
Lou pulang setelah menginap dirumah Ibu selama dua malam. Karena tadi pagi ia mendapat pesan dari Helen bahwa mereka sudah berada di rumah. Saat Lou memasuki rumah, semuanya nampak sangat sibuk.
Beberapa pekerja rumahnya yang biasa datang pagi dan sore saja kini terlihat sangat sibuk menata makanan dan bersih-bersih. Lou ingin bertanya, tapi ia tidak akrab dengan siapapun.
"Cepat siap-siap, nanti mereka datang" Lou menoleh kearah Mamah yang berbicara padanya.
Wanita itu nampak sudah siap dengan dress birunya. Lou mengangguk saja sebagai sebuah jawaban, ia melangkah dengan malas menuju kamarnya.
"Jangan lupa pakai gaun."
Lou tetap melangkah meski ia mendengar dengan jelas ucapan Mamahnya. Lou menghentikan langkahnya di undukan tangga terakhir, dihadapannya berdiri Gravin sekarang.
Lelaki itu nampak menyeringai penuh kemenangan sekarang, yang sialnya Lou tidak tahu alasan lelaki itu bersikap seperti saat ini.
"Jangan lupa senyum hari ini" katanya.
Lou menggepalkan kedua tangannya, ia selalu benci mendengar suara lelaki itu. Entah wajah ataupun suara, Lou sangat membenci lelaki itu.
Tapi Lou punya sesuatu sebagai kejutan, ia menyeringai senang. Lou melanjutkan langkanya hingga Gravin mundur satu langkah.
Lou meletakkan telunjuknya pada dada Gravin, menggambar abstar disana "Gue punya kejutan buat lo" ia mengekurkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto disana "Gimana?" tanyanya.
Seringai senang Lou tunjukkan setelah melihat wajah pias Gravin. Ah, Lou sangat senang melihat ekspresi itu, rasanya ekspresi ini akan menjadi favoritnya sekarang.
"Jala*ng" maki Gravin dengan kedua tangan yang berada di bahu Lou, menekan kuat bahu gadis itu.
Lou tidak mengubah ekspresinya sedikit pun "Yaps, it's your mom."
"Gue bakal kasih tahu Papah."
Lou tersenyum lebar, ia melemparkan ponselnya kearah tangga. Tidak ada CCTV sekarang jadi Lou akan aman.
"Apa hukuman yang bakal lo dapat kalau gue jatuh dari sini" sialnya, Louqina Marcella adalah sosok yang sangat nekat saat bersama keluarganya.
"Lo gila!" Bentak Gravin. Ditariknya lengan Lou hingga menjauh dari sana.
Lou menyentak tangannya, tapi tenaga Gravin jelas lebih kuat darinya "Lo nyakitin gue!" teriaknya.
"Lo pantas dapat ini, lo jahat."
Lou menggeleng "Kalian yang jahat, kalian yang rebut semua dari gue. Lo sama Helen, andai kalian nggak ada. Gue nggak akan gini sekarang."
"Lou, gue nggak pernah sekalipun benci lo" Gravin berucap dengan suara rendah "Kenapa lo harus mulai lebih dulu, dan akhirnya lo juga yang menderita."
Lou menyentak tangannya, memasuki kamarnya lalu membanting pintu dengan kencang. Tak peduli dengan ponselnya yang tadi ia lempar, Lou sangat yakin ponsel itu hancur dibawah sana.
Harusnya ia cepat bersiap, karena sebentar lagi acara akan dimulai. Lou membuka lemarinya, dan berbagai macam warna dress disana menyapa matanya. Ia punya lebih dari puluhan dress, karena Lou sering ikut dalam acara formal. Karena hanya Lou yang bisa diekspos ke publik.
Pilihan Lou jatuh kepada dress berwarna putih dengan motif bunga dan daun. Ia membawa baju itu kedalam kamar mandi. Lou keluar dengan keadaan selesai mandi, mendudukan dirinya ke meja rias untuk bersiap.
Menatap pantulan wajahnya di dalam cermin, Lou menggepal erat. Menatap sosok didalam cermin dengan seringai tajam "Shut the Fu*ck up, *****."
......................
Semuanya telah berkumpul di meja makan, Lou melihat beberapa wajah asing di hadapannya saat ini. Ia berhadapan dengan seorang lelaki yang sepertinya masih seumuran dengannya.
"Sebaikanya kita makan terlebih dahulu, lalu melanjutkan dengan sesi mengobrol nanti."
Lou mengambil pisau dan garpu lalu memotong daging di piringnya dengan perasaan kesal. Layaknya sedang menyayat orang yang ia benci, Lou menyayat tidak berperasaan daging di piringnya. Tatapan tajamnya ia tunjukkan pada lelaki dihadapannya yang tengah melontarkan senyum kepadanya.
"Rencana yang sudah kita bhas sebelumnya lebih baik jika cepat dilaksanakan."
Lou menatap kedua orangtuanya secara bergantian, ini tidak mungkin seperti hal yang ada di benaknya saat ini kan. Lou tidak mungkin bisa menerima jika itu benar terjadi.
"Kurang lebih satu tahun mereka bakal tamat, bisa tunangan saat itu juga."
"Bagaimana dengan Lou, apa setuju dengan rencana pertunangan antara kamu dan Daren?."
Lou celingukan, semua orang menatapnya sekarang. Ia berdehem canggung lalu berucap "Saya nggak bisa menikah terlalu cepat karena harus membangun karir dengan baik terlebih dahulu. Dan ya, kalau kalian berencana-"
"Tapi gue bisa nunggu lo" ucapan Lou terpotong begitu saja.
Lou tersenyum "Boleh saya berbicara sebentar dengan anda, tuan Daren?."
.
Mereka berada di dekat kolam renang sekarang, Lou melipat kedua tangannya kedepan dada. Memicing curiga kepada sosok lelaki dihadapannya saat ini.
"Jangan harap lo bisa nikah sama gue" katanya dengan nada datar.
Antonio Daren Loxius, Lou kenal dengan lelaki satu ini. Lelaki yang beberapa tahun terakhir menjadi kandidat utama Mamahnya. Bukan sekali, mereka setidaknya sudah bertemu tiga kali dalam dua tahun terakhir untuk membicarakan hal yang sama.
Lou tidak ingin menerima Daren karena ia bahkan tidak percaya sedikitpun pada cinta, apalagi pernikahan. Ia bahkan menolak Alaska secara terang-terangan dengan alasan agar tidak merusak persahabatan mereka.
"Gue nggak tertarik sama lo, Louqina Marcella. Salahin orangtua kita yang punya kehendak" lelaki itu tersenyum sinis.
"Bukannya lo punya hak buat nolak?."
Daren melipat tangannya ke depan dada "Sayangnya kita sama, hak buat nolak kayaknya udah nggak ada."
"Gue nggak akan mau nikah sama lo" Lou menghentakkan langkahnya kasar, ia masuk begitu saja meninggalkan Daren.
Lou berlalu begitu saja melewati orangtuanya dan orangtua Daren, ia bergeges menuju pintu rumah. Lou keluar dari rumah, berjalan tak tentu arah. Ia tidak membawa ponsel, jika ia berada di rumah Ibu sudah pasti ia akan ditemukan besok pagi.
Lou berada di ujung komplek rumahnya dan menemukan seseorang disana. Seorang lelaki yang berdiri membelakanginya, tapi Lou tahu siapa itu.
"Aska" panggilnya.
Lelaki itu menoleh, benar saja itu adalah Alaska.
"Cella? Ngapain kesini?."
Lou mengerutkan keningnya "Bukannya harusnya gue yang tanya, kenapa lo disini?."
Alaska menunjuk sesuatu, Lou mengangguk paham. Ada lapangan basket di ujung komplek rumahnya, dan ia baru tahu sekarang. Apalagi dengan Alaska yang memakai jersey membuat semuanya semakin jelas.
"Mau kemana pakai pakaian serapi ini?."
Lou mendekat ke Alaska, menarik satu tangan lelaki itu untuk ia genggam "Bawa gue ke apartemen lo, gue nggak bisa disini sekarang" katanya.
"Lo kabur?."
"Gue nggak mau nikah Aska, bawa gue pergi" Lou menundukkan kepalanya "Atau gimana kalau lo aja yang nikah sama gue?."
......................