
Mual, berhalusinasi itulah yang sedang Andrea rasakan. Mengingat bagaimana orang-orang berjatuhan dengan darah di mana-mana membuat dia merasakan mual yang hebat. Belum lagi dia berhalusinasi jika Malvin datang dan memeluknya.
Membuat dia tidak ingin membuka mata, dia ingin terus berada dalam dekapan pria itu meski hanya dalam mimpi.
Andrea tersadar, tapi pikirannya menolak. Bibirnya sedikit pucat karena tidak ada cairan yang masuk ke tenggorokannya selama di sekap, Marco hanya memberikannya alkohol. Perlahan, manik abu-abu itu membuka mata, mencari ke segala sisi jika mungkin saja yang dia lihat dan rasakan itu benar.
Suara pria itu samar, pendengaran-nya bising karena tembakan yang bertubi-tubi, membuat dia tidak bisa mendengar jelas apa yang Malvin katakan.
Andrea mengerutkan kening saat matahari pagi yang masuk dari sela-sela jendela menyentuh wajahnya. Dia tersenyum saat mata abunya menangkap wajah Ayah dan ibu sambungnya. Untuk yang pertama kali dia bahagia karena melihat mereka. "Ayah! Dayla!"
Lazaro mengecup pada pipi putrinya dan Dayla, dia selalu setia memberikan sentuhan hangatnya untuk Andrea. "Apa kalian tahu siapa yang sudah menyelamatkanku?"
Dayla menggeleng. "Kami tidak mengenal mereka Sayang. Dua pria itu cukup aneh. Entah siapa mereka."
"Dua pria?" Andrea bertanya dengan penuh semangat. "Katakan, seperti apa wajah kedua pria itu."
"Sepertinya mereka orang asing yang kebetulan bertemu denganmu, Sayang kami benar-benar tidak bisa mengenal mereka karena menggunakan penutup kepala."
"Sudahlah, Sayang. Ayah sangat berterima kasih kepada mereka karena telah menyelamatkanmu. Cukuplah seperti itu, jangan mengingat apapun lagi. Ayah bahkan tidak sanggup jika benar-benar kau meninggalkan kami lagi."
"Tapi Ayah aku --"
"Cukup Andrea, istirhatlah. Ayah akan menemani Dayla ke kamar agar bisa istirahat juga."
Andrea mencoba untuk tidak lagi bertanya, menarik napas dalam mencoba menahan untuk tidak tersulut emosi.
"Sayang." Dayla mencoba menenangkan. "Yang di katakan Ayahmu benar, kau harus membuang kebiasaan bertanya berulang kali mu itu, semua akan membuatmu semakin bingung."
"Kita akan berbagi cerita nanti setelah luka ini pulih." Dayla mengecup puncak kepala Andrea, memberikan tatapan untuk putrinya itu bahwa semua baik-baik saja.
"Istirahatlah."
Setelah kedua orang tuanya pergi, Andrea merasa sesak, pikirannya akan Malvin lah yang menyelamatkannya membuat dadanya seperti terhimpit benda berat. Dengan susah payah dia menurunkan kedua kakinya ke lantai, tanda ikatan pada kakinya membuat dia susah untuk menggerakan kaki.
Andrea berdiri dan berjalan dengan perlahan ke arah jendela, perempuan bermanik abu itu lalu membuka jendela, membuat seseorang yang terus terjaga di bawah sana mengerjab kaget.
"Andrea ... Dia sudah sadar?"
Andrea menatap jauh, mulai memaksa untuk mengingat yang mungkin saja dia lewati dalam kejadian penyekapan itu.
"Apa yang aku lupakan, apa pria itu hanya ada dalam ilusi ku saja?" Andrea memejamkan mata, membiarkan batinnya terus bergumam. "Mungkin saja ini terjadi karena efek alkohol yang Marco berikan padaku."
Wanita itu menghirup dalam-dalam udara pagi, dengan mata yang masih tertutup, Andrea menggumamkan nama pria yang membuangnya berulang kali, hingga sesuatu menyadarkannya. Dia seperti merasakan ada seseorang yang sedang melihatnya dari bawah sana.
Mata Andrea berpendar ke segala sisi halaman. Namun, dia tidak menemukan siapapun. Lagi-lagi, dia berfikir jika itu hanya efek dari alkohol yang dia minum. Andrea berbalik meninggalkan jendela, dan seseorang yang dia sangka adalah ilusi itu muncul dari balik pepohonan besar yang tumbuh di halaman rumahnya.
"Signore." Demetrio mendekat, keduanya kini bersama-sama menatap ke arah jendela di mana Andrea berdiri tadi. "Apa kau akan tetap menatapnya dari jauh seperti ini?"
"Jika itu adalah cara untuk membuatnya aman, maka akan ku lakukan meski seumur hidupku."
"Jika seperti itu yang kau inginkan, maka bawa dia kembali ke Verona, dia akan aman bersamammu Signore. Kita tidak tahu, bahaya apa lagi yang datang padanya saat kita sudah kembali ke Verona."
Malvin terdiam, memikirkan semua yang Demetrio katakan. Semua itu memang benar. Tetapi, apakah Andrea akan mau jika Malvin membawanya kembali ke Verona? Tidak ada jawaban, hanya angin pagi di musim gugur yang bertiup melewati kedua pria itu.