Endless

Endless
Chapter 83



Andrea bergegas membersihkan tubuhnya sebelum jam makan malam tiba. Dia juga sangat ingin menemuai Garilla, entah apa yang sedang di lakukan wanita tua itu di dapur. Wanita berusia 50 tahun itu adalah satu-satunya pelayan yang terbaik di Mansion ini menurut Andrea. Dan cita-citanya untuk menjadikan Andrea sebagai Nyonya rumah menggantikan Arsula yang jahat.


Napas legah dia hembuskan ketika menuruni tangga. Kamar utama berada di lantai atas dan Andrea harus melewati beberapa anak tangga untuk bisa sampai ke dapur. Bukan hanya anak tangga yang di lewati perempuan bermanik abu itu tetapi juga beberapa pelayan yang berbisik yang membuat Andrea sedikit merasa terganggu.


"Bukankah itu Andrea? pelayan dari Puelba yang selalu di siksa oleh Nona Arsula. Apa dia akan menjadi Signora di rumah ini?"


"Hei, perhatikan ucapan kalian. Dia adalah kekasih Tuan Malvin, jika dia mendengar seuatu yang buruk tentang kekasihnya itu keluar dari mulut kalian maka kalian akan bernasib sama seperti Nona Arsula."


"Apa maksudmu," bisik salah seorang yang tiba-tiba ikut bergosip."


"Nona Arsula di tembak mati bersama selingkuhannya. dia dalang dari ssmua kejadian buruk yang menimpah Tuan Malvin."


"Oh Tuhan, dia kekasih yang buruk. Aku lebih menyukai Andrea, dia selalu ramah dan baik."


"Yah betul," timpal dua pelayan yang lain."


"Ssttt .... Diamlah! Andrea akan mendengar."


"Hei! Panggil dia dengan sebutan Signora, dia adalah kekasih Majikan kita."


Andrea hanya menggeleng mendengar semua itu. Dia hanya memberikan senyum termanisnya saat melewati para pelayan yang sedang membicarakannya. Dia tidak membayangkan jika semua ini adalah kenyataan. Dia benar-benar menggantikan Arsula menjadi Nona di Mansion Malvin Alaxander. Salah satu Pemimpin kartel paleng berbahaya di Italia.


Andrea menelan ludah kasar menyadari bahwa dirinya adalah kekasih dari manusia itu. "Oh astaga! Apa aku akan di panggil dengan julukan Dewi Kematian." Dia menggeleng keras. "Tidak! Itu sangat menyeramkan," ujarnya dengan sedikit merinding.


Tanpa Sadar dia sudah tiba di area kekuasaan Garilla, tempat di mana dia selalu menghabiskan waktu untuk membicarakan hal-hal mustahil bersama wanita berkulit hitam itu. Salah satu yang sering mereka bicarakan adalah tentang kebebasan. Ya, Andrea ingat dengan jelas. Dia pernah berjanji, jika dia menjadi Signora maka dia akan berusaha untuk membebaskan Garilla. Dan semoga Malvin mengabulkan permintaanya itu.


"Apa yang kau masak Garilla?"


"Signora?" Garilla mundur sejenak lalu menunduk.


Andrea mengerutkan keningnya. "Apa yang kau lakukan Garilla, kenapa kau menunduk?"


Andrea terkekeh. "Hentikan itu, kau terlihat aneh. Sekarang katakan, apa ada yang bisa aku bantu?"


"No!" Garilla menarik Andrea yang hendak membantunya untuk keluar dadi dapur. "Tempat mu bukan di sini Sayang. Kau bisa bersantai selagi aku menyiapkan makan malam, kau bisa ke taman atau mungkin nonton tv, tetapi tidak di dapur. "


"Why?" Andrea menaikan kedua bahunya.


"Karena kau adalah Nyonya di rumah ini Andrea, sadari kedudukanmu itu dan jangan mendekati dapurku."


Wanita itu mengerucutkan bibir sedih karena Garilla yang tidak ingin di bantu. Akhirnya dia memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman.


****


"Kau yang mengurus pemakamannya?"


"Ya, aku menyiapkan tempat dan beberapa keperluan untuk pemakaman. Biar bagaimanapun dia sudah melewati setengah hidupnya bersama kita."


Pria itu mengangguk, tetapi tidak mengiyakan ataupun menyangkal apa yang di lontarkan Demetrio.


"Apa kau akan berangkat ke Peulba Signore?"


"Tidak, Anderea akan mengabari keluarganya kalau dia akan tinggal untuk sementara di sini."


"Apa aku harus memanggilnya dengan Signore? Itu akan sedikit canggung karena sebelumnya dia adalah pelayan di sini."


Malvin tersenyum menatap sahabatnya yang sedikit canggung mengatakan tentang sebutan apa yang cocok untuk Andrea. "Kau boleh menganggilnya dengan sebutan apapun, bukankah kalian jika sangat akrab."


"Yah kau benar."


Keduanya pun tersenyum, dan Demetrio baru menyadari senyuman Malvin benar-benar mendandakan jika dia sedang bahagia. Demetrio bahagaia karena melihat sahabatnya yang semakin membaik dari hari ke hari. Bahkan wajah dinginnya jarang dia lihat sejak wanita itu datang.