Endless

Endless
Chapter 24



Mata Andrea membulat melihat Arsula yang berdiri dengan tertawa di hadapannya.


"Siapa kau sebenarnya?"


"Aku adalah dewa kematianmu," teriak Arsula menekan pada perut dengan pisau yang baru saja menggores tangan Andrea. Membuat perempuan bermata abu-abu itu mengeram histeris karena merasakan sakit yang luar biasa. Mata sayu Andrea menatap Arsula saat perempuan itu menarik kembali pisau yang tertancap. Air matanya berlinang dengan rasa sakit yang tidak mampu dia tahan. Apalagi saat dia tersungkur ke lantai, rasa sakitnya seakan memotong setengah napasnya.


Air mata Andera mengalir deras, dalam bayangannya dia melihat seorang malaikat yang datang hendak menjemputnya, semakin dekat bayangan itu, semakin membuat dia terisak dengan ketakutan.


"Kau sama seperti anak kecil bodoh itu, sangat merepotkan. Kau membuatku harus bertindak sejauh ini agar posisiku aman dan tidak terganggu."


"Aku tidak mengerti dengan apa yang kau bicarakan Nona."


"Panggil aku Nyonya, aku tidak setara dengan mu perempuan hina."


"Kau bukan Istri Signore, untuk apa aku memanggilmu Nyonya."


Kali ini tatapan jahatnya kembali, bibirnya menyeringai sambil menyambak rambut Andrea.


"Tutup mulut mu wanita sialan."


Andrea pasra dengan siksaan yang di berikan Arsula, dia mengeram menahan sakit, berulang kali dia memejamkan mata dengan air mata yang terus menetes.


Arsula tersenyum lebar melihat air mata Andrea, tidak ada yang bisa melawan ketika dia sudah berkendak. Arsula terus menjambak lebih kuat pada rambut Andrea, hingga membuat perempuan itu terus meringis kesakitan.


"Signora, ku mohon lepaskan aku," ucapnya dengan terbata-bata.


"Kau sudah berani menyentuh milikku!" teriaknya dengan penuh penekanan. "Harusnya kau sadar di mana posisimu sebelum merayunya."


Kalimat itu berhasil membuat Arsula tertawa dengan keras. "Jadi kau pikir Malvin tertarik padamu? Mari kita lihat apakah dia masih akan tertarik setelah kau memiliki ini."


"Aaaakh."


Andrea menjerit kembali saat pisau Arsula menggores kulit wajahnya. Bagaimana goresan itu akan membuat wajahnya hancur dan tak lagi mulus dan cantik. "Signora, maafkan aku."


Arsula menggeleng dengan wajah cerianya. "Aku akan menghancurkanmu."


Tangan Arsula terangkat membuat Sella memberikan satu ember air kotor yang sudah di siapkan untuk menyirami Andrea. Dan tanpa kasihan dia menyirami air kotor itu pada tubuh Andrea. "Aaaahmmp!"


"Air kotor itu pantas kau dapatkan, kalian sama persis, kotor dan berbau," teriaknya melengking tepat di telinga Andrea, membuat perempuan itu semakin menangis terisak. Arsula lalu membuang ember bekas air kotor itu ke arah Andrea. "Aku akan menjadi mimpi burukmu untuk selamanya."


Andrea menatap kepergian Arsula dengan air mata berlinang, rasa sakitnya sungguh sangat tidak bisa dia tahan. Tusukan bahkan sayatan terasa sakit apalagi saat di sirami air kotor tadi, itu terasa sangat perih. Dan sekarang, Sella dengan kasarnya menepuk-nepuk pipi bekas sayata pisau tadi. "Kau ingat saat aku menanyakan apakah tidurmu nyenyak ataukah ada mimpi buruk? itu semua untuk ini. Apa kau menikmatinya?"


"Sella, lepaskan aku. Aku mohon."


Sella tersenyum, dia menendang pelan Andrea sebagai isyarat bahwa dia tidak peduli dengan penderitaanya. Sebelum pergi pelayan kejam itu berkata. Sella pun keluar bergabung dengan majikan kebanggaannya.


"Sella .... Aku mohon, jangan tinggalkan aku."


Andrea semakin panik saat tidak ada suara yang menyahuti dan suara pintu terdengar di tutup.


"No ...! Sella! Signora! Ampuni aku, aku mohon jangan tinggalkan aku. Signora!"