
Andrea menatap serius garis wajah Malvin untuk mencari keseriusan di sana. "Apa ini serius?"
"Aku serius sejak awal Andrea, kau tahu itu."
"Tapi bukankah kita baru memulai hubungan ini."
"Apa itu artinya kau meragukan keseriusanku? Kau tidak ingin menjalani hidup bersamaku selamanya?"
"No! Bukan itu maksudku."
"Lalu?" ucapnya dengan tatapan mata yang sama sekali tidak beralih.
"Aku punya orang tua, dan tentu saja hubungan serius ini harus melalui persetujuan mereka. Aku harus meminta ijin kepada ayahku terlebih dahulu," Andrea mengucapnya penuh kelembutan agar Malvin tidak merasa tersinggung jika sebenarnya dia hanya harus ingin benar-benar memastikan keseriusannya.
"Oh Sh*it!" Malvin mengumpat pelan. "Aku lupa tentang itu, maafkan aku karena berfikir kau tidak menginginkannya."
Andrea menggeleng, tangannya beralih pada lengan kekasihnya. "Memiliki pasangan dan kemudian menikah adalah impian semua wanita tak terkecuali aku Signore. Apalagi pria itu adalah kau, tentu saja aku pun sangat menginginkannya."
Malvin mendekatan wajah mengikis jarak yang sedikit membentang, lalu mengecup lembut bibir Andrea. "Katakan jika kau tidak akan meninggalkanku." Malvin meletakan tangan Andrea di atas kepalanya. "Berjanjilah untuk ku Andrea, akan aku kabulkan apapun permintaanmu terkecuali perpisahan."
Andrea tersenyum sambil mengangguk. "Apapun, terkecuali perpisahan."
"Sampai maut memisahkan, kebahagiaan ini tidak akan berakhir."
Keduanya pun saling berpelukan, entah sudah berapa kali Malvin mengecup kekasihnya dan mengatakan bahwa dia sangat mencintainya. Kedua orang itu bahkan tidak menyadari jika Garilla mengetuk sedari tadi untuk memberitahukan bahwa makan malam telah siap.
Andrea melepaskan pelukannya dari pria bermanik hitam itu. "Oke, aku harus segera mengganti bathrobes ini Sayang. Perutku sudah sangat lapar."
Malvin terkekeh, raut wajah Andrea ketika mengatakan dia lapar sangat lucu. "Baiklah. Aku menunggumu di bawah."
"Sì, aku akan menyusul."
*****
Makan malam selesai, Andrea sengaja menemani Garilla untuk menanyakan sesuatu kepada wanita tua itu. Namun, sayang. Sepertinya wanita itu sedang dalam suasana hati yang tidak baik.
"Garilla, ada apa dengan wajahmu?"
"Bicaralah! Ada apa? Kenapa kau terus berdiam dengan wajah seperti itu."
"Tidak ada, aku hanya sedang melatih otot wajahku," jawabnya dengan ekspresi masih tertekuk.
"Terserahlah!" ujar Andrea mengibas malas tangannya. "Tapi ada yang ingin aku katakan."
Melihat Andrea yang sepertinya serius membuat Garilla merubah ekspresinya. Wanita 50 tahun itu membereskan piring dan ikut duduk bersama Andrea.
"Katakanlah."
Andrea menghela napas. "Malvin mengatakan ingin melamarku?"
"Apa!" Suara wanita itu begitu keras. Namun, tidak dengan ekspresinya. Dia meraih tangan Andrea mencari-cari sesuatu yang seharusnya sudah berada di sana. Akan tetapi, melihat kosongnya jari jari lentik itu membuat dia kembali terdiam. "Dia mengatakan seperti itu?"
Andrea mengangguk.
"Lalu di mana cincinnya?"
Andrea membeliakkan mata. "Kau benar! Bukankah seharusnya dia memasangkan itu padaku saat mengatakannya?"
"Dasar bodoh! Kau di bohongi oleh pria itu. Jika dia ingin melamarmu, seharusnya cincin bermata berlian harus ada. Ini tidak Sah, dia hanya mempermainkanmu saja."
Andrea menarik jemarinya dan menyembunyikannya di bawah meja, wajah cemberutnya memperlihatkan bagaimana wanita itu kecewa. Namun, karena tidak ingin mempermalukan kekasihnya itu di hadapan kepala pelayannya sendiri. Andrea bergelit jika ini terjadi tiba-tiba, jadi kekasihnya tidak memiliki persiapan untuk itu.
"A-apa itu penting?" Andrea tergagap, kedua pipinya terasa panas karena malu.
Garilla tersenyum. "Dengar! Sebuah cincin hanya hiasan. Dia tidak harus ada ketika seseorang mengatakan keseriusannya. Dan aku tahu, Signore benar-benar serius jika dia menginginkanmu untuk menjadi pendampingnya."
Andrea tersipu dengan kata-kata yang di ucapkan Garilla."Lalu kenapa kau menanyakannya?"
"Aku hanya sedang menggodamu saja."
"Apa?" Andera mencubit pinggang Garilla, menggelitik di sana hingga wanita itu tertawa geli.
Hati Andrea benar-benar legah, Meski sebenarnya dia sedikit kecewa karena cincin itu. Namun, dia tahu, jika Malvin benar-benar serius dengan ucapannya.