
Klub malam begitu ramai dengan para pengunjung, suara musik memenuhi pendengaran Malvin begitu dia masuk. Malvin melangkah lebar saat beberapa wanita hendak menggodanya. Dia berjalan melewati keramaian menuju lantai paling atas di mana para pengusaha penting di Milan sering bersandar dengan alkohol menikmati sajian para wanita-wanita penghibur.
Ketika pintu terbuka, beberapa pasang mata itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya saat melihat wajah Malvin muncul. Salah satu anak buah Marco hampir saja lari menembus dinding kaca saat melihat pimpinan kartel yang paling di takuti di Italia itu muncul. Pria itu menatap dengan wajah pucat pasih, seakan melihat kawanan hantu.
Pria bermata kelam itu berjongkok, dengan wajah datar dia bertanya kepada pria yang Malvin yakini adalah manager klub yang terjatih karena menabrak dinding pembatas kaca. "Di mana majikan kalian?"
"Si--Signore Malvin?"
Bibir pria yang penuh dengan tato itu gemetar mengucapkan nama pria yang ada di hadapannya. Bahkan tubuh tingginya pun ikut bergetar mengingat Malvin adalah pria dengan julukan dewa kematian. Rasa takut membuat dia merangkak mencoba untuk melarikan diri. Namun, sayang, Malvin lebih dulu menembakan satu peluruh pada kaki kirinya hingga membuat dia terkapar kembali di lantai.
"Diam di tempat jika kau tidak seluruh tubuhmu bersarang isi dari senjataku."
Tubuh Santos menegang, bukan hanya kesakitan yang dia rasakan tapi ketakutan akan tatapan Malvin yang seakan menembus jantung. Pria berkulit hitam dengan tato segi 3 di lengannya itu menggeleng keras. "Apa yang kau inginkan Signore."
"Majikanmu! Di mana dia?"
"Dia tidak ada di sini, Signore."
Malvin terkekeh, dia kembali menarik pelatuk hingga suara tembakan itu kembali menggema di ikuti teriakan Santos. "Aaaaaaaa ...."
"Katakan, di mana majikanmu. Jika tidak tempat ini akan aku bersihkan hingga tidak berbekas."
"Tidak! Jangan lakukan itu Signore, aku mohon. Kami benar-benar tidak tahu dimana Tuan Marco."
"Baiklah." Sedetik setelahnya, Malvin, memberi isyarat kepada Demetrio untuk membereskan semua anak buah Marco yang lain. Tanpa rasa takut, pria yang jarang sekali bicara itu memainkan pelatuk hingga suara dentuman peluruh berbunyi di segala sisi ruangan. Tanpa senyum, Demetrio melakukannya hingga peluruh terakhir, membuat Santos sama sekali tidak berkutik. Anak buah Marco yang sudah terkapar dengan 2 tembakan di kakinya itu diam seperti tidak bernyawa.
"Katakan, di mana dia."
"Aku tidak tahu."
Malvin kembali menembak dengan membabi buta. Para pengunjung di lantai bawah berteriak histeris saat Mendengar bunyi tembakan. Banyak yang berlari tak karuan hingga saling bertabrakan. Anak buah Marco tergeletak bersimbah darah di mana-mana. Ini menjadi bukti bahwa Malvin benar-benar sedang murka.
"Katakan di mana dia?"
"A-aku tidak tahu Signore."
"Kau ingin bermain teka teki denganku?"
"Tidak Signore, aku tidak berani."
"Kalau begitu, katakan di mana Marco sekarang."
Wajah Santos begitu pucat, tangannya dingin. Malvin berjongkok untuk bisa menatap mata pria yang sudah membuatnya hampir gila karena menyebabkan dia kehilangan adik semata wayangnya. "Kau akan mati di sini jika tidak memberitahu di mana keberadaan Majikanmu."
"Signore." Demetrio datang dan mendekat. Dia berbisik pelan pada telinga Malvin. "Marco tidak ada, sepertinya ada yang memberitahu tentang kedatangan kita."
"Sh*itt!!" umpat pria itu. Serasa tenggorokannya tercekat, Malvin menengok ke arah Demetrio, mengambil napas panjang. "Periksa seluruh tempat ini, jangan lewatkan apapun dan temukan bajingan itu," ucapnya lalu melangkah menjauh.