Endless

Endless
Chapter 154



Acara keluarga yang Lazaro adakan tidak berlangsung hingga selesai. Lazaro memutuskan untuk mengadakan makan siang biasa saja karena keadaan Malvin terus saja mual hingga sore ini. Dokter bahkan tidak mengijinkan Andrea untuk mendengar gejala apa yang sedang di alami Malvin. Ia hanya mengatakan jika kekasihnya mengalami masuk angin biasa. Sungguh membuat Andrea semakin merasa khawatir.


Ia menatap lekat wajah kekasihnya, terlihat jika dia sangat khawatir akan keadaan Malvin sekarang. Setahunya Malvin adalah pria yang kuat, dia bahkan bisa membantai musuh-musuhnya dengan cepat. Lalu bagaimana bisa dia mual dan muntah seharian ini dan alasannya karena masuk angin.


"Sayang! Apa yang Dokter katakan tadi. Beritahu aku."


Malvin tertawa pelan, Ia menatap wajah Andrea yang sedari tadi hanya menatapnya dengan kecemasan. "Seperti yang kau dengar Sayang, ini hanya masuk angin biasa. Istirahat sebentar juga hilang."


"Kau berbohong! Mana mungkin masuk angin biasa, katakan! Jangan menyimpan apapun dariku."


Malvin mengamati wajah cantik milik Andrea. Bukannya menjawab Malvin malah tertawa. Merasa lucu dengan raut wajah Andrea, ia seperti anak kecil yang sedang merajuk kepada ibunya. Malvin mengusap lembut rambut cokelat milik kekasihnya. "Apa kau masih merasa mual?"


"Sudah lebih baik."


Kalimat itu membuat Malvin menggesekkan wajahnya di dada Andrea, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Andrea yang membuatnya menenang sekaligus obat penghilang rasa mualnya. Perempuan itu merasa risih karena rambut tebal Malvin membuat kulit dadanya merasa gatal dan geli. Namun, ia menahannya demi memberikan kenyamanan untuk sang kekasih hati.


"Kita bisa kembali ke Verona, jika kau merasa tidak nyaman di sini. Bukankah Ayah dan Dayla sudah memberi restu atas hubungan kita. Kita tinggal memilih hari yang baik untuk pernikahan kita."


"Aku baik-baik saja Sayang. Biarkan keluarga mu sedikit melepas rindu denganmu, setelah itu kita akan kembali ke Verona."


Andrea sedikit merenung, hingga ia merasakan belaian tangan Malvin sudah menelusuri kulit punggungnya. Andrea sejenak terlena dengan belaian itu, ia memejamkan mata merasakan sensasi saat ujung jemari Malvin mulai berada di bagian leher jenjangnya hingga turun pada bahu mulus miliknya. "Malvin ...." Andrea mendesahkan nama kekasihnya dengan pelan.


"Jangan mendesah atau kau akan merasakannya."


"Aku akan bermain dengan pelan agar kau dan anak kita tetap merasa nyaman," ujar Malvin yang langsung menarik selimut naik menutupi tubuh munggil Andrea yang mulai terlihat berisi.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Andrea saat tangan jail Malvin dengan cepat membuka sweeter miliknya, menurunkan tali tanktop putih satin yang ia kenakan dan menurunkannya hingga pakaian dalam di bagian dadanya terlihat. "Hentikan! Apa kau lupa, Garilla melarang kita melakukannya. Aku takut jika bayi ki--"


"Jadi tidak boleh?" potong Malvin dengan wajah merajuk.


Andrea menggeleng dengan wajah serius. "Dokter menyarakan untuk melakukannya saat kehamilan di atas 5 minggu Sayang."


"Oh tidak! Kau ingin menyiksaku selama itu Andrea, tidak bisakah sekarang saja?"


Andrea terkekeh. Ia mengecup lembut pada bibir Malvin. "Sebenarnya, kita bisa saja melakukannya, masih aman. Akan tetapi, jika kita melakukannya dengan cara yang kurang tepat, dapat berakibat fatal untuk keselamatan bayi kita Sayang. Wanita yang sedang hamil muda berisiko mengalami pendarahan saat berhubungan intim, ini bisa menyebabkan terjadinya trauma plasenta yang memicu pendarahan serius yang berbahaya bagi diriku juga anak kita nanti." Andrea mendesah pelan. "Aku harap kau bisa mengerti."


Tidak ada jawaban dari Malvin, ia menaikan kembali tanktop dan memperbaiki penampilan Andrea kembali seperti semula. "Sayang sekali, padahal sudah setengah jalan."


Mata Andrea menyipit. "Setengah jalan?"


•••••••••


Kaga bisa tidur si babang Malvin🤣🤭