
"Aw ...." Andrea menjerit kesakitan, ia mengusap dahinya yang terbentur dengan kepala Malvin. "Berhenti menggerakan tubuhmu Malvin, kau membuat ku kesakitan."
"Maaf! Apa itu sakit?" Malvin menggantikan jemari Andrea dengan miliknya, mengelus dengan berulang kali di dahi kekasihnya. Gerakan berbalik seketika membuat kepalanya menghantam dahi Andrea. Meski itu sangat pelan. Namun, tetap saja wanita adalah mahluk yang sensitif. "Apa masih sakit?"
Andrea menyipitkan mata menatap wajah tampan di hadapnya dengan sedikit kesal. "Apa dari tadi kau sedang memikirkan bagaimana cara menjodohkan Marisa dengan Demetrio?"
Malvin tersenyum lembut, sepertinya Andrea tahu apa yang sedang dia pikirkan. "Tidak, bukan itu. Aku hanya sedikit tidak nyaman karena kasurmu yang terlalu kecil, ukuran tubuhku terlalu besar dan tempat tidurmu ini terlalu kecil."
"Pikiranmu yang tidak tenang tapi kau malah menyalahkan kasurku?" Andrea mengucapkannya dengan melotot, hingga membuat Malvin yang sedang melihatnya mengerjabkan mata dengan mulut yang menganga. Dia tidak menyangka jika mood wanita hamil bisa membuat wanitanya berubah. Malvin menelan ludah kasar membayangkan jika Andrea akan berubah menjadi semenakutkan ini selama masa kehamilannya, maka dia pun akan di tindas selama hampir 1 tahun. Malvin memejamkan mata sejenak lalu membukanya kembali.
"Sayang--"
"Katakan!" potong Andrea dengan cepat.
Malvin tertawa hambar. Dia mengamamati wajah cantik Andrea, jika di bandingkan dengan Andrea yang dulu, dia lebih menyukainya. Sekarang kekasihnya berubah 180 derajat. Aneh dan menakutkan. Jika saja Andrea bukanlah kekasihnya, mungkin saja dia sudah mematahkan lehernya karena berani membuat seorang Mafia sepertinya tidak berdaya.
Sebelum mulai berkata ia berdehem untuk mengembalikan wibawanya. "Demetrio adalah pria baik dia adalah sahabat ku sejak dulu. Kami sekolah dan kuliah dan terus bersama-sama hingga saat ini. Aku ingin dia mendapatkan wanita baik dengan latar belakang keluarga yang baik, Aku mohon! Jodohkan dia dengan Marisa."
Andrea tertdiam, tidak ada jawaban atas permohonan kekasihnya. Pikkran wanita bermanik abu-abu itu sedang menerawang ke masa depan saudaranya. Membiarkan Marisa bersama pria dingin yang menjengkelkan itu sama saja membiarkan saudaranya untuk menjadi wanita yang kesepian. Demetrio terlalu kaku untuk Marisa yang arogan.
"Bagaimana menurutmu, katakanlah! Aku menunggu jawabanmu Andrea."
Suara Malvin menghentikan lamunannya. "Aku tidak suka menjodohkan orang seperti itu Sayang." Andrea menyibakan selimut untuk memoerbaiki posisi duduknya. "Jika mereka tidak merasa cocok, itu akan berakibat buruk untuk hubunganku dengan Marisa begitupun dengan Demetrio," ujar Andrea mencari alasan.
Andrea menggeleng pelan. "Ini sudah sangat larut, bolekah kita tidur?"
"Tunggu!" Malvin menahan tubuh Andrea yang hendak berbaring. "Ayo, kita pikirkan cara lain."
Andrea mendesah kasar. "Aku sangat lelah, dan mengantuk Malvin. Besok saja."
"Tidak harus sekarang! Waktu kita tidak banyak di sini. Apa aku mau melihat sahabtku menjomblo seumur hidup."
"Begini saja, bagaimana kalau kita buat mereka saling menyukai. Jika mereka cocok, akan saling menyatakan cinta dengan sendirinya. Kau setuju."
Malvin tersenyum. "Calon istriku ternyata sangat pintar." Ia mencium lembut bibir Andrea dengan cepat. "Aku setuju."
Pipi Andrea bersemu mendengar pujian Malvin.
"Sì. Malvin meraih tubuh kekasihnya ke dalam5h pelukannya. "Tidurlah."
"Aku mencintaimu."
Malvin tersenyum, dia tidak menjawab ucapan Andrea. Namun, sorot matanya jelas terlihat jika dia sangat mencintai wanita yang ada di dalam pelukannya. Diam-diam ia mengeram di dalam hati, aroma tubuh Andrea membuat dia gelisah.
"Sa-sayang .... Bisakah kau sedikit menjauh dariku?"