Endless

Endless
Chapter 194



Pukul 22:30 waktu Verona.




Zigo keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang, ia langsung membersihkan tubuh setelah pulang dari rumah sakit. Pria dengan julukan predator itu mendekat pada ranjang menatap kesal pada wanita yang sedang asik membaca buku.


"Kenapa kau mengabaikan ku tadi? Apa kau tidak ingin menikah denganku?"


"Aku Sangat ingin menikah denganmu, tapi tidak jika kau melakukannya dengan cara seperti itu. Menikah bukan hal yang bisa kau buat bercanda Zigo."


"Tapi aku serius Paris! Aku benar-benar ingin menikahimu."


Seketika suasana menjadi hening. Paris menaruh buku dan lansung beringsut dari tempat tidur berdiri sejajar dengan kekasihnya. "Kau tidak sedang mengerjaiku bukan, aku pikir tadi ...."


"Tidak Sayang. Aku sungguh-sungguh. Melihat Malvin memperjuangkan cintanya kepada Andrea membuat aku tergerak, aku tidak ingin kehilanganmu Paris. Demi Tuhan! Aku akan hancur."


"Louis Zigo! Katakan sekali lagi."


"Aku akan hancur jika kau meninggalkan aku, Aku mencintaimu Paris. Se mi compañero de vida, envejecemos juntos. (Jadilah pendamping hidupku, mari menua bersama.)"


Paris tersenyum samar. Namun, tampak jelas jika hatinya benar-benar sedang berbunga-bunga. Sungguh tidak di sangka, pria arogan yang hobi bermain wanita ini mengatakan akan mempersutingnya. "Zigo ...."


Zigo mengerutkan wajah dengan tersenyum. "Ada apa Sayang."


"Ka-kau. Aaaaaaah, kau membuatku ingin menangis." Wanita itu berhambur di dada bidang yang polos itu. "Aku bersedia. Aku bersedia menikah denganmu Louis Zigo."


Terdengar ucapan syukur dan rasa haru dari bibir Zigo. Ia memeluk erat tubuh Paria dengab memberikan ciuman berulang kali di bibir dokter cantik itu. Akhirnya Paris menerima lamarannya. Sunggu di luar dugaan, meski sempat meragukannya menganggap jika dia aneh karena tiba-tiba mengutarakan ingin melamar Paris. Zigo hampir kehilangan akal karena mengira Paris benar-benar tidak menginginkannya. Tapi detik ini, rasanya ingin keluar dan berteriak kepada semua orang jika Paris menerimanya


"Dasar gila!" Paris mencubit dada kekasihnya dengan keras.


"Aaauuw, itu sakit!"


"Tujuanmu melamarku karena menginginkan ku atau hanya ingin membuat Demetrio sakit hati. Lagi pula, kekasihnya ada di sana. Jangan memancing api jika kau tidak ingin terbakar," ujar Paris mendengus.


"Baiklah!" Zigo menjepit hidup Paris dengan kedua jarinya. "Bagaimana kalau kita makan malam romantis, tapi aku belum membeli cincin? Seharusnya aku membelinya dan berjonggok lalu mengatakan. Paris! Do you want to marry me?" Wajah Zigo berbinar saat memperagakan itu.


"Kita bisa membelinya nanti Sayang. Tenanglah, masih ada bangak waktu untuk itu," ujar Paris merangkulkan kedua tangannya pada leher Zigo.


"Aku ingin memberi kesan tebaik saat aku melamarmu dengan resmi nanti. Kau juga mengingatnya Baby, betapa aku sangat mencintaimu."


"Apapun yang kau lakukan, dokter cantik ini akan selaku mengingatnya."


Zigo menarik punggung Paris lebih dekat padanya. "Benarkah?"


Paris mengangguk pelan. "Tentu saja. Senyumanmu, kata-kata anehmu, belaianmu, ciumanmu, bahkan napas dan detak jantung yang berdekat di dalam sini, benar-benar membuatku jatuh cinta." Paris mendesah saat tangan nakal Zigo meremas bokongnya.


Tanpa menunggu lama, Zigo. menarik gaun tidur Paris, lalu melepaskan handuk yang melilit di pingganya. Membawa wanita yang baru saja menerima lamarannya itu ke atas pembaringan.


"Aku rasa, besok kau tidak akan bisa bangun untuk pergi ke kantor Baby."


"Why?"


"Karena kita akan melakukannya hingga matahari terbit."