Endless

Endless
Chapter 77



Arsula terus bersungut kesal, pada Sella yang meninggalkan dirinya dengan Marco di sebuah ruang kosong yang sama sekali tidak ada apapun untuk di makan. Dia juga tidak bisa memakai kartu untuk mengambil uang karena Malvin pasti akan dengan mudah melacak keberadaan mereka melalui itu.


"Aaaargh ...." Dia mencakar rambutnya hingga lengan yang hampir sembuh itu terasa nyeri. "Ku pikir melarikan diri akan lebih baik, ternyata malah lebih buruk." Arsula terus mengumpat tiada henti, kesal dengan keadaan yang terus menerus memburuk. Sejak kedatangan Andrea, tidak ada hal baik yang dia alami, dia bahkan harus merawat Marco dengan keadaanya yang belum pulih sepenuhnya.


Wanita itu kembali mendesah dengan napas kasar saat menoleh ke arah Marco. "Dasar pria tidak berguna, selalu saja menyusahkanku. Untuk apa kau hidup jika tidak bisa bicara!"


Marco yang mendengar itu hanya bisa diam dan menatap wanita itu mengeluhkannya. Ingin sekali dia membalas dengan kata-kata kasar yang lebih lagi. Namun, rahang di mana peluruh Malvin bersarang membuat dia susah untuk bicara. Dia tidak ingin memaksa karena jika fatal, maka itu akan membuatnya tidak bisa bicara sama sekali. "Mengumpatlah hingga batang lehermu itu aku patahkan," Gumam Marco menahan kesal.


Dia bahkan ingin sekali membunu Sella, operasinya baru saja selesai, dan Sella sudah membawa kabur dengan terbang berjam-jam ke Italia. Dia terbangun dengan beberapa peralatan medis yang masih menempel pada tubuhnya. Saat sedang kebingungan dengan kondisinya dan sekitarnya, Arsulla tiba-tiba saja muncul, dia bersykur oada Tuhan saa itu karena di pertemukan dengan kekasihnya yang ternyata lebih dulu di bebaskan oleh Sella.


"Hei, apa Malvin yang membuatmu seperti ini? Demi menyelamatkan wanita murahan itu dia berangkat ke Peulba tanpa peduli jika aku juga butuh di selamatkan." Arsula mengumpat keras.


"Bajing*an! Jika kehilangan seorang adik tidak bisa membuatmu jera, maka kehilangan nyawa dari kekasihmu akan membuatmu berlutut di hadapanku." Jika saja dia bisa berbicara, maka itu adalah kalimat yang ingin dia uangkapkan. Sayangnya, dia hanya bisa membalas dengan tatapan tajam.


Rencananya dia akan kembali menyusun rencana untuk menculik Andrea. Namun, sebelumnya dia harus segera pulih agar rencannya itu bisa berjalan. Mengatakan lewat tatapan akan membuatnya darah tingginya kumat karena Arsula yang sama sekali tidak mengerti. Dia juga tidak bisa menggunakan tangan kiri untuk menulis, atau berbicara dengan bahasa isyarat. Sisi tangan kanannya hancur dan tidak bisa bergerak.


****


Seorang pria berwajah dingin terlihat sedang fokus dengan tablet di tangannya, di sampingnya ada beberapa anak buah yang juga sama sibuknya seperti dia. Demetrio sibuk mengotak-atik tabletnya untuk mencari petunjuk tentang keberadaan Arsula dan Marco. Dua manuisa itu sepertinya benar-benar menghilang, karena sampai sekarang belum ada yang mengabari tentang keberadaan mereka.


"Si*al!" Demetrio mengumpat keras, dia meletakannya tabletnya dan menyandarkan tubuh. Sudah ber jam-jam dia meretas satelit untuk mencari, akan tetapi hasilnya selalu tidak ada. "Di mana mereka di sembunyikan."


Pria ber otot itu meregang, membiarkan otot kaki tangannya untuk rileks. Namun, saat semenit matanya terpejam, dia kembali mengerjab. Dengan mata yang terbuka lebar dia berdiri tegak. "Si*al! Kenapa aku bisa melupakan ini."


Dengan langkah panjang, Demetrio bergegas menuju menuju ruang bawah tanah. Dia ingin menanyakan sekali lagi kepada Sella. "Siram dia! Paksa dia untuk sadar."


Tanpa menunggu lama, Agrio segera mengambil air dan menyiramnya ke wajah Sella. Sekali saja dan wanita yang hampir mati itu mengerjab membuka kedua matanya dengan perlahan.


Demetrio mendekat pada Sella yang hanya menatapnya dengan diam. "Di mana kau menyebunyikan mereka."