....


Suara tembakan terdengar di ikuti jeritan panjang Santos. Tanpa belas kasihan, Malvin kembali menembakkan 1 peluruh lagi pada kaki yang sama. 3 peluruh bersarang di sana tanpa jarak.


"Katakan pada majikanmu, aku akan kembali dan membunuhnya." Pria yang di juluki Dewa kematian itu berjalan keluar dengan wajah tanpa ekspresi. "Bereskan kawanannya, sisakan dia, agar menyampaikan apa yang terjadi kepada majikannya.