
"Apa yang kau lakukan di balik semak-semak itu bersama Demetrio, Andrea? Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk kembali?"
Andrea hanya diam. Canggung dan kaku rasanya. Tentu saja bukankah baru saja pria di depannya ini mengatakan jika dia menyukainya? Seolah itu adalah kalimat yang sangat dia nantikan, detak jantung Andrea berdebar dengan sangat cepat.
Di tambah lagi, dia baru saja melihat langsung bagaimana seorang Malvin yang sedang memangsa musuhnya, dan itu sangat mengejutkan untuk wanita polos seperti Andrea.
"Kau wanita yang beruntung Andrea," batin Demetrio melihat ke arah Malvin dan Andrea.
"Andrea!"
"Huh?" Teriakan Malvin sekali lagi membuatnya kaget.
"Kenapa kau selalu tidak mendengarkanku?"
"Ma--maaf."
"Kau terlalu banyak menggunakan kata maaf Andrea," ucap Malvin.
"Bukankah itu lebih baik dari pada kau yang tidak pernah mengucapkan kata maaf Signore?" sindir Andrea dengan nada yang sengaja dia tinggikan untuk mengalihkan rasa takutnya.
Malvin terkekeh, dia sama sekali tidak menyahuti ucapan Andrea. Yah, karena memang dia selalu begitu. Maaf untuknya adalah tabu, apalagi itu di peruntukan kepada para pelyannya. Salah atau tidak, dia tidak akan pernah meminta maaf.
"Kau sudah semakin pintar menyela rupanya."
"Aku belajar darimu Signore."
"Oh yah."
"Ini sudah cukup larut, aku harus segera kembali ke Mansion." Akhirnya, dia menemukan alasan untuk menghilang.
"Lalu?"
Bukannya melepaskan, Malvin malah lebih mengeratkan genggamannya, membuat Andrea merasa tidak nyaman dan melepas paksa tangan Malvin. Dengan cepat, Andrea bergerak ke arah kiri untuk menghindari tubuh kekar Malvin yang menghalangi jalannya. Hendak melangkah, lengan Andrea malah kembali di tarik oleh Malvin, membuat wanita berambut panjang itu terhuyung dan jatuh tepat di pelukan sang pemilik mata kelam.
"Aw!" Andrea memekik dengan kedua tangan yang menyentuh dada Malvin. Beradu wajah dengan Andrea, pria bermanik hitam itu menatap dengan senyuman tipisnya yang tentu saja membuat pelayan wanita itu membuka lebar matanya. Adegan menelan ludah pun terjadi.
"Kenapa buru-buru."
Malvin menekan punggung Andrea hingga dada keduanya tidak berjarak.
"Omong-omong, kau belum menjawab pertanyaanku Andrea. Kenapa selarut ini kau bersama pria di balik semak-semak. Apa yang sedang kalian lakukan?"
"Apa?" Bibir Andrea sedikit menganga tidak percaya, dia mengira pria bermanik hitam itu sudah melupakannya. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Malvin akan menahannya untuk menanyakan hal itu kembali, apalagi nada suaranya seperti sedang menuduhnya melakukan yang tidak-tidak bersama Demetrio.
"A-aku ...." Wajah Andrea terlihat berfikir. "Aku kembali karena mengikuti Dem. Saat hendak ke kamar, aku tidak sengaja melihatnya berjalan ke arah taman. Karena masih penasaran, akhirnya aku mengikutinya."
"Dem?" tanya Malvin dengan dahi berkerut.
"Ma--maksudku Demetrio Signore?"
Malvin mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti. Namun, mendengar nama Demetrio yang di sebut begitu lembut membuat jantung Malvin berpacu dengan cepat.
"Dia memanggilnya Dem? Huh!" batin Malvin sedikit kesal dengan panggilan itu.
"Lalu, untuk apa kalian bersembunyi di semak-semak?"
Demetrio berdecak dengan tawa hambar. Pria berwajah dingin itu lalu memutar kedua bola matanya. Dia tahu arah tujuan dari bertanya seperti itu.
"Apa dia tidak bisa mengekspresikan rasa cemburunya itu dengan lebih natural?" Dia menggelengkan kepala melihat majikannya yang begitu sensitif.