Endless

Endless
Chapter 47



Pria bermata kelam itu melangkah mendekati Arsula yang kesadarannya semakin menurun, wanita itu terlihat tak berdaya karena terikat erat. Goresan rumput liar yang tajam memenuhi sekujur tubuhnya membuat dia semakin terlihat menyedihkan.


Arsula mengerjab kan mata saat mendengar langkah kaki mulai mendekatinya. Sadar yang datang adalah kekasihnya, ia pun berteriak dengan gembira.


"Baby ...!" Arsula menangis menatap Malvin. "Kau datang untuk ku? Oh tesoro, sono così grato che tu sia venuta. (Oh Sayang, aku sangat bersyukur kau datang.)"


"Apa kau tahu kenapa sampai mereka membuangmu di hutan ini?"


"No, Baby. Para bandit itu tiba-tiba menculik ku saat berada di kelab, mereka lalu membawaku ke tempat ini. Aku sudah meneriaki mereka dengan menyebut namamu, aku tahu kau pasti akan datang."


"Yah, tentu saja aku akan datang."


"Baby, lepaskan aku dulu, ikatan ini sangat kencang. Aku kesakitan."


Melihat Arsula yang begitu santai membuat Malvin menggertakan deretan giginya. Dia melangkah maju hingga tubuh keduanya saling beradu, dan tanpa aba-aba Malvin mencengkeram kuat dagu kekasihnya.


"Baby! A-apa yang kau lakukan." Arsula menatap Malvin dengan tajam. "Bukankah kau datang untuk menyelamatkanku?"


"Aku?" Malvin berdecak penuh tawa di hadapan Arsula.


Sontak saja tubuh wanita berambut perak itu bergetar, tawa Malvin yang begitu kencang membuat semua pikirannya buyar. Keheningan tercipta, Arsula menangis saat senjata yang selalu Malvin simpan di balik bajunya melekat persis pada tenggorokannya. Disaksikan langit malam dengan bulan yang bersinar terang, pria yang dia kira datang untuknya malah berubah menjadi pria yang menakutkan.


"Baby, ada apa denganmu? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Arsula penuh kegelisahan.


"Kau belum paham dengan semua ini?"


"Apa yang kau maksud Baby? Aku tidak mengerti."


Malvin terkekeh, dia menunduk sesaat sebelum mengangkat wajah dan menatap wanita yang sudah membuatnya hancur itu dengan mata berkaca.


"Aku memilihmu untuk bersamaku bukan karena ingin menghabiskan malam panjang bersama di atas ranjang, melainkan karena kau adalah sahabatku, wanita yang tahu bagaimana aku terpuruk dan jatuh dalam lubang kesendirian karena kehilangan adik ku. Tidak ku sangka, keterpurukanku berasal darimu."


"Malvin, aku ... aku tidak tahu apa yang kau maksud." Wanita itu mulai terisak.


"Kau belum ingin mengakuinya?"


"Apa yang harus aku akui! Aku tidak pernah melakukan sesuatu yang jahat padamu."


Malvin terdiam sesaat, lalu mengangkat tangan dan melepaskan satu peluru tepat pada sisi kanan Arsula, membuat wanita itu melebarkan mata memeriksa sekujur tubuhnya mengira Malvin, menembakinya. Dan itu ternyata membuat seseorang yang melihat dari jauh terduduk lemas. Andrea menahan suaranya agar tidak terdengar. Napasnya menderu cepat hingga dadanya terasa sesak.


"Andrea! Apa kau baik-baik saja?"


"Apa Signore akan membunuhnya?"


"Entahla. Aku pikir ia."


"What?"


"No!" Andrea menolak dengan cepat. "Kita akan menyaksikannya sampai adegan terakhir."


"Terserah kau."


"Seharusnya aku tidak mengatakan apa-apa padanya. Dia terlihat sangat marah."


"Kau mengatakan sesuatu padanya?"


"Sì."


"Apa yang kau katakan."


"Aku mengatakan bahwa wanita yang bersama Marco adalah Arsula. Mungkin itu yang membuatnya meradang."


Demeterio tertawa tipis.


"Hei! Kau bisa tertawa?" tanya Andrea dengan wajah antusias.


"Kau pikir aku patung?"


"Yah, wajah mu terlalu dingin dan datar, aku pikir Signore membawa patung ke mana-mana."


Demetrio berdecak senyum, membenarkan ucapan Andrea. "Malvin tahu segalanya Andrea, untuk itu kita ke Milan. Namun, ada yang membocorkan kedatangan kita ke sana. Aku pikir itu adalah Arsula."


"Jadi Signore tahu segalanya, dan dia biasa saja saat aku mengatakan semua itu padanya."


"Dia hanya tidak ingin menyakiti harga dirimu."


"Aku tidak mengerti dengan penjahat seperti kalian. Saat menyiksa kalian tidak ada rasa belas kasih. Namun, masih memikirkan tentang harga diri kami. Sungguh di luar dugaan."


"Tunggu! Penjahat?"


"Memangnya kau mau aku menyebut kalian dengan apa? badut? Kalian itu pedofil."


"What?"


"Ssstttt, pelankan suaramu. Jika tidak kita akan ketahuan."


"Apa-apan wanita ini, apa dia tidak takut sama sekali denganku?"