
Langkah Malvin tiba-tiba terhenti, pria bermata hitam itu berdiri diam dan kaku dengan tatapan yang sangat aneh. Dan saat Andrea mulai mengeratkan jemarinya, tubuh Malvin seakan ingin melebur debu dan menghilang bersama angin.
"Kau ingin meninggalkan ku lagi?"
Malvin menarik napas dalam, ia memejamkan mata sesaat, merasakan sesak berlebihan di dadanya. Yang mana membuat Malvin hampir melupakan ucapannya dan berbalik memeluk wanita yang sedang menahannya.
"Aku tahu, kau yang menyelamatkanku saat Marco menyekapku."
Malvin tetap bungkam, bibirnya terkatup rapat enggan mengatakan sepata kata pun. Sampai akhirnya dia mendengar isakkan Andrea, seketika raut wajah Malvin menjadi redup. Dia ingat saat terakhir keduanya bercumbu, membuat dia berfikir bahwa akan memiliki Andrea selamanya. Maka dengan berat hati, Malvin membalikan badannya, menatap wanita yang sedang terisak itu dalam-dalam. Perlahan, dia melepas jemari Andrea yang menahannya.
"Malvin!"
Pria bermata hitam itu terjegat kembali saat gadis itu menyebutkan namanya.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?"
"Maafkan aku." Malvin melangkah mendekat dan memeluk erat tubuh wanita yang ada di hadapnya, menciumnya, menyalurkan kerinduan yang satu bulan ini membuatnya hampir gila. "Aku sangat merindukanmu Andrea."
"Kau pria jahat."
"Aku tahu, maka dari itu aku meminta maaf."
Andrea berdecak dengan tertawa hambar. "Dasar pecundang."
Malvin mengeritkan keningnya. "What?" Malvin di buat terkejut dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Andrea, wanita itu baru saja menyebutnya pecundang. Namun, balasan pelukan Andrea membuat pria bermata kelam itu kembali luluh, dia mencium puncak kepala Andrea berulang kali lalu membawanya kembali ke pembaringan.
"Ini sudah sangat lama, aku harus segera kembali, Demetrio menungguku di bawah sana."
"Sekarang?"
Malvin mendekat, memainkan hidungnya pada hidung Andrea sebelum akhirnya dia menunduk untuk memberikan ciuman pada bibir ranum Andrea, yang sedari tadi selalu mengalihkan fokusnya. Rentan waktu yang cukup lama membuat Malvin semakin menggila, apalagi saat Andrea mulai membalas ciumannya, membuat keduanya semakin merapatkan tubuh hingga tidak menyisahkan jarak.
Aroma pada tubuh Andrea yang begitu wangi membuat Malvin tidak bisa untuk sekedar memberi ciuman. Bibir manisnya bahkan seakan menjadi candu baginya, dia tidak memberi jedah dalam ciumannya membuat Andrea kesulitan untuk mengambil napas.
"Malvin ...." Andrea menyebut nama itu dengan napas yang memburu. Dia kembali mengatur napas dan juga detak jantungnya yang semakin menggila. Kini, tatapan mata mereka saling terkunci, sementara ibu jari Malvin bergerak mengusap bibir Andrea yang basah karena sisa ciuman mereka.
Sesaat sebelum Malvin akan melakukannya, bunyi suara telepon mengganggunya. Terus berdering hingga membuat Malvin yang sedang mencium Andrea mengumpat kasar dan menjawabnya.
"Ada apa?" Suara bisikan Malvin membuat Demetrio bernapas legah, setidaknya dia masih aman fikirnya demikian.
"Signore, aku mengirimkan pesan penting untukmu, apa kau sudah membacanya?"
"Pesan?" Malvin merubah posisi menjadi duduk untuk melihat pesannya. "Oh God!" Malvin menyapu kasar wajahnya.
"Ada apa?" Tanya Andrea menyelimuti tubuhnya lalu ikut duduk.
"Maukah kau bersabar sedikit lagi untuk ku? aku akan kembali untuk menjemputmu setelah semuanya selesai."
"Apa yang terjadi?"
"Arsula melarikan diri. Seseorang sepertinya sudah membantunya untuk kabur. Aku harus segera kembali ke Verona." Malvin berucap sambil mengenakan jaketnya.
"Biarkan aku ikut denganmu."
"No Andrea, jika kau bersamaku aku takut sesuatu yang lebih buruk akan menimpamu."
"Aku berada di Mansionmu, ada banyak penjaga di sana."
"Aku tidak ingin mengambil resiko. Tetaplah di sini, aku akan senang jika kau baik-baik saja."
"Berjanjilah untuk kembali."
"Itu adalah sumpahku. Aku akan kembali untuk menjemputmu." Malvin mengecup bibir kekasihnya cukup lama. "Aku mencintaimu."