
"Buon giorno caro. (Selamat pagi Sayang.)" Malvin memberi kecupan singkat pada pipi Andrea.
Buon giorno.( Selamat pagi)." Andrea membalasnya dengan tersenyum manis. Membuat Malvin merasa gemas dan memberikan ciuman pada bibirnya.
Pipi Andrea bersemu merah karena perlakuan itu. Apalagi semalam dia bahkan seperti wanita buas yang haus akan kemesraan. Dia bermain dengan cukup liar untuk menaklukan kebuasan seorang Malvin yang tentu saja ahli di atas ranjang.
"Kau ingin mandi bersamaku?"
Mata Andrea hampir saja keluar mendengar itu. "No!"
Malvin terkekeh, pria bermata kelam itu lalu mengusap pipi wanita di hadapannya dengan ibu jari. Begitu lembut hingga sesaat membuat Andrea kembali terbuai.
Malvin menatap wajah Andrea yang tetap cantik meski tanpa polesan makeup. Rambut panjangnya yang tergerai membuat dia semakin mempesona. Detak jantung pria bermata hitam itu sampai berulang kali bergetar karenanya. "Kau harus mandi Sayang, kita akan mengunjungi seseorang hari ini."
"Seseorang? Apa wanita?"
Setelah mengatakan itu, Malvin beranjak dari pembaringan menuju kamar mandi. "Ya, seorang wanita. Kau akan menyukainya Sayang."
Andrea mengerutkan kening, bibir tipisnya cemberut saat tahu yang akan mereka kunjungi nanti adalah seorang wanita. Dan Malvin yang terlihat begitu bersemangat untuk menemuinya.
"Dasar pria! Dia baru saja meniduri ku dan sekarang dengan terang-terangan dia mengatakan akan menemui wanita lain?" Andrea menggerang kesal. Memutar kedua bola matanya malas dan kembali menutup mata.
Malvin keluar dan langsung menuju walk in closed. Dia memakai kaos lengan hitam dan jeans dengan warna senada. Sembari membereskan penampilannya, Malvin kembali mengajak kekasihnya untuk bergegas.
"Sayang Ayolah! Kita harus mampir membeli beberapa bunga sebelum menemuinya, jadi bergegaslah agar bunga-bunga yang kita dapatkan nanti yang terbaik dan masih fress. Jika terlalu siang, kita akan mendapatkan bunga yang tersisa. Dan aku tidak menyukai itu, mereka akan cepat menjadi layu."
"Si al! Dia bahkan memperhatikan bagaimana bunga-bunga itu harus tetap segar sebelum pemiliknya menerima." Andrea menatap kesal ke arah sang kekasih, dia menyeret tubuh yang berbalut selimut tebal itu menuju kamar mandi.
"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Malvin saat manik-nya menangkap wajah kesal kekasihnya.
Tidak ada jawaban dari dalam sana membuat pria itu sedikit menggaruk keningnya, bahkan itu tidak terasa gatal sama sekali. "Ada apa dengannya?"
30 menit berlalu dan Andrea belum juga keluar, Malvin yang sudah kelaparan, sudah menyelesaikan sarapannya dan Andrea tetap saja belum juga keluar.
Tok ... tok ... tok ....
"Andrea apa kau sudah selesai?"
"Ya! Sebentar lagi."
Jawaban singkat itu membuat Malvin mengerutkan keningnya. "Tapi, Sayang Ini sudah cukup lama. Kita akan terlambat."
"Sebentar lagi Malvin! Jika kau ingin pergi dan tidak ingin terlambat. Maka pergilah!" Suara kesal Andrea akhirnya keluar juga. Andrea muncul setelah drama panjang yang dia buat untuk membuat membuat kepergian mereka terlambat. Jelas terlihat jika wanita ini sedang cemburu.
"Hei! Are you okay?"
"Menurutmu Apa aku akan terlihat baik-baik saja jika kekasihku ingin pergi menemui wanita lain? Apa katamu tadi? Bunga yang segar? Cihhh ...."
"Andrea?" Malvin hampir saja mengeluarkan suara tawanya saat wanita mengekuarkan decakan. Namun, melihat bagaimana wanita itu menatapnya membuat dia takut.
"Lihat! Kau bahkan tidak sadar jika telah menyakiti orang lain," jawab-nya dengan tatapan yang mampu menembus jantung sang dewa kematian.
Malvin mendekat, mengecup lembut bahu mulus yang tertutup bathrobes putih itu. "Kenapa kau marah Sayang?"
"Menjauhla! Aku membenci mu."
"What?"