Endless

Endless
Endless Extra bab



"Sayang! Sayang ...! Andrea berteriak mengitari Mansion mencari Suaminya dengan perut yang buncit "Dimana pria itu, kenapa dari tadi tidak menjawab panggilanku?"


Andrea akhirnya memutuskan kembali ke dapur untuk menemui Garilla berniat mengajaknya ke dokter pagi ini. Namun, saat masuk ke dapur Andrea bergumam kaget saat melihat Malvin yang sedang berlumuran tepung hingga wajah tampannya terlihat lucu.


"Sayang?" Andrea mendekati suaminya yang sedang sibuk membuat lasagna.


"Sig.ra!" Garilla segera membungkuk setelah menyadari kedatangan Andrea.


"Sayang, kenapa kau kemari? Aku ingin memberi suprise padamu, jadi gagal kan." Pria bermata kelam itu bersungut karena kehadiran istrinya.


Andrea cekikikan sambil menutup mulutnya. "Maaf, aku tidak tahu jika kau ingin memberikan kejutan dengan memasak untuk ku. Lagi pula, aku mencarimu dari tadi Sayang. Hari ini adalah jadwal pemeriksaan bayi kita. Aku juga ingin bertemu dengan Paris, kita berdua sudah membuat janji untuk memeriksakan kandungan bersama-sama."


Malvin tersenyum lembut membalas protes panjang istrinya. Setelah mengalami keguguran ketika kecelakaan di Kuba, Andrea sangat hati-hati dengan kandungannya. Dia memutuskan untuk setiap bulannya menjadwalkan pemeriksaan bayinya. Dan Malvin, sebagai Suami dan Ayah, dia akan selalu memprioritaskan kenyamanan dan keselamatan orang-orang yang ia cintai terutama Andrea dan bayinya. Dia tidak ingin kejadian beberapa waktu lalu terulang lagi.


"Baik Istriku, setelah sarapan mu selesai. Kita akan berangkat ke dokter. Sekarang cicipi lasagna ini dan katakan, apa rasanya enak atau tidak." Malvin meletakan satu piring lasagna keju buatannya di atas meja, dan melepaskan celemeknya lalu duduk di samping Andrea.


"Aku tidak yakin dengan rasanya, apa kau yang membuatnya?"


"Si, aku berusaha membuatnya dari jam 5 pagi tadi bersama Garilla. Jika rasanya tidak enak, itu sungguh tidak adil."


Andrea tertawa kecil. "Aku belum mencicipinya Sayang, jangan mengomel dulu."


Saru sendok lasagna pertama masuk kedalam mulut Andrea, wanita itu mengunya dengan ekspresi biasa saja, memutar mata beberapa kali hingga membuat Malvin mengerutkan kening sambil menunggu jawabannya soal rasa lasagna itu.


"Bagaimana?"


Andrea mengabaikan pertanyaan Malvin dan kembali mengambil sendok yang kedua. Eksepresi wanita itu terus berubah-ubah, hingga membuat Malvin sesekali menelan ludahnya karena melihat cara makan istrinya yang seperti menggodanya. Sendok demi sendok masuk kedalam mulutnya hingga tersisa potongan terakhir.


"Sayang, bagaimana rasanya. Aku lihat kau memakannya dengan sangat lahap, apa rasanya enak?" Malvin bertanya sekali lagi saking penasaran dengan rasa lasagna buatannya.


Andrea memberikan piring berisi satu potongan terakhir lasagna kepada Malvin. "Makanlah. Setelah itu, kau akan tahu seperti apa rasanya lagasna ini."


"Oh God! Sayang, ini sangat asin dan tidak enak. Bagaimana bisa kau memakannya dengan sangat lahap seakan-akan lasagna ini sangat enak." Malvin membersihkan sisah lasagna dari dalam mulutnya dan meneguk segelas air tanpa jedah.


"Cepat habiskan air ini," ujar Malvin menyodorkan segelas air kepada Andrea. "Garilla, buatkan kami sarapan yang lain, dan buatlah teh herbal agar pencernaan Andrea tidak terkena masalah, makanan yang aku buat sangat asin, dan dia memakannya sampai habis."


Garilla membungkuk memberi tanda bahwa iya mengerti. Segera wanita tua itu melangkah pergi untuk melaksanakan perintah majikannya.


"Kenapa kau tertawa," ujar Malvin yang melihat Andrea sedari tadi menertawakannya.


"Kau berlebihan Sayang, Lasagna itu enak mana mungkin aku akan mengalami gangguan pencernaan."


"Tapi itu sangat asin Sayang, kenapa kau memakannya."


Andrea mengulas senyum. "Karena itu adalah buatan suamiku, tentu saja aku harus menghargainya dengan memberi pujian. Aku tidak ingin menyakiti jerih payahmu hari ini."


"No Sayang. Kau tidak seharusnya melakukan itu. Jika kau mengatakan tidak enak, aku tidak apa-apa. Kita akan mencobanya lagi bukan."


Andrea menggelengkan kepalanya. "Itu enak, Aku sudah cukup bahagia jika kau berniat membuatkan makanan enak padaku. Jika rasanya aneh, mungkin itu karena kesalahan Lasagna sendiri, kenapa dia harus membuat dirinya tidak enak, bukankah seharusnya dia membuat dirinya menjadi lebih enak agar orang-orang terus memujanya." Mata Andrea berkedip beberapa kali seperti boneka manekin.


"Oh Tuhan Sayangku." Malvin tertawa geli melihat mata Andrea. "Berhenti membuat lelucon seperti itu. Kau seperti sedang mendongeng tentang Nyonya lasagna yang membuat dirinya menjadi enak."


Sepasang suami istri itu saling menatap dan kemudian tertawa bersama-sama. Malvin berdiri dan meraih tangan Andrea, menciumnya dengan lembut lalu membawa wanita itu ke dalam pelukannya. "Maaf jika makannnya tidak enak." Malvin mengelus pada perut buncit Andrea. "Sayang, maafkan Ayah."


Andrea tertawa kecil. "Sepertinya, anak kita akan membenci lasagna ketika dia besar nanti."


*


*


😆😆😆_ Sophia, apakah benar sekarang kau membenci lasagna keju?