
Andrea mendekati Malvin yang sedang menumpuk satu tangannya di atas dahi, sudah 3 jam pria itu berada di dalam ruang kerjanya. Dan selalu, setiap Andrea datang melihatnya, pria itu selalu saja terlihat sedang bersandar di sofa sambil menutup mata dengan tangan di atas dahi. Namun, kali ini wajahnya tampak sangat lelah. Sudah beberapa hari ini memang ia sangat sibuk bersama Demetrio dan Zigo. Sampai-sampai Andrea tidak punya waktu untuk bermanja-manja dengannya.
"Sayang." Andrea meraih lengan kekasihnya menurunkan tangannya dari atas dahi. "Ada apa?" tanya Andrea dengan hati-hati. Sedikit merasa khawatir karena sepertinya ia merasa jika ada yang di sembunyikan darinya.
Malvin menggelengkan kepalanya, meraih pelan pada pinggang Andrea untuk berada di atas pangkuannya. "Tidak ada, aku hanya sedikit lelah, dan tidak sadar jika tertidur di sini."
"Jangan terlalu keras pada dirimu, bahkan robot pun butuh istirahat. Jika kau terus memaksa tubuhmu bekerja dengan keadaan lelah, kau akan menjadi sakit," kata Andrea. Ia mengatakannya dengan penuh perhatian.
Malvin mengelus pada sudut bibir Andre. Tertawq kecil karena kekasihnya menyamakan dirinya dengan robot. "Aku tahu," jawabnya dengan tersenyum. Setelah mengucapkan itu Malvin mengecup puncak kepala kekasihnya, cukup lama hingga membuat Andrea harus memisahkan diri dari bibir kekasihnya itu.
"Sayang, kau baik-baik saja bukan? Atau apa sesuatu terjadi? Beberapa hari ini kau tampak aneh."
Malvin mengedipkan kedua matanya sekaligus dengan perlahan. Mentap manik abu-abu di hadapnya dengan lembut. "Sayang, aku ingin bertanya satu hal padamu."
"Si, katakanlah. Apa yang ingin kau tanyakan."
Malvin sedikit merasa sesak. Namun, ia menormalkannya perasaan khawatirnya agar tidak nampak di depan Andrea. "Jika seseorang yang pernah berjasa padamu melakukan penghianatan, apa yang akan kau lakukan padanya."
"Penghianatan? Maksudmu jika sahabat atau kekasihku atau orang yang ku percaya menyakitiku, begitukah?"
Malvin mengangguk pelan. Mengiayakan apa yang di katakan kekasihnya.
Andrea menatap lurus manik hitam di depannya. "Bukankah kau pernah mengatakan jika seseorang pembunuh sekalipun jika ia benar-benar bertobat maka kesempatan sangat layak ia dapatkan."
Pupil mata Malvin melebar. Pria bermata kelam itu bahkan sedikit susah menelan ludahnya saat kekasihnya mengatakan semua itu. Dia berjanji akan selalu menjalin hubungan baik dengan Daniel karena pria itu telah menyelamatkan Andrea waktu itu. Akan tetapi, sebaik apapun hubungannya dengan Daniel dulu, sebaik apapun hubungannya dan janji yang ja katakan dulu. Malvin, tidak akan mempertaruhkan keselamatan kekasih dan juga anaknya.
"Seseorang tidak akan beru ah secepat itu Andrea."
"Lalu kenapa kau memafkan Sella waktu itu."
"Sella? Pelanyannya Arsula?"
Andrea menganggukkan kepala. "Padahal aku berharap kau membunuhnya saat itu."
"Sella tidak menghianatiku, atau menghianatimu Andrea, dia melakukan tugas sesuai yang di perintahkan majikannya. Dan ada alasan kenapa dia melakukan semua yang di perintahkan Arsula."
"Baiklah, hentikan ini. Jangan ada lagi pembahasan tentang wanita itu. Aku tidak suka kau menyebut namanya," sungut Andrea dengan wajah kesal.
"Ya Tuhan!" Malvih memekik keras di depan Andrea, pria bertato elang itu benar-benar ingin menjatuhkan Andrea saat ini. Dia yang mengungkit, dia yang merasa cemburu. Kenapa wanita selalu merasa teraniaya dengan drama yang ia buat sendiri.