
Malvin melaju dengan kecepatan di bawah-rata. Sudah mulai sore dan jalanan semakin ramai, dia bahkan harus beberapa kali terhenti karena tertahan antrian mobil yang panjang. Setelah lengah, pria itu melaju menuju sebuah tempat yang akhir-akhir ini jarang dia datangi.
Malvin menyimpan seikat bunga Daisy yang dia beli di perjalanan tadi di atas nisan adiknya, mengelus lembut di sana untuk memberi tanda bahwa dia ada di sini.
Pria dengan manik hitam itu menarik napas dalam. "Maaf, aku baru mengunjungimu. Beberapa hari ini, aku menyibukkan diri untuk mencari dia yang membuatmu meninggalkanku." Malvin tersenyum membayangkan adiknya akan tenang saat dendamnya sudah di selesaikan.
Sedetik setelahnya dia kembali terdiam. Pria yang sedang di landa kekecewaan itu memejamkan mata, mengambil napas dan mulai lagi untuk bicara.
"Daisy, adik ku yang manis. Ku harap kau tidak marah saat aku mengatakan ini padamu, ada banyak cerita bahagia di banding kesedihan yang ingin aku ceritakan hari ini. Selain kau, ada seorang wanita yang mampu membuat hatiku tenang. Mungkin karena dia sepertimu. Selalu tersenyum bahagia meski memiliki masalah yang berat. Dia selalu tenang, membuatku merasa nyaman, kau ingin tahu siapa namanya? Namanya adalah Andrea, Andrea Pricillia."
Malvin terkekeh mengingat bagaimana dia bisa membawa wanita itu datang padanya. " Awalnya ku pikir dia adalah bagian dari Marco. Aku mengambilnya dengan paksa dari keluarganya, membawanya ke Verona dan mulai menyiksanya. Akan tetapi ...."
Malvin menjedah kalimatnya, lalu mentralkan napasnya yang mulai memburu. "Aku malah jatuh cinta dengannya," ucapnya dengan nada yang berat.
Angin malam mulai berhembus, matahari sudah tenggelam dan langit mulai gelap. Namun, Malvin masih di sana, duduk bersimpuh pada makam adiknya dengan wajah sendu.
"Namun sepertinya kenyaman itu adalah mimpi, dia menganggap perasaanku sebagai ilusi, dia membuat ku kecewa Daisy, aku tersakiti dengan keinginanya untuk bebas. Malam ini dia akan meninggalkanku di saat aku pikir dia akan terus bersamaku, menemaniku membalas dendam yang membuat awal dari pertemuan kita."
Seperti biasa, tidak ada jawaban dari semua kalimat yang dia ucapkan tiap kali berada di sini. Hanya angin dan detik jam tangannya yang menyadarkan Malvin jika waktu terus berjalan. Dan itu artinya pesawat yang akan membawa cintanya akan terbang menjauh darinya.
"Daisy, apa yang haru aku lakukan?" Manik hitam itu terhentak, merogoh saku celananya mengambil ponsel yang bergetar. "Ada apa?"
"Signore, Andrea sepertinya demam?"
Malvin menarik napas dalam. "Lalu di mana dia sekarang?"
"Apa dia setuju untuk kembali ke Mansion?"
"Tidak," jawab Demeterio pelan. Dia tahu Malvin pasti akan kecewa mendengar itu.
"Ikuti yang dia inginkan."
"Tapi Signore, suhu tubuhnya semakin tinggi, aku takut terjadi sesuatu ketika peswat sudah tinggal landas."
"Hubungi petugas bandara, katakan jika salah satu penumpang mengalami gangguan kesehatan."
"Aku sudah melakukannya Signore, tetapi Andrea menolak untuk di obati. Dia mengatakan akan baik-baik saja setelah tidur sejenak."
Tangan Malvin mengepal. "Wanita kerasa kepala, dia selalu membuat orang lai merasa khawatir tapi tidak pernah menghawatirkan orang lain."
"Lalu, apa yang harus aku lakukan."
"Berikan obat agar demamnya turun, paksa dia untuk meminumnya."
"Sì, aku mengerti."
"Jaga dia, tetap berada di dekatnya Demetrio, jangan tinggalkan dia sendirian. Pastikan dia baik-baik saja hingga tiba di Puelba."