Endless

Endless
Endless Seven



Kerlingan jahil Alaska saat mereka turun dari mobil adalah hal paling menyebalkan untuk Lou. Pasalnya, parkiran saat ini sedang ramai-ramainya dan ia tidak ingin membuat dirinya terancam bahaya karena lelaki ini. Meski semua orang tahu kedekatan mereka tapi tetap saja ada beberapa oknum yang merasa tidak setuju.


"Benar kan?" Alaska kembali mengerlkng jahil, mendorong kecil bahu Lou yang berjalan didepannya.


"Apa?!" Lou berseru galak, ia sangat tidak suka situasi saat ini.


Secepat mungkin Lou melangkahkan kakinya, ia mempercepat langkahnya saat melihat Anin yang berada di koridor. Meninggalkan Alaska yang kini berbicara pada teman-teman lelaki itu.


"Hanindya Skyle" Lou berbisik pelan pada telinga sepupu Alaska itu.


"Nggak kaget"


Lou mencebikkan bibirnya tak terima"Nggak niat juga sih ngagetin lo"katanya.


Anin tersenyum memaklumi "Udah ketemu sama Alaska?" tanyanya.


"Udah" Lou menjawab dengan semangat.


"Kenapa kalian nggak pacaran? Bukannya lebih bagus kalau kalian pacaran?"Anin penasaran.


Melihat kedekatan mereka berdua selama sepuluh tahun, rasanya aneh jika keduanya tak punya perasaan pada satu sama lain. Melihat tingkah keduanya selama ini, apalagi Alaska yang bersikap sangat jelas kalau lelaki itu mempunyai rasa pada Lou.


"Kita nggak mau hancurin persahabatan kita, lagi pun kita lebih nyaman sama hubungan yang sekarang" jelas Lou.


Karena sebenarnya mereka berdua punya sebuah alasan yang lebih dari itu, alasan yang hanya mereka berdua ketahui.


"Iya sih menurut gue-"


"Itu Alaska!, anj tolongin lh bangsa*t" Seruan heboh yang memotong ucapan Anin membuat keduanya menoleh.


Lou menatap pada objek disana dengan pandangan terpaku. Di area parkiran Alaska memukul satu orang lelaki, nampak sekali lelaki itu sudah tidak berdaya lagi karena pukulan yang Alaska layangkan.


.


"Nggak nyangka ya Al. Lou bisa secantik itu sekarang, nyesel banget gue nggak dekatin dia dulu"


Alaska menghentikan langkahnya, menatap lelaki berambut cepak yang memberi tatapan jahil padanya "Maksud lo apa?" tanyanya dingin.


"Enak nggak Al? Bisa lah kali-kali bagi sama gue?" katanya ambigu.


Alaska mendekat, mencengkram kerah baju lelaki itu dengan rahamg mengeras. Beberapa lelaki disana menatap Alaska diam saja, tak ingin ikut terlibat pada lelaki berandal satu ini.


"Tarik ucapan lo" desis Alaska.


Lelaki berambut cepak itu mengangkat alisnya, seolah tidak takut sama sekali ada sosok Alaska saat ini "Bukannya benar? Nggak mungkin kalian nggak ngelakuin-"


"Anjin*g!! " Alaska mengumpat dengan geram "Tarik ucapan lo sebelum terlambat!. "


"Belum ya? Kalau gitu gimana kalau gue-" Hantaman itu mendarat tepat pada rahang kanan.


Alaska menatap lawannya yang terjatuh dengan nafas memburu, ditariknya kerah lelaki itu hingga berdiri kemudian ia hantam lagi. Alaska membabi buta, tendangan juga tinjuan terus ia layangkan seolah tidak ada kata ampun.


"Gue udah peringatin lo buat tarik ucapan itu kan" Alaska lagi-lagi menghantam wajah lelaki itu dengan tinjunya "Harusnya lo dengarin" sekali lagi ia layangkan tinju itu kemudian menendang perut lelaki itu dengan kencang hingga terjatuh.


Alaska mendekat, menunjuk tepat pada wajah lelaki itu"Sekali lagi kata-kata kotor itu gue dengar, Siap-siap lo gue habisin" nada penuh ancamam itu terdengar mengerikan.


"Jangan pernah-"


Alaska mengerjap beberapa kali untuk mengembalikan kesadarannya, bahwa yang berdiri dihadapannya saat ini adalah perempuan kesayangannya. Alaska tidak menjawab, ia segera meraih tangan Lou yang berada di wajahnya untuk ia genggam. Menarik Lou dengan langkah terburu-buru, meninggalkan semua kekacauan dan pandangan yang ia ciptakan.


Sepanjang koridor tidak ada satupun yang berani menatap kearah Alaska, Anin yang tadinya mengikuti mereka pun terpaksa berbelok kearah lain. Di situasi seperti ini, Lou sungguh merasa semakin masuk pada bahaya.


Mereka berhenti setelah mencapai kelas, Alaska menarik bangkunya untuk duduk. Lelaki itu menelungkupkan wajahnya ke atas meja tanpa melepaskan genggaman pada tangan Lou.


Sementara Lou berdiri kaku bak patung, apalagi beberapa orang yang berada di kelas menatap dirinya dengan pandangan bertanya.


"Gue nggak suka dia bicara gitu" Alaska mengangkat wajahnya, menatap Lou yang nampak bingung atas sikapnya.


"Hey"


"Dia bicara kotor tentang lo, apa gue harus diam aja?" lebih dari setengah hidupnya ia jalani bersama Lou, menjaga gadis itu dari orang-orang jahat yang selalu mengintai. Meski kadang kala ia juga kecolongan.


"Aska" Lou mencoba menenangkan, ia benci orang-orang yang selalu berambisi menjatuhkannya. Karena hanya akan ada Alaska yang selalu menanggung semuanya, lelaki itu yang akan selalu merasa bersalah padanya.


"Jangan pernah terluka tanpa seizin gue, bukannya gue udah bilang hm?"


...


"Kemana?" Alaska meraih tangan Lou saat gadis itu bangkit dari tempat duduknya. Bebisik pelan karena pelajaran sedang berlangsung saat ini.


"Bu, Saya izin ke toilet" pamitnya sekaligus menjawab pertanyaan Alaska. Karena diberi izin, Lou segera melepas tangan Alaska yang berada di lengannya.


Toilet sepi karena pelajaran sedang berlangsung, Lou masuk ke salah satu bilik disana untuk menyelesaikan urusannya. Lou baru saja selesai dan akan membuka pintu jika saja tidak mendengar suara beberapa orang diluar sana.


Lou memilih untuk tetap diam disana sementara waktu. Takutnya mereka yang diluar bukan orang yang akan bersahabat padanya.


"Lo lihat kan jala*g itu? Dia pasti kepedean karena Alaska yang bela dia mati-matian" Lou dapat mendengar hal itu dengan jelas.


"Lagian apa cantiknya sih, anj. Cantikan gue juga kemana-mana, kenapa Alaska lebih suka sama perempuan buta itu sih"


Lou sebenarnya tidak tahan lagi untuk tetap bertahan disini, tapi jika ia keluar sekarang pasti akan terjadi masalah.


"Lo kalah tuh sama si buta."


"Diam ya anj" nampak seruan kekesalan dari salah satu gadis disana, kemudian suara itu terdengar lagi "Kayaknya gue harus kasih pelajaran sama si buta."


"Yaudah sih, tapi gimana caranya buat Alaska jauh sama dia?."


Lou menghela nafas kasar, bahkan sekarang ia mendengarkan orang-orang yang berniat tidak baik padanya. Ingin sekali Lou keluar dari sana lalu meneriaki mereka semua, tapi Lou tidak akan seberani itu terlebih dia sendirian sedangkan mereka entah ada berapa.


Sebuah pukulan pada pintu membuat Lou terperanjat "Ada orang" suara diluar sana terdengar.


"Lo yang di dalam awas kalau bicara macam-macam, siap-siap lo berhadapan sama gue. Ngerti?"


Lou diam, karena bisa saja mereka mengenali suaranya jika ia menjawab. Lou membekap mulutnya rapat agar tidak bersuara.


"Bisu kali, nggak ada jawaban" lalu setelahnya langkah kaki itu menjauh.


Lou bisa bernafas lega karena mereka sudah pergi, tapi bukan berarti dia bebas sekarang. Ia bahkan tidak tahu mereka siapa, bisa saja mereka adalah orang-orang dekatnya.


Lou tidak bisa mengenali suara itu, karena dari kecil ia tidak pandai menghafal suara disekitarnya. Sampai saat ini hanya suara kedua orangtuanya, Ibu dan Alaska yang ia hafal.


....