Endless

Endless
Chapter 49



Pria itu berjongkok, dengan wajah datarnya dia menatap Arsula yang menjerit. Tangan putihnya kini berwarna merah dengan dara yang terus mengalir. Dengan tatapan yang tidak putus, pria bermata kelam itu tersenyum miring.


"Teruslah bertahan Arsula, karena aku baru saja memulainya. Bukankah kau yang mengatakan padaku untuk membuat musuhku mati secara perlahan-lahan? Maka nikmatilah."


"Malvin ...." Arsula meneriaki namanya dengan suara yang begitu pelan, tenaganya seakan hilang dari tubuhnya. Tidak ada ketenangan dari sorot mata cokelatnya, dia menangis membayangkan jika Malvin akan membunuhnya.


"Aku janji, tidak akan pernah menghianatimu lagi. Per favore lasciami andare. (Tolong lepaskan aku.)"


"Semua janjimu itu palsu!"


"Aku bersumpah, kali ini tidak akan ku ingkari."


Malvin menggeleng keras. "Keserakahanmu tidak akan berakhir Arsula, kau akan tetap merasa tidak puas dengan apa yang kau miliki, untuk itu kau terus menghianatiku."


Arsula kembali terisak, suara tangisannya terdengar begitu menyedihkan. "Per favore non farmi questo. (Tolong jangan lakukan ini padaku.)"


Malvin berjongkok, tatapan keduanya kini beradu. Manik hitam yang selalu membuatnya terpesona kini penuh dengan kebencian. Malvin mengangkatan tangan mengelus lembut pada pipi Arsula hingga membuatnya sedikit merasa tenang, wanita itu seakan terhipnotis, ketakutan akan kematiannya sedikit menghilang.


"Aku tidak bisa memafkanmu setelah semua yang sudah terjadi. Kau menipuku, hidupku hancur karena ulahmu."


"Kau bahkan bisa memaafkan Andrea!"


Malvin bergumam. "Karena kau mengungkit nama wanita itu, maka aku pun ingin berterima kasih. Terimah kasih sudah menemaniku dalam duka yang kau berikan. Aku bersykur karena kalian aku bisa mengenalnya. Dia merubah kegelapanku menjadi terang."


"Apa maksudmu?"


"Aku menyukainya Arsula, untuk itu aku menyelamatkannya dari wanita gila sepertimu. Obsesimu membuat kau menjadi wanita yang rakus."


Wanita itu tertawa miring."Lalu, apa sekarang kau akan mencampakanku untuk bersama dengan wanita pemuas itu?"


Arsula tertawa kasar. "Jangan bercanda Signore Malvin Alexander, tidak ada harga untuk seorang pelayan rendahan seperti Andrea. Dia hanya budak yang kau ambil untuk memuaskan nafsumu."


"Arsula!!"


Malvin menekan ujung senjatanya, tangan Malvin menangkup wajah Arsula. Mata kelamnya menunjukan betapa dia sangat marah. Tubuh Arsula bahkan bergetar hebat mendengar suara teriakan Malvin yang begitu keras.


"Kau ...." Suara Malvin tercegat, kepalan tangannya gemetar menandakan sang dewa kematian itu sedang menahan emosinya. Sedetik sesaat pelatuk hendak di lepaskan, Malvin meredamnya, bersamaan dengan Arsula yang hilang kesadaran.


Seketika Demetrio keluar, berjalan mendekat ke arah sepasang kekasih itu. Andrea yang masih kaget tertunduk lemas, mengira hidup Arsula benar-benar akan berakhir malam ini.


Malvin yang melihat itu segera membuang pistolnya dan berlari ke arah Andrea, dia mengangkat wanita itu dengan tatapan yang tidak lepas dari kekhawatiran.


"Bereskan dia!"


"Tapi Signore." Demetrio berhenti bicara saat tatapan Malvin menuju ke arahnya dengan tajam. "Kita harus membiarkannya bertahan sedikit kebih lama agar bisa menemukan Marco."


Malvin berfikir sejenak, lalu kemudian memberi perintah. "Tinggalkan dia di situ, jangan berikan dia makan atau minum."


"Sì, Signore." Demetrio sedikit membungkuk lalu kembali berdiri tegak. Tidak ada yang bisa di lakukannya untuk menghentikan perintah Malvin. Meskipun ketiganya telah bersahabat cukup lama tapi, kesalahan Arsula cukup besar, dan Demetrio, dia hanya seorang pelayan setia yang di istimewakan karena berstatus sebagai sahabat.


Kekuatan statusnya tidak mampu untuk menolong Arsula meskipun sebenarnya dia pun tidak sudi untuk menolong wanita itu.Tetapi, tetap saja. Arsula adalah seorang wanita. Tidak memberi makan dan minum sangatlah tidak manusiawi, apalagi wanita itu adalah sahabatnya. Mereka mengenal satu sama lain dengan cukup baik, sebelum akhirnya semua ini menjadi buruk.


Berbeda dengan Demetrio, Malvin lebih menghawarirkan Andrea. Dengan perlahan, dia menyandarkan tubuh munggil Andrea pada pohon ek besar.


"Apa yang kau lakukan di balik semak itu bersama Demetrio, Andrea? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk kembali?"