
Wajah Andrea bersemu merah, jantungnya berdegup dengan tidak beraturan karena baru saja Malvin mencium lehernya ia sudah mulai mendesah. Kini bukan hanya Malvin yang menginginkannya melainkan dia pun menginginkan Malvin.
"Andrea ...." Malvin mengeram, tatapan pria itu benar-benar sudah di penuhi gairah. Malvin melepaskan pakaian yang Andrea kenakan dengan perlahan, lalu menarik pinggang Andrea, dan membiarkan tatapan keduanya terkunci sesaat. Dengan perlahan Malvin mencium bibirnya yang merekah seakan meminta untuk segera di lahap.
Andrea sedikit memberi jedah pada ciuman mereka. Wanita bermanik abu-abu itu menghirup udara dalam-dalam. "Lakukan dengan pelan Sayang, aku mohon."
Malvin mengangguk dengan tersenyum, lalu kembali mencium Andrea, kali ini di ikuti dengan ******* dan belaian lembut di bibir Andrea. Tidak ada penolakan dari Andrea, ia malah membalasnya, membuat ciuman yang tadinya biasa saja, penuh dengan kelembutan dan berperasaan itu berganti menjadi bergairah dan penuh tuntutan di mana keduanya sama-sama menginginkannya.
"Ahh ...." Andrea mendesah pelan saat bibir Malvin beralih menuju lehernya. Bibir itu lalu turun hingga ke rahang dan mulai membautnya merasakan kenikmataan. Andrea memejamkan mata, sesekali ia mengigit bibir bawahnya karena merasa tidak tahan tiap bibir Malvin bermain di sana.
Malvin menjelajahi setiap jengkal tubuh Andrea tanpa merasa canggung, begitupun dengan Andrea. Ia menikmati cumbuan-cuman Malvin dan jiga gairahnya. Andrea meremas tambut Malvin saat bibirnya mulai mendarat pada dada miliknya. Menahan agar pria itu melakukannya terus dan terus lagi.
Malam berakhir panjang dengan *******-******* yang di keluarkan Andrea. Wanita bermanik abu-abu itu akhirnya luluh dan membiarkan Malvin menjelajahi tubuhnya. Andrea meminta pria itu untuk melakukannya dengan sangat pelan dan hati-hati.
"Kau yakin baik-baik?" tanya Andrea dengan sangat lembut. Ia meringkuk di dalam pelukan Malvin setelah keduanya selesai berhubungan.
Malvin mengangguk pelan. "Jauh lebih baik setelah melakukannya denganmu?"
Malvin menarik selimut menutupi tubuh Andrea yang polos. Ia mengangguk lalu memberikan ciuman singkat pada bibir ranum Andrea. "Aku mencintaimu."
Wanita bermanik abu-abu itu mendengus pelan. "Selalu saja merayu." Ujarnya memutar kedua bola matanya. "Sekarang tidurlah! Aku takut jika kau terus membuka mata kita akan terus melakukannya."
Malvin tersenyum kecil. Ia menangkup dagu wanita di pelukannya agar melihatnya. "Jika kau menginginkannya lagi, aku masih bisa Sayang." Bibir keduanya kembali bertemu, cukup lama hingga Andrea harus memaksa menarik wajahnya karena kehabisan napas.
"Tidak lagi Sayang! Cukup sekali saja," ucapnya memandangi wajah Malvin yang cemberut padanya. "Demi anak kita, demi impianmu dan impianku. Aku mohon!"
Malvin menunduk, mengecup kening milik Andrea yang sedikit basah karena keringat. "Terima kasih Sayang. Maaf jika keinginanku membuatmu sedikit merasa kesal."
"Tidak, aku mengerti. Aku tahu kau sudah berusaha untuk menahannya, bahkan aku pun kiga begitu. Tetapi demi membuat calon anak kita tetap aman, bisakah kita sama-sama bisa menahannya? Setelah dia lahir nanti, kau bisa melakukannya tiap saat."
Malvin mengangguk dengan wajah terharu. Ia tidak menyangka jika Andrea benar-benar ingin impiannya itu terkabul. Ia sadar jika tidak seharusnya dia memaksa untuk berhubungan. Selama beberapa saat, Malvin terus menatap Andrea, wanita itu menyembunyikan wajah di dadanya dan mulai terlelap.
"Tidurlah, sepertinya kau kelelahan."