Endless

Endless
Chapter 91



"Tunjukan jarimu?"


Andrea terkekeh sekaligus mengerutkan kening. "Apa kau sedang mencoba menjadi pria yang romantis?"


Malvin menggeleng pelan. "Aku hanya sedang menghilangkan rasa kecewa kekasihku saja."


Andrea kembali mengerutkan keningnya, sibuk mengamati manik hitam itu sampai dia tidak sadar jika sesuatu yang berkilau telah melingkar manis di jemarinya. "Oh astaga!" Andrea memekik kaget saat melihat jari manisnya sudah melingkar cincin dengan batu berlian berwarna biru. "Kapan kau membelinya?" tanya Andrea dengan mata yang ikut berkilau, rona bahagia jelas terpancar di wajahnya.



"Itu adalah pemberian ibuku Andrea, dia memberikannya sebagai hadiah ulang tahunku. Dan itu adalah hari terakhir di mana aku bisa melihat senyumannya."


Wajah bahagia itu langsung memudar. "Lalu kenapa kau memberikannya untuk ku?"


"Karena memang seharusnya cincin itu ku pasangkan pada jari wanita yang aku cintai."


Andrea menoleh pada cincin yang ia kenakan. "Di umur berapa ibumu memberikannya?"


"20 tahun."


Wajah itu seketika terangkat. "Apa ini pernah di pakai oleh Arsula? Jika benar, artinya kau memberikan bekas orang lain untuk ku. No! Aku tidak ingin memakainya." Ia melapas cincin itu dari jarinya. Akan tetapi, Malvin dengan cepat menahan.


"Kau adalah orang pertama yang memakai cincin itu Andrea." Malvin mencium punggung tangan di mana dia memasangkan cincin berlian biru itu. "Demi Tuhan, kau yang pertama."


Andrea menatap Malvin dengan mata berkaca, air mata itu bahkan hampir jatuh jika saja dia mengedipkan mata. "Maafkan aku." Tangis itu pecah saat dia menghepaskan tubuh di pelukan Malvin. "Maafkan jika kata-kataku tadi sedikit kasar."


Malvin menggeleng keras, membiarkan wanita itu menenggelamkan wajah pada dadanya "Tidak Sayang, aku mohon jangan menangis. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan itu, aku tahu jika kata-kata itu akan ada jika aku memperlihatkan cincin itu," ujarnya memberi penjelasan.


Dengan lembut Malvin mengelus pada punggung kekasihnya. Dia tahu wanita di pelukannya ini sedang malu karena selalu mengira sesuatu yang salah. Namun, sudahlah! Dia memilih untuk berdamai dengan tingkah aneh kekasihnya di banding harus membahas untuk membuat keadaan semakin canggung.


"Terima kasih," ucapnya dengan suara yang masih terdengar seperti isakkan.


Malvin menatap dengan senyuman tipisnya. Wajah Andrea benar-benar lucu saat ini. Dia terus mengeluarkan air mata dan helaan pada hidung yang memerah membuatnya seperti sedang demam.


Malvin mendekatkan wajah sambil memyeringai. "Memikirkan tentang malam panjang yang bergairah."


Andrea mengerjabkan matanya. "Jangan macam-cama kau," ujarnya dengan gerakan menjauh.


Malvin mengabaikan ancaman Andrea, dia meraih pinggang kekasihnya, kembali merapatkan jarak yang di buat Andrea. Pria dengan manik hitam itu menatap bibir Andrea yang selalu membuatnya berfantasi nakal. Ia memberikan kecupan kecil di atas kening wanita itu sebelum ia mulai dengan yang lainnya.


"Aku sangat lelah, bolehkah aku tidur lebih dulu?" sela Andrea dengan cepat.


Dan Malvin tertawa karena itu. "Tentu saja Sayang."


"Baiklah. Selamat malam," ujar Andrea menurunkan kakinya dari tempat tidur. Ia hendak melangkah. Namun, Malvin segera menahannya. "Bukankah kau mengatakan akan tidur, lalu kenapa kau malah turun."


"Mulai malam ini aku akan tidur di kamar tamu," seru Andrea menegaskan.


"What?" Malvin menatap Andrea dengan gusar. "Memangnya ada apa dengan tempat tidurku, ini sangat nyaman, di bandingkan dengan yang ada di kamar tamu, tempat tudurku adalah kualitas terbaik Sayang."


"Aku tahu itu, kau adalah tuan rumah di sini. Mana mungkin mereka memberikan tempat tidur yang buruk padamu."


Malvin mengerutkan dahi. Tidak mengerti dengan adegan yang sedang Andrea mainkan. Saat sejenak dia mengerti dengan yang terjadi. Dia menarik tubuh Andrea hingga terjatuh di atasnya. "Apa kau takut?"


"A--apa maksudmu?"


"Ternyata benar! Kau takut aku akan melakukannya lagi bukan?"


Andrea menghela napasnya saat tangan jail Malvin mulai bermain di pinggangnya. "Hentikan itu Malvin." Mulut Andrea memang berkata jangan. Namun, wajahnya menunjukan jika dia sangat menikmati. Dan itu membuat jemari Malvin semakin ingin bermain. Dia kembali memainkan jemarinya menelusuri leher jenjang Andrea, membuat wanita itu harus menggigit bibirnya untuk menahan ******* yang hampir saja lolos.


"Malvin, aku mohon hentikan."


Malvin membalikkan posisi, membiarkan wanita itu di bawah, tatapan keduanya terkunci dan Malvin tersenyum di sana. "Tidurlah."


Mata Andrea membulat, ternyata ini hanya jebakkan. Malvin hanya mengerjainya. "Kau sangat menyebalkan" Wajahnya sudah merah padam karena malu. Ia kira Malvin akan melakukannya lagi. Nyatanya, pria itu hanya menakutinya saja.