Endless

Endless
Chapter 107



Malvin selesai membersihkan tubuhnya, dia bangun lebih awal tanpa mengganggu tidur nyenyak kekasihnya. Kini ia harus bersiap-siap, pria bermata hitam itu keluar dari walk in closed dengan kaos rajut yang menutupi lehernya, Andrea memberikan tanda percintaan di sana, dan itu tidak akan baik jika ada yang melihatnya. Tidak lupa dia mengenakan jaket kulit hitam yang membuat penampilannya terlihat sempurnah.



Siang ini dia harus ke Madrid bersama Demetrio dan Zigo. Jengkel rasanya menempuh perjalanan bersama saudaranya itu, tapi bagaimana lagi, Zigo adalah perantara untuk orang yang akan mereka temui. Dia adalah pria Prancis yang kebetulan adalah sahabat dekat pria gila itu. Dia sedang berlibur di Madrid dan mereka di minta untuk ke sana. Di sana dia akan menjelaskan tentang senjata-senjata yang dia miliki, jika mereka tertarik maka mereka akan bekerja sama dalam waktu yang cukup lama, dan itu sangat menguntungkan bagi Malvin. Selain dia bisa menjual senjatanya dia juga bisa meluaskan jaringannya hingga ke luar italia.


"Signore," sapa Garilla di balik pintu.


"Masuklah!"


Garilla melebarkan mata saat tidak sengaja melihat Andrea yang tertidur dengan selimut sebatas leher. Ketika dia bergerak, selimut itu sedikit turun dan memperlihatkan bahu mulusnya. Garilla tersenyum, dia tahu, wanita itu pasti tidak menggunakan apapun.  Lelapnya menandakan jika dia pasti kelelahan bergulat dengan kekasihnya semalam.


Malvin yang menyadari itu segera berdehem, membuat wanita berusia 50 tahun itu sedikit merasa tidak enak karena terus memperhatikan kekasih majikannya.


"Aku akan ke Madrid hari ini, mungkin akan bermalam di sana, jika Andrea terbangun katakan untuk tidak menungguku. Pastikan dia makan dengan baik dan ingatkan dia agar tidak melakukan apapun tanpa seijinku."


"Sì, aku akan mengingat semua pesanmu Signore. Apa ada yang lain."


Malvin menggeleng, dia melangkah pelan mendekati sisi ranjang kemudian menaikan selimut hingga kembali menutupi tubuh kekasihnya. Malvin mengecup kening Andrea sebelum dia beranjak untuk keluar.


"Jangan bangunkan dia, kabari aku jika sesuatu terjadi."


"Sì." Garilla membungkuk lalu mengikuti langkah majikannya. "Maaf Signore, tapi ada seseorang yang menunggumu di bawah."


"Seseorang?"


"Sì. Kami sudah melarangnya masuk. Akan tetapi dia memaksa."


Malvin melangkah dengan cepat, dia tahu siapa seseorang itu. Dan benar, saat dia menuruni tangga, sseseorang melambaikan tangan dengan senyum yang licik duduk di meja makan.


"Sedang apa kau di sini! Bukankah tidak sopan bertamu di saat tuan rumah tidak menyukaimu?"


Zigo terkekeh, memperbaiki duduknya dan mulai menikmati sarapan yang di siapkan oleh Garilla. "Para pelayanmu sungguh adalah yang terbaik, mereka selalu berjaga hingga membuatku sulit bergerak."


Malvin berdecak. "Hentikan ocehanmu dan katakan, sedang apa kau di Mansionku," tanya Malvin dengan tangan yang melipat di dadanya. Tatapan pria itu sungguh tidak enak di lihat.


"Ayolah Malvin, bukankah kita saudara. Apa salahnya jika aku berkunjung untuk sarapan bersama saudaraku."


"Kau ingin mengunjungi saudaramu atau kekasih saudaramu?" ujar Demetrio yang tiba-tiba muncul dari sana. "Selamat pagi Signore, mobilnya sudah siap. Kita akan terbang setengah jam lagi, jadi alangkah baiknya kita berangkat sekarang."


"Oh Sh*it." Demetrio mengumpat pelan, jika mereka berangkat sekarang artinya dia tidak akan punya kesempatan untuk melihat Andrea. Padahal, dia ingin memastikan sekali lagi apakah wanita itu masih sama seperti kemarin atau hanya kebetulan saja dia mengerjainya.


"Kalian duluan saja, aku masih harus menyelesaikan sarapanku. Tidak enak bukan, Garilla sudah lelah menyiapkannya jika tidak di habiskan dia akan kecewa, bukan begitu Garilla," ujar Zigo berbohong.


"Sama sekali tidak Signore."


"Seret dia, kalau tidak kita akan terlambat."


"Malvin No! Sebentar Demetrio, sarapanku belum selesai."


"Kau bisa melanjutkannya di peswat."


"Sial! Harusnya dia mengangguk saja tanpa harus berkata apa-apa," batin Zigo mengumpat. Pria itu mendesah dan membiarkan Demetrio menyeretnya.


"Kalah lagi."