Endless

Endless
Chapter 190



Selena menatap jijik ke arah Andrea. "Dasar wanita penggoda. Apa kau pikir dengan mengandung anaknya kau bisa menggantikan posisi Arsula di hatinya? Tidak. dia sama sekali tidak menginginkanmu Andera. Dia akan membuangmu saat anakmu lahir nanti."


Seperti belatih yang tertikam di dadanya. Rasanya sangat sakit mendengar seseorang mengatakan sesuatu tentang anaknya. Bukan salahnya jika hubungan Malvin dan Arsula berakhir dengan maut, bukan karena anak yang ia kandung Malvin membunuh Arsula. Tetapi obsesi dan keserakahannya yang membuat dia terpaksa di bunuh.


"Andrea, jangan dengarkan kata-katanya. Aku mencintaimu, bahkan sangat mencintaimu. Kau tahu itu. Tidak ada yang lebih penting di banding kau dan anak kita."


Andrea tertawa setelah membeku beberapa saat. "Untuk apa kau menjelaskannya. Aku tahu kau sangat mencintaiku. Tapi ...." Andrea menjedah ucapannya, menatap manik hitam di depannya dengan sangat lekat. "Apa kau benar-benar sudah melupakan Arsula?"


Andrea mengatakan kekhawatirannya dengan lantang. Meski hubungannya dengan Malvin terbilang sangat intim. Namun, ia tidak ingin jika kejadian Arsula terulang lagi. Malvin menyingkirkannya meski keduanya sudah menghabisakan beribu-ribu hari yang menyenangkan. Lalu, bagaimana dengan dirinya yang baru saja mengenal pria itu. Apa dia akan menyingkirkannya jika mendapatkan wanita lain.


"Sayang, bagaimana kalau kita hentikan semua ini. Aku tidak ingin kau sakit. Demi Tuhan aku sangat khawatir."


"Kau belum menjawab pertanyaanku Malvin."


"Andrea .... Aku mohon, hentikan. Jangan dengarkan dengan kata-kata yang di ucapkan Selena. Dia hanya memancing emosimu."


"Jawablah Malvin, kekasihmu sedang menunggu." Selena tertawa pelan karena Andrea memakan semua umpannya dengan baik.


"Jawablah."


Tatapan mata Andrea telihat kosong. Dan itu terlihat semakin menyedihkan saat wanita itu menatapnya dengan raut wajah sendu.


"Apa yang harus aku jawab. Apa aku harus mengatakan dengan keras di sini? Baiklah!" Malvin menarik napasnya menahan emosi yang kian membesar kepada Selena karena sudah membuat Andrea meragukannya. Demi membuktikan jika ia benar-benar mencintai Andrea, dia harus berteriak di depan semua orang.


"Aku mencintaimu! Aku mencintaimu! Aku mencintaimu Andrea Pricillia! Berhentilah, kau membuatku takut." Malvin mencium wajah Andrea beulang kali.


Mata wanita yang tadinya berkaca itu seketika mengeluarkan cairan bening. Andrea menangis sekeras mungkin menyalahkan dirinya karena baru saja meragukan Malvin karena kecemburuannya yang tinggi. "Maafkan aku."


Hendak memeluk kekasihnya, tiba-tiba Selena mendorong tubuh Andrea dengan kuat. Membuat tangan Andrea yang mengayun tidak sengaja menyenggol Vas bunga kaca di dekatnya. Vas itu terjatuh sebelum punggung Andrea menyentuh lantai, akibatnya ia tertusuk pecahan dari vas bunga itu tadi.


"Andrea!" Malvin yang kaget seketika berteriak dengan keras dan bergerak meraih tubuh Andrea yang terjatuh. "Apa yang kau lakukan Selena, apa kau sudah gila!" Mata ngalang Malvin mem aut wanita itu sektika memundurkan langkah.


Andrea meraih tangan Malvin, ia mengigil ketakutan. Rasa sakit saat pecahan kaca itu menusuknya membuat setengah napasnya tercegat dan hampi membuatnya tidak bisa bernapas.


"Malvin Andrea terluka! punggungnya tertikam pecahan vas," pekik Zigo saat melihat pecahan kaca yang berserakah itu ada bekas darah.


"Apa?" Menyadari jika darah terus keluar membuat Malvin serentak linglung, bibir pria itu bergetar dengan mata yang sudah memerah dan berpendar. "Aa--Andre, Andrea! No ... No. Andrea sadarlah jang tutup matamu aku disini."


Mata pria itu mencari seseorang. Namun, tidak terlihat membuat dia semakin panik. "Tidak! Tidak! Buka matamu, buka matamu jangan membuatku takut, Demetrio! di mama dia, cepat siapkan mobil!"


"Dia tidak ada!" Zigo berlari mengambil kunci mobilnya, Melihat Malvin yang masih linglung membuat kepanikannya semakin menjadi-jadi.


Begitupun dengan Selena, dia tidak mengira akan terjadi seperti ini. Hendak melarikan diri. Namun, Marisa menghadangnya dengan cepat.


"Mau kemana kau wanita gila."


"A-aku minta maaf. Aku tidak sengaja melakukannya."


"Tidak sengaja kau bilang? Saudaraku terluka karena perbuatanmu wanita gila!" teriak Marisa dengan tatapan tajam. "Jangan harap kau bisa lolos setelah melukainya."


"Bawa dia ikut Marisa. Dia harus bertanggung jawab atas semua yang sudah dia lakukan."


Setelah mengatakan itu Malvin berlari ke mobil, Zigo sudah menunggunya di dalam mobil. Andrea sudah tidak sadarkan diri dan darah masih terus keluar membuat Zigo dan Malvin harus segera membawanya.


"Malvin, aku benar-benar tidak sengaja melakukannya," teriak Selena pada laki-laki yang fokusnya sudah teralihkan oleh wanita yang sedang ia gendong.