Endless

Endless
Prolog



11 November 2022


Cafe itu terlihat ramai, diisi canda tawa dan gurauan riang. Hari ini reuni SMA Cahaya Nusantara, sekolah swasta yang mendapat gelar sebagai salah satu sekolah terbaik dalam beberapa tahun terakhir. Semuanya nampak bahagia, ditengah tugas mereka yang berbagai macam.


Satu meja paling pojok terasa sepi, semuanya menatap pada dua bangku yang mereka kosongkan. Bangku milik dua orang yang tidak mereka ketahui keberadaannya sampai saat ini.


"Apa kesan kalian tentang Alaska sama Lou?" suara Sea memecah keheningan diantara mereka. Seketika mereka disana saling senggol.


"Kenapa nggak lo duluan aja Se, Lo yang paling dekat sama mereka" ucap Heka.


Sea mengangguk "Gue duluan kalau gitu" perempuan itu nampak berpikir sebentar "Alaska itu kayak api, sedangkan Lou itu kayak pematik. Lihat gimana cara Alaska marah kalau ada yang berani kasar atau macam-macam sama Lou, dia persis api. Sedangkan Lou, tanpa bicara sekalipun dia bisa dipahami dengan mudah sama Alaska, dia itu pematik" ungkapnya.


"Kalau lo Yo?" Heka beralih menatap Zio, lelaki itu tidak pernah berbicara secara panjang, mungkin kali ini Heka bisa mendengar lelaki itu berbicara panjang.


"Mereka luka" katanya.


Heka berdecak kesal "Yang panjang deh Yo, gue nggak paham sama ucapan lo" katanya.


Zio menarik nafas kasar "Mereka berdua punya luka yang sama, luka yang nggak bisa mereka obati bahkan sampai mereka mati. Nggak akan ada yang bisa ngobatin luka itu, mereka bisa lupa sejenak tapi nggak bakal bisa nyembuhin luka itu" ucapnya.


Semuanya menahan sesak saat Zio menyelesaikan ucapannya, tak menepis fakta yang ada. Bahwa kedua orang itu tumbuh dengan luka yang sangat dalam.


"Lo sendiri apa kesan sama mereka?" Anin menatap kearah Heka.


"Kalau gue nganggap mereka itu kayak dua orang yang lagi survive, Sama-sama bertahan dalam keadaan yang buat mereka hampir mati" ucap Anin.


"Kalau gue beda lagi, menurut gue mereka tu kayak rumus matematika tahu nggak. Rumit banget, mereka udah sama-sama diambang batas tapi malah sok nguatin satu sama lain" Sean mengutarakan fikirannya.


"Sekarang mereka lagi apa ya? gue kangen banget sama mereka" Anin mengelap sudut matanya yang terasa berair.


Ingatan mereka pada 2019 silam. Dimana sebuah tragedi mengerikan itu terjadi. Membuat kedua orang itu hilang tanpa jejak begitu saja, seolah keduanya memang tidak pernah ada. Semua hal tentang dia orang itu benar-benar hilang. Mereka sudah mencari tiga tahun lamanya tapi tak menemukan satu petunjuk pun.


Tapi apapun yang terjadi mereka semua berharap dua orang itu bisa bahagia.


....


Sementara itu di belahan bumi lain, seorang lelaki menatap matahari pagi yang menyorot wajahnya. Kenangan lama itu berputar di memorinya, membuat rasa bersalah itu muncul kembali.


"Hey, kenapa ngelamun?" perempuan dengan dress motif bunga itu memeluk lelaki yang berdiri di balkon apartemen mereka.


Lelaki itu mengelus halus tangan kekasihnya "Kalau aku kembali apa mereka bisa terima kenyataan yang ada?" tanyanya.


"Kamu sudah terlalu lama hidup dalam rasa bersalah, jika itu keputusan terbaik maka kita bisa kembali" katanya.


Lelaki itu menarik kedua sudut bibirnya "Aku harap mereka bisa menerima kenyataan ini. Maafkan aku Lou."