
Malvin menyeret Zigo dengan sangat kasar, pria bermata hitam itu menariknya meski saudaranya sudah berulang kali memohon untuk di lepaskan.
"Malvin! Pelan-pelan, aku bisa terjatuh," pekik Zigo saat Malvin menyeretnya menuruni tangga, dia menjerit saat tubuhnya terpental kesana kemari karena tidak bisa berpegangan. Cekalan pada bajunya cukup kuat hingga dia sudah untuk melepaskan diri.
"Awh kakiku ...!" Pria berambut ikal itu menjerit saat Malvin menghempaskan tubuhnya ke lantai dengan sangat keras.
"Apa wanita-wanita liar di luar sana tidak cukup untuk melayani napsumu! Ataukah kau tidak cukup bermain dengan kekasihmu!" Malvin menggertakan giginya, sorot matanya terlihat sangat tajam.
"Malvin Aku sama sekali tidak menyentuh kekasihmu."
"Tapi kau masuk ke kamarnya di saat dia tidak mengenakan pakaian yang pantas untuk mata liarmu itu," jawab Malvin dengan cepat.
"Ayolah Malvin, ini hanya soal biasa. Aku hanya mengampirimu dan tidak tahu jika kekasihmu juga menempati kamar yang sama denganmu."
"Dasar bajingan!" Malvin dengan kasar melayangkan pukulan hingga sudut bibir saudaranya mengeluarkan darah. "Aku membiarkanmu karena berfikir kau tidak akan berani menyentuh kekasihku, tetapi sepertinya kau semakin tidak tau malu."
Zigo terkejut, dia menaikan kedua alisnya sementara tangan kananya mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya. "Malvin! Apa-apan ini. Kenapa kau memukulku! Aku bahkan belum menyentuh tubuh kekasihmu."
Rahang pria bermata hitam itu mengeras dengan jantung yang semakin menderu. "Aku akan membongkar isi kepalamu jika kau berani menyentuhnya. Jangan bermain-main dengan ku Zigo, aku tahu apa yang ada di otaku mu. Kau ingin hubunganku dengan Andrea hancur agar kau bisa leluasa mengincarnya."
"Omong kosong apa yang kau bicarakan." Zigo menoleh pada Andrea. "Yang di katakan oleh Malvin itu tidak benar Andrea, sku sama sekali tidak bermaksud seperti itu." Zigo beringsut untuk mendekati Andrea. Namun, Malvin dengan cepat meraih tangan kekasihnya untuk berada di sampingnya.
"Menjauh darinya atau kau akan berakhir sama seperti Arsula dan Marco."
"Aku akan membunuh siapapun yang berani menyentuh Andrea. Siapapun, termasuk kau."
"Jangan konyol Malvin! Semua wanita tidak akan setia pada satu pria. Kau lihat Arsula, dia berada di sisimu tetapi masih saja bermain di luar."
Bibir Malvin mengulas senyum, dia mengeram di dalam benaknya. "Apa kau ingin mengatakan termasuk dirimu? Kau bangga bisa meniduri kekasih saudaramu, begitukah yang kau maksud."
Zigo menelan ludah kasar, dia tahu jika perbuatannya itu tidak bisa di benarkan. Tetapi madalahnya bukan dia yang menggoda Arsula, wanita itu datang dengan sendirinya menyodorkan diri untuk berada di atad ranjangnya. "Jangan bertingkah munafik Malvin, kau bahkan sama sepertiku, jangan katakan jika kau tidak pernah meniduri wanita lain selain kekasihmu."
Malvin menatap tidak percaya dengan apa yang di katakan Zigo, bisa-bisanya dia mengatakan semua itu di depan Andrea. "Kau pikir aku sama sepertimu?"
Demi menghindari salah paham, dia memerintahkan Garilla untuk membawa Andrea kembali ke kamarnya. Malvin tidak ingin jika Andrea mengira bahwa yang fi katakan Zigo tentangnya itu benar. Dia juga tidak ingin calon bayi nya mendengsrkan kata-kata kasar yang keluar dari perdebatan keduanya.
"Kembalilah ke kamar," pinta Malvin mengarahkan Andrea untuk mengikuti Garilla. Andrea tidak melawan, dia menurut untuk kembali ke kamar bersama Garilla. Dia juga tidak ingin mendengarkan apapun yang akan memancing emosinya. Zigo sangat pintar mengendalikan keadaan, jika dia terpancing maka hubungannya dengan Malvin akan memburuk. Dia juga harus menjaga perasaannya agar tetap tenang demi kesehatan kandungannya.
"Keluar dari Mansionku sekarang juga, dan ingat, kau di larang menginjakan kaki di sini." Malvin melangkah pergi setelah mengatakan itu. Entah kenapa, Malvin seakan tidak berhasrat melakukan kekerasaan sekarang. Mungkin karrna Andrea yang sedang mengandung, dia khawatir wanita itu akan stres jika terus-terusan ada masalah di sekitarnya.
"Kau ingin aku menyeretmu atau keluar dengan tenang," ujar Demetrio.
Mata Zigo menatap Demetrio seakan menyampaikan perlawanan. Namun, dia lebih takut jika pria berbadan kekar itu menyakitinya. Dia beringsut dengan pelan memperbaiki penampilannya dan melangkah keluar dengan tenang. "Sampai bertemu lagi pria berwajah es."