Endless

Endless
Chapter 189



"Kita tidak sedang dalam masa peperangan, untuk apa kau begitu khawatir hingga meneriakiku seperti itu. Bukankah aku selalu aman, bahkan tanpa Marisa dan Demetrio pun aku selalu baik-baik saja."


"Tidak dengan kali ini. Aku tidak ingin Daniel manyakitimu ataupun anak kita. Mengertilah kecemasanku, aku mohon."


"Apa maksudmu? Kenapa Daniel harus menyakitiku?"


Malvin menunduk menatap pada mata kekasihnya yang penuh dengan pertanyaan. "Sayang! Aku ...." Malvin terbata, dada dan tenggorokannya terasa sesak. Bagaimana dia harus menjelaskan keadaan ini kepada Andrea agar wanita itu mengerti.


"Ada apa katakan dengan jelas, kau membuatku takut."


"Daniel, dia sedang melawanku sekarang. Dia mencuri beberapa senjata di gudang Dio dela morte. Dia juga mengancam akan melaporkan ku kepada pemerintah jika aku terus mempermasalahkan ini."


"Tapi .... Bagaimana bisa Daniel? Bukankah kau mempercayakannya untuk tugas itu?"


"Entahlah, sepertinya seseorang sudah mempengaruhinya. Aku bahkan tidak percaya dia melakukan itu padaku."


Andrea menunduk pelan. Menyesal karena sudah mengabaikan ucapannya tadi."Baiklah, kalau begitu Demetrio akan ikut. Itu lebih baik."


"Terima kasih sudah begitu mengerti. Ku harap masalah ini cepat selesai. 1 minggu lagi pernikahan kita akan di adakan. Aku tidak ingin ada gangguan apapun."


"Apa karena ini kau memanggil Selena?"


"Wanita rubah itu." Andrea mendesis mengingat wajah dan tingkahnya yang menyebalkan. "Kau tidak boleh berdekatan dengannya. Kau mengerti."


Malvin terkekeh mendengar ucapan kekasihnya. "Aku mengerti. Pergilah! Hubungi aku saat USG nanti. Aku ingin melihat bagaimana keadaan anak kita di dalam sini," ucapnya memegang perut Andrea yang sudah mulai tampak.


"Wow .... Anak? Apa kau yakin di dalam sana adalah anakmu Signore Malvin Alexander?"


"Selena!" Rahang pria bertato elang itu mengetat. "Jaga mulutmu, sebelum aku benar-benar marah."


Namun, berbeda dengan Malvin yang begitu berapi-api. Andrea, wanita berdarah Meksiko itu sangat santai menanggapi celaan Selena. Ia berdecak dengan tersenyum, menahan dada Malvin saat pria itu hendak melangkah untuk menghentikan ocehan Selena.


"Dia adalah bagianku," ujarnya dengan seringai licik. Wanita hamil itu melangkah pelan dan berdiri tepat di hadapan Selena. "Selamat siang Nona Selena," Sapa Andrea.


"Ada apa dengan wajahmu itu? Apa seseorang sudah mencelakaimu?"


"Tutup mulutmu wanita murahan. Ka--


"Selena!"


"Biarkan saja. Hari ini, aku akan mendengar semua keluh kesah Nona muda yang sangat tergila-gila dengan kekasihku ini."


"Hahaha." Tawa Selena yang licik menggema memenuhi seluruh Mansion. "Kekasih kau bilang? Kau menjadi perempuan pegoda dan merebut milik orang lain. Bahkan kau membuat Malvin harus membunuh kekasih dan sahabatnya sendiri demi wanita sepertimu."


Plak.


Andrea memberikan satu tamparan keras di pipi wanita yang baru saja mengatakan dia seorang penggoda. "Kau sangat murahan," ujar Andrea dengan nada yang begitu berat. Ia menelan salivanya pelan dengan mata yang bergetar.


"Apa?"


"Yah, murahan!" ujar Andrea mengulangi dengan penuh penekanan. "Kau pikir dengan bernostalgia seperti tadi Malvin akan terpanah dan berlari ke pelukanmu? Sungguh naif."


Malvin menahan lengan Andrea. "Sayang, kendalikan dirimu. Pergilah, aku akan mengatasinya."


"Sudah ku katakan ini urusanku!" teriak Andrea yang sudah sangat muak dengan Selana yang terus saja mengatakan hal-hal buruk tentang dirinya.


Zigo yang sama sekali tidak tertarik sampai berdiri diam di tempatnya. Ia benar-benar terpanah akan Andrea yang ada di depan matanya ini. "Andrea kau benar-benar luar biasa!" Jempol pria itu naik ke udara memberikan semangat kepada Andrea yang sedang emosi.


"Hentikan Zigo! Itu terdengar menggelikan."


"Tapi aku sedang memuji kekasihmu," sungut Zigo dengan wajah cemberut.


"Tutup mulutmu dan diam di tempatmu."


***